Alasan Anak Selalu Berlari Menyambut Orang Tua Pulang Kerja, Ternyata Ada Penjelasan Ilmiahnya

istockphoto-1185347539-612x612

Potret anak bersama kedua orang tuanya. Foto: iStock/Nattakorn Maneerat

Harga Emas Hari Ini
Advertisement

Newestindonesia.co.id, Momen ketika seorang ayah atau ibu baru saja membuka pintu rumah setelah seharian bekerja sering kali diwarnai pemandangan yang menghangatkan hati. Anak-anak berlari, tersenyum lebar, memeluk orang tuanya, bahkan terkadang melompat-lompat karena begitu gembira.

Bagi sebagian orang dewasa, respons tersebut terlihat sederhana, hanya sebagai ungkapan rindu. Namun, di balik pelukan hangat itu, terdapat proses psikologis yang sangat penting bagi perkembangan emosional seorang anak.

Para ahli psikologi perkembangan menjelaskan bahwa kegembiraan anak saat orang tuanya pulang merupakan tanda adanya hubungan emosional yang sehat atau dikenal sebagai secure attachment (kelekatan yang aman). Hubungan inilah yang menjadi fondasi penting bagi tumbuh kembang anak hingga dewasa.

Anak Melihat Orang Tua Sebagai Tempat Paling Aman

Sejak lahir, anak belajar mengenali suara, aroma, sentuhan, hingga ekspresi wajah orang tuanya. Semua pengalaman tersebut membentuk rasa percaya bahwa ayah dan ibu adalah tempat paling aman ketika ia merasa takut, lelah, sedih, maupun bahagia.

Dalam teori Attachment Theory yang dikembangkan psikolog John Bowlby dan kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Mary Ainsworth, hubungan emosional yang konsisten antara anak dan pengasuh utama menjadi dasar munculnya rasa aman sepanjang hidup.

Karena itu, ketika ayah atau ibu pulang ke rumah, otak anak memproses kehadiran mereka sebagai kembalinya “zona aman”. Hal tersebut memunculkan perasaan lega sekaligus bahagia.

Rasa Rindu yang Belum Bisa Diungkapkan dengan Kata-kata

Anak usia balita maupun prasekolah belum mampu menjelaskan emosinya seperti orang dewasa.

Mereka mungkin belum bisa mengatakan, “Aku sangat merindukan Ayah.”

Sebagai gantinya, mereka menunjukkan perasaan tersebut melalui tindakan, misalnya:

  • Berlari menyambut.
  • Memeluk erat.
  • Tertawa tanpa henti.
  • Menarik tangan orang tua untuk bermain.
  • Tidak ingin berpisah lagi.

Bentuk ekspresi tersebut merupakan bahasa emosional alami anak.

Semakin dekat hubungan anak dengan orang tua, biasanya semakin besar pula antusiasme yang diperlihatkan ketika bertemu kembali setelah berpisah beberapa jam.

Baca juga:  Arti Bahasa Gaul ‘Crush’: Seseorang Yang Kita Suka Atau Ditaksir

Kehadiran Orang Tua Membuat Anak Merasa Lengkap

Rutinitas bekerja membuat sebagian besar ayah dan ibu harus meninggalkan rumah selama beberapa jam setiap hari.

Walaupun anak tetap bersama pengasuh, kakek-nenek, atau guru di sekolah, mereka tetap menyadari bahwa figur utama dalam hidupnya sedang tidak berada di dekat mereka.

Saat orang tua kembali, anak merasa struktur dunianya kembali lengkap.

Perasaan inilah yang memicu kebahagiaan besar.

Penelitian mengenai attachment menunjukkan bahwa anak dengan kelekatan yang aman cenderung merasa tenang ketika orang tua kembali setelah berpisah sementara, sekaligus lebih percaya diri untuk mengeksplorasi lingkungan karena memiliki “secure base” yang bisa kembali mereka datangi kapan saja.

Otak Anak Menghubungkan Orang Tua dengan Pengalaman Menyenangkan

Banyak pengalaman positif anak terjadi bersama ayah dan ibu.

Misalnya:

  • bermain bersama;
  • dibacakan cerita;
  • dipeluk sebelum tidur;
  • diajak berjalan-jalan;
  • diberi perhatian;
  • diajak bercanda.

Otak anak menyimpan seluruh pengalaman positif tersebut.

Akibatnya, ketika melihat orang tua baru pulang, otak secara otomatis mengaktifkan memori menyenangkan yang pernah dialami sebelumnya.

Hal inilah yang membuat ekspresi bahagia muncul secara spontan.

Anak Merasa Dicintai dan Diperhatikan

Bukan hadiah mahal yang paling diingat anak.

Yang lebih membekas justru perhatian sederhana seperti:

  • menanyakan kabarnya;
  • mendengarkan ceritanya;
  • memeluknya;
  • tersenyum ketika bertemu.

