Newestindonesia.co.id – New York, Elon Musk kali ini mengamati industri yang sangat berbeda namun sama ambisiusnya dengan revolusi yang dia lakukan di sektor mobil listrik dan penerbangan ruang angkasa. Ia mengumumkan rencana untuk menempatkan data dan komputasi kecerdasan buatan (AI) di orbit Bumi dengan bantuan ribuan satelit bertenaga surya.
Musk menyatakan bahwa transfer pusat data ke ruang angkasa dapat membantu memenuhi kebutuhan komputasi AI yang terus meningkat tanpa menempatkan jaringan listrik dan infrastruktur di Bumi. Ini merupakan bagian dari upaya gabungan antara dua perusahaan besutannya, yaitu SpaceX dan xAI, yang kini bersiap melantai ke publik melalui penawaran saham perdana (IPO) besar-besaran.
“AI berbasis luar angkasa jelas merupakan satu-satunya cara untuk meningkatkan skala ,” tulis Musk di situs resmi SpaceX, seraya menambahkan tentang potensi energi surya di orbit, “ Di luar angkasa selalu cerah!,” dikutip melalui Associated Press (6/2).
Tantangan Teknis dan Lingkungan
Meskipun ide tersebut terdengar futuristik, banyak ahli teknologi dan ilmuwan yang skeptis terhadap kelayakan rencana Musk. Salah satu tantangan terbesar adalah persoalan pengelolaan panas .
Data center modern menghasilkan panas dalam jumlah besar, dan di ruang angkasa, meskipun suhu latar sangat dingin, kekosongan ruang justru dapat membuat panas terperangkap di dalam perangkat karena tidak ada udara untuk menyerapnya.
“Chip komputer yang tidak didinginkan di luar angkasa akan menjadi terlalu panas dan meleleh lebih cepat dibandingkan chip komputer di Bumi, ” kata Josep Jornet , profesor teknik komputer dan elektro di Northeastern University. Untuk mengatasinya, menurut Jornet diperlukan sistem radiator raksasa yang memancarkan panas ke ruang angkasa — teknologi yang belum pernah dibangun dalam skala seperti ini.
Isu Debu Antariksa dan Perawatan Perangkat
Masalah lain yang menjadi sorotan adalah risiko debu antariksa dan perawatan komponen. Dengan rencana menempatkan hingga jutaan satelit — jauh melebihi jumlah satelit Starlink saat ini — potensi tabrakan antarsatelit meningkat drastis.
“Kita bisa mencapai titik kritis di mana kemungkinan tabrakan akan menjadi terlalu besar” ujar John Crassidis , mantan insinyur NASA, menjelaskan risiko tabrakan dengan kecepatan tinggi yang dapat merusak infrastruktur orbit.
Sementara itu, perawatan dan penggantian komponen yang rusak juga menjadi tantangan serius.
“Di Bumi, yang akan Anda lakukan adalah mengirim seseorang ke pusat data… Anda mengganti server, Anda mengganti GPU” ujar Baiju Bhatt , CEO perusahaan energi surya ruang angkasa Aetherflux, menggambarkan kenyamanan yang hilang ketika pusat data berada di orbit.
Tanpa adanya tim teknisi yang bisa turun ke orbit, chip yang rusak harus diganti dengan perangkat cadangan yang dibawa sebelumnya — solusi yang mahal dan kompleks.
Persaingan Industri & Keunggulan Musk
Rencana Musk bukan satu-satunya upaya menuju pusat data orbit. Beberapa perusahaan lain juga sudah mengeksplorasi konsep serupa, meskipun dalam skala lebih kecil.
Namun Musk dinilai memiliki keunggulan strategi, yaitu kemampuan peluncuran roketnya sendiri melalui SpaceX. Hal ini memberi sinyal dan potensi biaya jauh lebih rendah daripada pesaing yang tidak memiliki kendaraan peluncur sendiri.
“ Ketika dia mengatakan kita akan menempatkan pusat data ini di luar angkasa, itu adalah cara untuk memberi tahu yang lain bahwa kita akan mempertahankan biaya peluncuran yang rendah ini untuk diri saya sendiri ,” ujar Pierre Lionnet , direktur riset di Eurospace, menggambarkan kekuatan Musk dalam persaingan ini.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login