Memasuki Umur 40+, Ini Alasan Anda Sebaiknya Tidak Lagi Berlebihan Mengonsumsi Gula

istockphoto-831593754-612x612

Usia 40+ sebaiknya mengurangi konsumsi gula. Foto: iStock/gruizza

Harga Emas Hari Ini
Advertisement

Newestindonesia.co.id, Memasuki usia 40 tahun, banyak orang mulai menyadari bahwa tubuh tidak lagi bekerja seefisien saat masih berusia 20 atau 30 tahun. Berat badan lebih mudah naik, kadar kolesterol meningkat, tekanan darah mulai berubah, dan hasil pemeriksaan gula darah sering kali mulai menunjukkan angka yang mengkhawatirkan.

Salah satu penyebab yang sering luput dari perhatian adalah konsumsi gula yang berlebihan. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa membatasi gula tambahan merupakan salah satu langkah paling efektif untuk menjaga kesehatan seiring bertambahnya usia.

Bukan berarti seseorang harus berhenti mengonsumsi gula sama sekali. Yang perlu dikurangi adalah gula tambahan atau added sugar yang banyak terdapat dalam minuman kemasan, makanan penutup, kue, camilan manis, hingga berbagai makanan olahan.

Lantas, mengapa setelah usia 40 tahun seseorang dianjurkan mulai lebih ketat mengontrol asupan gula?

Metabolisme Mulai Melambat

Seiring bertambahnya usia, laju metabolisme tubuh secara alami mengalami penurunan. Artinya, tubuh membutuhkan kalori lebih sedikit dibandingkan saat masih muda.

Jika pola makan tetap sama sementara aktivitas fisik berkurang, kelebihan kalori akan lebih mudah disimpan menjadi lemak.

Gula merupakan salah satu sumber kalori yang paling mudah dikonsumsi secara berlebihan karena banyak tersembunyi dalam makanan dan minuman sehari-hari. Akibatnya, berat badan meningkat tanpa disadari.

Kenaikan berat badan inilah yang kemudian menjadi pintu masuk berbagai penyakit metabolik seperti diabetes tipe 2, hipertensi, hingga penyakit jantung.

Risiko Diabetes Tipe 2 Meningkat

Usia di atas 40 tahun merupakan salah satu faktor risiko berkembangnya diabetes tipe 2.

Pada usia ini, sensitivitas tubuh terhadap insulin mulai menurun. Akibatnya, gula darah lebih sulit dikendalikan.

Apabila konsumsi gula tetap tinggi setiap hari, pankreas dipaksa bekerja lebih keras memproduksi insulin. Dalam jangka panjang kondisi tersebut dapat menyebabkan resistensi insulin yang menjadi awal munculnya diabetes tipe 2.

Diabetes bukan hanya meningkatkan kadar gula darah, tetapi juga dapat merusak ginjal, mata, saraf, hingga pembuluh darah jika tidak dikendalikan.

Baca juga:  Kisah Haru Rana, Bayi Viral yang Berjuang Melawan Penyakit Langka Craniosynostosis

Karena itu, mengurangi gula menjadi salah satu langkah pencegahan yang paling sederhana namun efektif.

Berat Badan Lebih Sulit Turun

Banyak orang mengeluhkan bahwa setelah memasuki usia 40 tahun, berat badan jauh lebih sulit diturunkan dibandingkan sebelumnya.

Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, mulai dari menurunnya massa otot, perubahan hormon, hingga metabolisme yang lebih lambat.

Mengonsumsi makanan tinggi gula memperparah kondisi tersebut karena gula memberikan kalori tinggi tetapi tidak membuat kenyang dalam waktu lama.

Akibatnya seseorang cenderung makan lebih banyak sepanjang hari.

Terutama minuman manis seperti soda, teh kemasan, kopi kekinian, atau minuman berpemanis lainnya yang menyumbang kalori besar tanpa memberikan rasa kenyang.

Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung

Banyak orang mengira gula hanya berhubungan dengan diabetes.

Padahal, konsumsi gula berlebih juga berkaitan erat dengan kesehatan jantung.

Terlalu banyak gula tambahan dapat meningkatkan tekanan darah, memicu peradangan kronis, meningkatkan kadar trigliserida, serta menyebabkan penumpukan lemak di hati.

Semua kondisi tersebut merupakan faktor risiko utama penyakit jantung dan stroke.

Karena penyakit kardiovaskular menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada kelompok usia dewasa dan lanjut usia, mengurangi gula menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesehatan jantung.

Mempercepat Penumpukan Lemak di Perut

Lemak di area perut atau lemak visceral lebih mudah menumpuk setelah usia 40 tahun.

Jenis lemak ini bukan sekadar mengganggu penampilan, tetapi juga aktif secara metabolik sehingga meningkatkan risiko diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan gangguan metabolisme lainnya.

Konsumsi gula yang tinggi, terutama dari minuman berpemanis, diketahui berkontribusi terhadap pembentukan lemak visceral.

Semakin besar lingkar perut seseorang, semakin tinggi pula risiko berbagai penyakit kronis.

Membuat Tubuh Lebih Mudah Mengalami Peradangan

Peradangan kronis tingkat rendah merupakan salah satu penyebab berbagai penyakit degeneratif.

