Newestindonesia.co.id, Komisi I DPR RI meminta pemerintah memperkuat diplomasi energi menyusul langkah Amerika Serikat (AS) yang melakukan blokade di Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi dunia.
Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono menilai tindakan tersebut berpotensi memicu eskalasi konflik yang lebih luas serta mengganggu stabilitas energi global.
“Selat Hormuz adalah jalur vital perdagangan energi dunia, dan sebagaimana ditegaskan oleh PBB, tidak ada satu negara pun yang memiliki legitimasi untuk menutup akses jalur internasional tersebut,” kata Dave kepada wartawan, Rabu (15/4/2026) dikutip melalui detikNews.
Menurut Dave, dampak dari blokade tersebut tidak hanya terbatas pada kawasan Timur Tengah, melainkan dapat dirasakan secara global, termasuk oleh Indonesia.
“Lonjakan harga minyak yang terjadi saat ini adalah indikasi nyata bahwa setiap gangguan di Selat Hormuz akan segera dirasakan oleh seluruh negara, termasuk Indonesia,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Indonesia perlu mengambil langkah strategis melalui penguatan diplomasi multilateral, terutama lewat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan forum internasional lainnya. Hal ini dinilai penting untuk menjaga prinsip kebebasan navigasi di jalur internasional tersebut.
“Pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipatif di sektor energi, baik melalui diversifikasi sumber pasokan maupun percepatan transisi energi domestik, sehingga ketergantungan terhadap dinamika geopolitik dapat diminimalkan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Dave menyatakan optimisme bahwa Indonesia mampu menghadapi tekanan global jika didukung oleh kebijakan yang tepat dan kerja sama internasional yang kuat.
“Komisi I DPR RI optimis bahwa dengan diplomasi yang aktif, kerja sama internasional yang solid, serta kebijakan energi nasional yang adaptif, Indonesia mampu menjaga stabilitas ekonomi dan memastikan kepentingan rakyat tetap terlindungi,” imbuh dia.
Latar Belakang Blokade
Diketahui, militer Amerika Serikat mulai memberlakukan blokade terhadap kapal dari berbagai negara yang menuju atau meninggalkan pelabuhan Iran di kawasan Teluk Persia dan Teluk Oman.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa langkah tersebut bertujuan untuk menekan Iran agar membuka kembali Selat Hormuz. Jalur ini diketahui menjadi salah satu titik paling strategis dalam distribusi energi global, dengan sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia melintas di kawasan tersebut.
Kebijakan ini diambil setelah upaya perundingan antara Washington dan Teheran tidak mencapai kesepakatan, sehingga meningkatkan ketegangan geopolitik di kawasan.
Ancaman bagi Indonesia
Situasi di Selat Hormuz dinilai memiliki dampak langsung terhadap Indonesia, terutama dalam hal stabilitas pasokan energi dan harga minyak.
Ketergantungan terhadap jalur distribusi global membuat gangguan di kawasan tersebut berpotensi memicu kenaikan harga energi domestik serta tekanan terhadap perekonomian nasional.
Karena itu, DPR menekankan pentingnya langkah antisipatif yang tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga strategi jangka panjang melalui diversifikasi energi dan percepatan transisi ke sumber energi alternatif.
Fokus pada Diplomasi dan Ketahanan Energi
Komisi I DPR menilai diplomasi menjadi kunci utama dalam menghadapi dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.
Upaya memperkuat posisi Indonesia di forum internasional, menjaga hubungan bilateral, serta membangun kerja sama multilateral dinilai penting untuk memastikan kepentingan nasional tetap terlindungi di tengah krisis global.
Selain itu, kebijakan energi nasional yang adaptif juga diperlukan agar Indonesia tidak terlalu rentan terhadap gejolak eksternal.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login