Ketika Keguguran, Ini Hal Yang Harus Dilakukan Agar Ibu Tetap Aman

istockphoto-2261254784-612x612

Ibu hamil. Foto: iStock/Tanison Pachtanom

Harga Emas Hari Ini
Advertisement

Newestindonesia.co.id, Keguguran merupakan pengalaman yang tidak pernah diharapkan oleh setiap calon orang tua. Selain memberikan dampak emosional yang mendalam, kondisi ini juga membutuhkan penanganan medis yang tepat agar kesehatan ibu tetap terjaga.

Secara medis, keguguran adalah berhentinya kehamilan secara spontan sebelum usia kehamilan mencapai 20 minggu. Sebagian besar kasus terjadi pada trimester pertama dan umumnya disebabkan oleh kelainan kromosom pada janin yang membuat kehamilan tidak dapat berkembang secara normal.

Meski demikian, setiap wanita memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Ada yang hanya mengalami perdarahan ringan, sementara sebagian lainnya membutuhkan penanganan darurat di rumah sakit.

Lalu, apa yang harus dilakukan ketika mengalami keguguran?

Berikut panduan lengkap yang perlu diketahui.

Kenali Tanda-Tanda Keguguran

Gejala keguguran tidak selalu sama pada setiap ibu hamil. Namun, beberapa tanda yang paling sering muncul antara lain:

  • Perdarahan dari vagina, mulai dari bercak hingga sangat banyak.
  • Nyeri atau kram hebat di bagian bawah perut.
  • Nyeri punggung bawah.
  • Keluar gumpalan darah atau jaringan dari vagina.
  • Berkurangnya gejala kehamilan secara tiba-tiba.

Tidak semua perdarahan saat hamil berarti keguguran. Oleh karena itu, pemeriksaan dokter tetap diperlukan untuk memastikan kondisi kehamilan.

Jangan Panik, Segera Cari Pertolongan Medis

Ketika muncul gejala yang mengarah pada keguguran, langkah pertama adalah tetap tenang.

Segera hubungi dokter kandungan, bidan, atau datang ke fasilitas kesehatan terdekat. Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik, USG, dan pemeriksaan laboratorium bila diperlukan untuk memastikan kondisi rahim dan janin.

Apabila perdarahan sangat banyak hingga harus mengganti pembalut setiap jam, disertai pusing, lemas, pingsan, atau nyeri hebat, segera menuju Instalasi Gawat Darurat (IGD). Kondisi tersebut dapat menjadi tanda kegawatdaruratan medis yang membutuhkan penanganan segera.

Baca juga:  Karakter Zodiak Sagitarius Yang Harus Diketahui: Cocok Dengan Zodiak Apa Saja?

Catat Jumlah Perdarahan

Selama perjalanan menuju rumah sakit, usahakan menggunakan pembalut, bukan tampon.

Hal ini memudahkan tenaga kesehatan memperkirakan jumlah darah yang keluar.

Selain itu, jika terdapat jaringan yang keluar dari vagina, jangan dibuang terlebih dahulu. Simpan dalam wadah bersih apabila memungkinkan, karena dapat membantu dokter dalam melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Jangan Mengonsumsi Obat Sembarangan

Saat mengalami perdarahan dalam kehamilan, hindari membeli obat sendiri tanpa petunjuk dokter.

Termasuk obat penguat kandungan, antibiotik, hingga obat penghenti perdarahan.

Penggunaan obat yang tidak sesuai justru dapat memperburuk kondisi atau menunda penanganan yang seharusnya dilakukan di rumah sakit.

Apakah Semua Keguguran Harus Dikuret?

Jawabannya adalah tidak.

Banyak orang menganggap setiap keguguran pasti harus menjalani tindakan kuretase. Padahal, keputusan tersebut tergantung kondisi masing-masing pasien.

Apabila seluruh jaringan kehamilan telah keluar secara sempurna, dokter biasanya hanya melakukan observasi.

Namun bila masih terdapat sisa jaringan di dalam rahim, dokter dapat menyarankan beberapa pilihan, seperti:

  • menunggu jaringan keluar secara alami,
  • pemberian obat tertentu,
  • atau tindakan evakuasi jaringan (kuretase atau aspirasi vakum).

Pilihan terapi ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan USG, jumlah perdarahan, kondisi ibu, dan usia kehamilan.

Istirahat yang Cukup

Setelah keguguran, tubuh membutuhkan waktu untuk pulih.

Istirahat yang cukup membantu proses penyembuhan rahim sekaligus mengurangi risiko komplikasi.

Aktivitas berat sebaiknya dihindari selama beberapa hari atau sesuai anjuran dokter.

