Menteri Bahlil Targetkan Penyaluran B50 Capai 100 Persen Setelah 30 September 2026
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberi keterangan setelah peluncuran Program Mandatori Biodiesel B50 di Rest Area KM 57, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). (ANTARA/Putu Indah Savitri)
Newestindonesia.co.id, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa sebanyak 57,6 persen Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di seluruh Indonesia saat ini sudah menyalurkan bahan bakar minyak (BBM) jenis biodiesel B50.
Hal tersebut dipaparkan Bahlil saat menghadiri peluncuran Program Mandatori Biodiesel B50 yang berlokasi di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026).
“Sekarang ini sudah dipakai 57 persen dari total solar yang sudah jalan,” ujar Bahlil dalam keterangannya kepada media setelah peluncuran program tersebut seperti dikutip melalui Antara.
Masa Transisi Berlaku hingga September 2026
Implementasi kebijakan ini didasarkan pada Keputusan Menteri ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026 tentang Kewajiban Pencampuran Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel dengan Bahan Bakar Minyak Solar Sebesar 50 persen. Di dalam aturan tersebut, pemerintah mencantumkan adanya masa transisi bagi badan usaha BBM yang masih memiliki persediaan bahan bakar nabati (BBN) jenis biodiesel campuran 40 persen atau B40.
Badan usaha yang masih mengantongi sisa persediaan B40 diberikan kesempatan untuk menyalurkan sisa pasokan tersebut sampai dengan tanggal 30 September 2026, dengan catatan harus tetap sesuai standar dan spesifikasi yang ditetapkan pemerintah.
Dengan adanya batas waktu transisi tersebut, pemerintah membidik penyaluran B50 bisa mencapai angka 100 persen di seluruh penjuru tanah air pasca-September.
“Nanti setelah transisi, semuanya sudah pakai B50,” tegas Bahlil menambahkan.
Detail Sebaran SPBU dan Terminal BBM Pasokan B50
Berdasarkan data resmi yang dipaparkan oleh Kementerian ESDM, tercatat sudah ada 3.696 SPBU biosolar yang aktif menyalurkan B50. Di sisi lain, dari total 6.412 SPBU biosolar di Indonesia, masih ada 2.716 SPBU yang berada dalam tahap menghabiskan sisa pasokan B40.
Dari sektor hulu distribusi, 44 terminal BBM milik Pertamina dari total 121 terminal BBM yang ada saat ini telah mendistribusikan Biodiesel 50 (B50) dalam bentuk Biosolar. Cakupan distribusi ini meliputi seluruh fasilitas depot, terminal transit, hingga sistem transfer ship to ship di seluruh wilayah Indonesia.
Jika dibedah secara geografis per wilayah, tingkat kesiapan dan penyaluran B50 menunjukkan angka yang bervariasi:
- Jawa Bagian Barat: Menjadi wilayah dengan penyaluran tertinggi, di mana 7 dari 7 terminal BBM (100 persen) telah memfasilitasi penyaluran B50 untuk 942 dari 980 SPBU (96,1 persen).
- Jawa Bagian Tengah: Menempati peringkat kedua dengan kesiapan 6 dari 6 terminal BBM (100 persen) yang memasok B50 ke 860 dari 904 SPBU (95,1 persen).
- Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara: Didukung oleh 11 dari 19 terminal BBM (58 persen) yang menyalurkan B50 untuk 933 dari 1.272 SPBU (73,3 persen).
- Sumatera Bagian Utara: Penyaluran menyentuh 625 SPBU dari total 982 SPBU (63,6 persen) dengan melibatkan 9 dari 19 terminal BBM (47 persen).
- Sumatera Bagian Selatan: Tercatat baru 3 dari 11 terminal BBM (27 persen) yang menyalurkan B50 ke 64 dari total 582 SPBU (11 persen).
- Kalimantan: Baru melibatkan 4 dari 21 terminal BBM (19 persen) untuk memfasilitasi penyaluran B50 di 18 dari 609 SPBU (3 persen).
Sementara itu, untuk wilayah Papua dan Maluku yang memiliki instrumen distribusi berupa 21 terminal BBM dan 399 SPBU, tercatat sama sekali belum memulai penyaluran BBM jenis B50 ini.
(DAW)