Asupan gula yang berlebihan diketahui dapat meningkatkan proses inflamasi dalam tubuh.

Peradangan kronis berhubungan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung, diabetes, gangguan sendi, hingga penurunan fungsi otak.

Baca juga:  Facial Membuat Wajah Bopeng, Mitos Atau Fakta?

Karena itu, mengurangi gula bukan hanya membantu menjaga berat badan, tetapi juga membantu mengurangi beban peradangan dalam tubuh.

Dapat Mempercepat Proses Penuaan

Tidak sedikit penelitian yang mengaitkan konsumsi gula berlebih dengan percepatan proses penuaan biologis.

Kadar gula yang tinggi dalam darah dapat memicu pembentukan advanced glycation end products (AGEs), yaitu senyawa yang merusak kolagen dan elastin.

Kolagen berfungsi menjaga kulit tetap kenyal dan elastis.

Ketika kolagen rusak, kulit lebih cepat mengalami keriput, kehilangan elastisitas, dan tampak lebih tua.

Selain memengaruhi kulit, proses tersebut juga berdampak terhadap kesehatan pembuluh darah dan berbagai organ tubuh.

Fungsi Otak Ikut Terpengaruh

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pola makan tinggi gula dalam jangka panjang dapat berdampak terhadap fungsi otak.

Konsumsi gula berlebih berkaitan dengan meningkatnya risiko penurunan daya ingat, gangguan konsentrasi, hingga penurunan fungsi kognitif seiring bertambahnya usia.

Meski hubungan ini masih terus diteliti, para ahli sepakat bahwa pola makan sehat dengan membatasi gula memberikan manfaat bagi kesehatan otak.

Gula Banyak Tersembunyi di Makanan Sehari-hari

Masalahnya, gula tidak hanya berasal dari permen atau minuman bersoda.

Banyak makanan yang dianggap sehat ternyata mengandung gula tambahan cukup tinggi, seperti:

  • Yogurt berperisa
  • Sereal sarapan
  • Roti kemasan
  • Saus tomat
  • Saus sambal
  • Minuman kopi siap minum
  • Minuman teh dalam kemasan
  • Minuman energi
  • Granola
  • Biskuit
  • Kue
  • Es krim

Karena itu, membaca label kandungan gizi menjadi kebiasaan penting, terutama setelah memasuki usia 40 tahun.

Berapa Batas Konsumsi Gula yang Dianjurkan?

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan agar konsumsi gula bebas (free sugar) dibatasi kurang dari 10 persen dari total kebutuhan energi harian.

WHO bahkan menyebut bahwa membatasi hingga sekitar 25 gram atau sekitar enam sendok teh gula per hari akan memberikan manfaat kesehatan yang lebih besar.

Yang dimaksud gula bebas adalah gula yang ditambahkan ke makanan atau minuman, termasuk gula dalam sirup, madu, serta jus buah.

Baca juga:  Ciri-Ciri Kanker Nasofaring: Gejala Awal Dan Hal Yang Harus Dihindari

Sedangkan gula alami yang terdapat dalam buah utuh dan susu tidak termasuk dalam kategori tersebut.

Cara Mudah Mengurangi Gula Setelah Usia 40 Tahun

Mengurangi gula tidak harus dilakukan secara ekstrem. Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten justru lebih mudah dipertahankan.

Beberapa cara yang bisa diterapkan antara lain:

  • Mengurangi konsumsi minuman manis.
  • Memilih air putih sebagai minuman utama.
  • Mengurangi penggunaan gula pada kopi atau teh secara bertahap.
  • Memperbanyak konsumsi buah utuh dibandingkan jus.
  • Membaca label “added sugar” pada makanan kemasan.
  • Mengurangi camilan manis dan menggantinya dengan kacang atau buah.
  • Memperbanyak makanan tinggi serat agar rasa kenyang bertahan lebih lama.
  • Rutin berolahraga minimal 150 menit per minggu.
  • Menjaga berat badan tetap ideal.

Perubahan sederhana tersebut dapat membantu mengontrol kadar gula darah sekaligus mengurangi risiko penyakit kronis.

Kesimpulan

Memasuki usia 40 tahun merupakan waktu yang tepat untuk mulai lebih memperhatikan pola makan, terutama konsumsi gula tambahan.

Perubahan metabolisme, meningkatnya risiko resistensi insulin, serta bertambahnya kemungkinan terkena penyakit jantung, diabetes, dan obesitas membuat tubuh tidak lagi mampu mentoleransi pola makan tinggi gula seperti saat masih muda.

Mengurangi gula bukan berarti menghilangkan seluruh makanan manis dari kehidupan sehari-hari. Yang terpenting adalah membatasi gula tambahan, memilih makanan utuh yang lebih alami, serta menerapkan pola hidup sehat secara konsisten.

Dengan langkah sederhana tersebut, kualitas hidup di usia 40 tahun ke atas dapat tetap terjaga, sekaligus menurunkan risiko berbagai penyakit kronis yang sering muncul seiring bertambahnya usia.

(DAW)

Berita Hukum Dan Kriminal
Advertisement