Psikologi modern menunjukkan bahwa hubungan emosional yang hangat memiliki pengaruh lebih besar terhadap perkembangan mental dibandingkan pemberian materi semata.

Karena itu, beberapa menit pertama setelah pulang kerja sering disebut sebagai salah satu momen paling penting untuk membangun hubungan orang tua dan anak.

Anak Ingin Berbagi Cerita

Setelah seharian di sekolah atau bermain di rumah, anak biasanya memiliki banyak pengalaman baru.

Baca juga:  Kenapa Orang Stres Seperti Orang Bingung Dan Tidak Betah Di Rumah?

Mereka ingin menceritakan:

  • nilai yang didapat;
  • gambar yang dibuat;
  • teman baru;
  • mainan yang ditemukan;
  • kejadian lucu.

Ketika orang tua datang, anak merasa akhirnya ada orang yang paling ingin mendengarkan kisah tersebut.

Inilah sebabnya mengapa banyak anak langsung berbicara tanpa henti sesaat setelah ayah atau ibunya sampai di rumah.

Kehadiran Ayah Memiliki Dampak Tersendiri

Banyak penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah memberikan manfaat besar terhadap perkembangan anak.

Ayah sering kali menghadirkan gaya bermain yang berbeda dibandingkan ibu.

Permainan yang lebih aktif, tantangan fisik, serta interaksi yang penuh canda membantu anak belajar percaya diri, mengendalikan emosi, sekaligus meningkatkan kemampuan sosial.

Karena itu, tidak sedikit anak yang langsung berlari menuju pintu ketika mendengar suara kendaraan ayah memasuki halaman rumah.

Begitu Juga Kehadiran Ibu

Bagi banyak anak, ibu merupakan sosok yang paling sering memenuhi kebutuhan sehari-hari sejak bayi.

Mulai dari menyusui, memandikan, menenangkan ketika menangis, hingga menemani tidur.

Hubungan yang terbentuk sejak awal kehidupan tersebut membuat banyak anak memiliki ikatan emosional yang sangat kuat dengan ibunya.

Tak heran jika anak juga menunjukkan kegembiraan luar biasa ketika sang ibu pulang bekerja.

Mengapa Ada Anak yang Tidak Menunjukkan Antusias?

Tidak semua anak langsung berlari menyambut orang tua.

Ada beberapa kemungkinan penyebabnya, antara lain:

  • sedang asyik bermain;
  • kelelahan;
  • mengantuk;
  • memiliki temperamen yang lebih pendiam;
  • sedang kesal karena suatu hal.

Hal tersebut tidak selalu berarti hubungan anak dan orang tua bermasalah.

Psikolog menekankan bahwa setiap anak memiliki cara berbeda dalam mengekspresikan kasih sayang.

Yang lebih penting adalah konsistensi perhatian, komunikasi, dan kehangatan yang diberikan setiap hari.

Momen Pulang Kerja Sangat Berharga

Psikologi perkembangan menyebut waktu setelah anak dan orang tua bertemu kembali sebagai salah satu momen emosional penting dalam keseharian. Respons yang hangat ketika bertemu membantu anak merasa dihargai, aman, dan lebih mudah membuka diri.

Baca juga:  Benarkah Barang Rusak Di Rumah Membuat Rezeki Seret? Simak Fakta Dan Mitosnya

Karena itu, para orang tua disarankan untuk tidak langsung sibuk dengan telepon genggam atau pekerjaan ketika baru sampai di rumah.

Luangkan waktu sekitar 10–15 menit pertama hanya untuk anak.

Beberapa hal sederhana yang dapat dilakukan antara lain:

  • memeluk anak;
  • menatap matanya ketika berbicara;
  • menanyakan bagaimana harinya;
  • mendengarkan cerita tanpa menyela;
  • bermain sebentar;
  • memberikan senyuman hangat.

Interaksi singkat seperti ini dapat memperkuat hubungan emosional dalam jangka panjang.

Kebahagiaan yang Menjadi Investasi Masa Depan

Kegembiraan anak ketika menyambut ayah dan ibunya pulang bukanlah kebiasaan yang muncul tanpa alasan.

Di balik pelukan hangat tersebut tersimpan kebutuhan dasar manusia untuk merasa aman, dicintai, dan memiliki tempat kembali.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak yang memiliki hubungan emosional yang hangat dengan orang tuanya cenderung lebih mudah mengelola emosi, memiliki rasa percaya diri yang lebih baik, membangun hubungan sosial yang sehat, serta lebih tangguh menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.

Pada akhirnya, momen sederhana ketika seorang anak berlari menyambut ayah dan ibunya di depan pintu rumah bukan sekadar adegan yang mengharukan. Itu adalah tanda bahwa hubungan emosional dalam keluarga sedang tumbuh dengan baik.

Pelukan kecil yang terjadi setiap sore mungkin hanya berlangsung beberapa detik, tetapi dampaknya dapat bertahan sepanjang hidup seorang anak.

(DAW)

Berita Hukum Dan Kriminal
Advertisement