Perhatikan Pola Makan

Perdarahan akibat keguguran dapat menyebabkan tubuh kehilangan cukup banyak darah.

Karena itu, ibu dianjurkan mengonsumsi makanan bergizi seperti:

  • daging tanpa lemak,
  • ikan,
  • telur,
  • sayuran hijau,
  • kacang-kacangan,
  • buah-buahan,
  • makanan tinggi zat besi.

Dokter juga dapat memberikan suplemen zat besi apabila diperlukan.

Baca juga:  Cara Komunikasi Dengan Wanita Saat Sedang PDKT Agar Tidak Canggung

Minum air putih yang cukup juga penting untuk mencegah dehidrasi.

Jaga Kebersihan Area Kewanitaan

Selama masa pemulihan, risiko infeksi masih dapat terjadi.

Untuk itu:

  • gunakan pembalut dan ganti secara rutin,
  • hindari penggunaan tampon,
  • jangan melakukan vaginal douche,
  • hindari hubungan seksual hingga dokter menyatakan aman.

Langkah-langkah tersebut membantu menurunkan risiko infeksi pada rahim.

Perhatikan Kondisi Emosional

Keguguran bukan hanya memengaruhi kondisi fisik, tetapi juga kesehatan mental.

Rasa sedih, kehilangan, kecewa, marah, bahkan menyalahkan diri sendiri merupakan reaksi yang umum terjadi.

Banyak perempuan memerlukan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan untuk benar-benar pulih secara emosional.

Dukungan dari pasangan, keluarga, maupun teman sangat membantu dalam proses pemulihan.

Bila kesedihan berlangsung lama hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Pedoman nasional juga menekankan pentingnya dukungan psikososial setelah keguguran.

Kapan Harus Segera ke Rumah Sakit?

Segera cari pertolongan medis apabila mengalami:

  • perdarahan sangat banyak,
  • demam lebih dari 38 derajat Celsius,
  • keluar cairan atau keputihan berbau tidak sedap,
  • nyeri hebat yang tidak membaik,
  • menggigil,
  • pusing hingga hampir pingsan.

Gejala tersebut dapat menjadi tanda infeksi atau masih adanya jaringan yang tertinggal di dalam rahim sehingga memerlukan penanganan segera.

Kapan Bisa Hamil Lagi?

Pertanyaan ini sering muncul setelah seseorang mengalami keguguran.

Secara medis, ovulasi dapat kembali terjadi hanya dalam waktu sekitar 8 hari setelah keguguran pada sebagian perempuan, sehingga kehamilan kembali dapat terjadi dalam waktu relatif singkat. Namun, waktu terbaik untuk merencanakan kehamilan berikutnya perlu disesuaikan dengan kondisi fisik, penyebab keguguran, dan kesiapan emosional pasangan.

Dokter biasanya akan menyarankan kontrol setelah rahim dinyatakan pulih dan perdarahan telah berhenti.

Baca juga:  3 Tips Pemilihan Pangan Program MBG Untuk Cegah Keracunan

Bisakah Keguguran Dicegah?

Tidak semua keguguran dapat dicegah, terutama yang disebabkan oleh kelainan kromosom.

Namun, risiko dapat dikurangi dengan menjalani gaya hidup sehat, antara lain:

  • berhenti merokok,
  • menghindari alkohol,
  • menjaga berat badan ideal,
  • mengontrol penyakit kronis seperti diabetes dan gangguan tiroid,
  • mengonsumsi asam folat sebelum dan selama awal kehamilan,
  • melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin.

Pemeriksaan antenatal secara teratur membantu mendeteksi faktor risiko sedini mungkin sehingga komplikasi dapat diminimalkan.

Kesimpulan

Mengalami keguguran merupakan peristiwa yang berat, baik secara fisik maupun emosional. Penanganan yang cepat dan tepat sangat penting untuk menjaga keselamatan ibu sekaligus mencegah komplikasi.

Jika muncul perdarahan saat hamil, jangan menganggapnya sebagai kondisi biasa. Segera lakukan pemeriksaan ke dokter untuk memastikan penyebabnya. Setelah keguguran, fokuslah pada pemulihan fisik melalui istirahat yang cukup, pola makan bergizi, menjaga kebersihan area kewanitaan, serta mengikuti seluruh anjuran tenaga kesehatan.

Yang tidak kalah penting, berikan ruang bagi diri sendiri untuk berduka. Dengan dukungan keluarga, pasangan, dan tenaga medis, sebagian besar perempuan dapat pulih dengan baik dan memiliki peluang menjalani kehamilan sehat di masa mendatang.

(DAW)

Berita Hukum Dan Kriminal
Advertisement