Newestindonesia.co.id, Seorang remaja Palestina berusia 14 tahun tewas setelah ditembak tentara Israel di kawasan kamp pengungsi di Tepi Barat. Peristiwa tragis ini memicu sorotan karena korban disebut dibiarkan tergeletak selama puluhan menit tanpa pertolongan medis meskipun ambulans telah berada di dekat lokasi.
Kisah pilu tersebut dialami oleh Jad Jadallah, remaja yang lahir dan dibesarkan di kamp pengungsi al-Far’a di Tepi Barat. Ia ditembak oleh tentara Israel pada November 2025 dalam sebuah insiden yang kemudian terekam kamera CCTV dan video saksi mata.
Insiden ini menuai perhatian luas karena rekaman yang beredar menunjukkan korban terluka parah namun tidak segera mendapatkan pertolongan medis.
Ditembak dari Jarak Sangat Dekat
Dilansir melalui detikNews/BBC World, Rekaman CCTV menunjukkan momen ketika Jad dan dua temannya berada di sebuah sudut gang di kamp pengungsi tersebut. Menurut saksi, para remaja itu keluar setelah membaca pesan di grup bahwa unit militer Israel sedang meninggalkan kawasan tersebut.
Namun tanpa disadari, sekelompok tentara Israel ternyata telah menunggu di balik dinding yang hanya berjarak beberapa meter dari posisi mereka.
Dalam rekaman tersebut terlihat seorang tentara mengangkat senjata dan menembak Jad dari jarak kurang dari tiga meter.
Setelah tertembak, Jad berusaha berlari menjauh ke arah gang. Namun rekaman menunjukkan tentara Israel kembali menembak ke arah punggungnya saat ia berusaha melarikan diri.
Tak lama kemudian, Jad ambruk di jalan.
Dibiarkan Tergeletak Puluhan Menit
Setelah jatuh, Jad terlihat tergeletak dengan luka tembak serius. Video yang direkam seorang warga memperlihatkan sekitar 14 tentara Israel berada di sekitar korban.
Meski demikian, tidak terlihat upaya pertolongan medis terhadap remaja tersebut.
Dalam video tersebut, Jad beberapa kali mencoba menarik perhatian tentara dengan melambaikan tangan dan melemparkan topinya ke arah mereka. Namun tentara tampak mengabaikan upayanya.
Para tentara bahkan disebut berdiri santai di sekitar korban selama setidaknya 45 menit saat Jad terus kehilangan darah akibat luka tembaknya.
Padahal menurut laporan, tentara Israel mendapatkan pelatihan penanganan trauma dan setiap unit tempur memiliki petugas medis khusus.
Ambulans Palestina Dihalangi
Setelah kabar penembakan menyebar, seorang warga segera menghubungi layanan darurat. Ambulans Palestina tiba di lokasi sekitar delapan menit kemudian.
Namun paramedis tidak diizinkan mendekati korban.
Paramedis utama, Hassan Fouqha, mengatakan dua ambulans yang datang ke lokasi dihentikan oleh tentara Israel yang mengarahkan senjata kepada mereka.
“Kami mencoba maju beberapa kali, mencoba memberi isyarat kepada mereka untuk membiarkan kami mencapai anak itu, tapi kami benar-benar diblokir,” kata Fouqha.
“Kami bisa saja mencapai dia dan memberikan pertolongan medis, tapi kami dicegah. Kami tidak tahu apa tujuan mereka melakukan ini, tapi inilah yang terjadi.”
Paramedis mengatakan mereka hanya bisa menyaksikan dari kejauhan saat Jad terus mengeluarkan darah.
Versi Militer Israel
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan kepada BBC bahwa tentara telah memberikan “perawatan medis awal” setelah memastikan Jad tidak membawa bahan peledak tersembunyi.
Namun pihak militer tidak memberikan penjelasan detail mengenai jenis perawatan yang dimaksud atau kapan bantuan medis tersebut diberikan.
Militer Israel juga menuduh Jad melempar batu ke arah tentara.
Menurut aturan pertempuran yang diterapkan IDF, pelemparan batu dianggap sebagai ancaman yang dapat memicu penggunaan kekuatan mematikan.
Keluarga Bantah Tuduhan
Keluarga Jad membantah keras tuduhan tersebut.
Ibu Jad, Safa, menilai tentara Israel berusaha memfitnah putranya. Ia merujuk pada video yang menunjukkan seorang tentara menaruh benda di dekat tangan Jad setelah ia ditembak.
“Mereka meletakkan batu di samping tangannya untuk memfitnahnya dan membuat seolah-olah dia yang melempar batu ke arah mereka,” kata Safa.
“Kamu bisa melihatnya di video,” katanya. “Siapa pun yang menonton video itu akan melihatnya.”
Sorotan Kelompok HAM
Kelompok hak asasi manusia Israel, B’Tselem, turut menyoroti insiden tersebut.
Shai Parnes dari organisasi itu mengatakan rekaman video memang memperlihatkan seorang tentara meletakkan benda di samping tubuh Jad.
“Sulit untuk menentukan dengan pasti apa yang kita lihat apakah itu batu dan apakah mereka mencoba menuduhnya dengan itu,” kata Parnes.
“Tapi saya pikir siapa pun yang menontonnya dengan pikiran terbuka kemungkinan besar akan sampai pada kesimpulan itu.”
Ia menambahkan bahwa tindakan semacam itu akan menjadi pelanggaran serius jika benar terjadi.
Jenazah Belum Dikembalikan
Setelah insiden tersebut, tentara Israel membawa tubuh Jad dengan kendaraan militer.
Hingga kini jenazahnya belum dikembalikan kepada keluarga.
Militer Israel juga tidak memberikan penjelasan rinci mengenai luka yang dialami korban atau jumlah tembakan yang mengenai tubuhnya.
Menurut laporan, otoritas Israel saat ini menahan ratusan jenazah warga Palestina yang tewas dalam berbagai operasi militer.
Bagi keluarga Jad, penantian itu menjadi luka baru.
“Mungkin hanya untuk memancing emosi kami, untuk melelahkan kami, untuk membunuh kesabaran kami,” kata Safa.
“Tapi kami sabar, dan kami punya harapan, dan kami akan terus menunggu. Hari ini, besok, atau setelah seratus tahun, kami akan mendapatkannya kembali. Insya Allah, kami akan mendapatkannya kembali.”
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login