Hugo Boss Tolak Penawaran Akuisisi Frasers Group Senilai Rp35 Triliun, Sebut Angka Terlalu Murah

Hugo Boss

Hugo Boss. Foto: Dok. Vogue Business

Harga Emas Hari Ini
Advertisement

Newestindonesia.co.id, Merek fesyen premium ternama asal Jerman, Hugo Boss, pada hari Kamis (9/7/2026) secara resmi merekomendasikan dan mendesak para pemegang sahamnya untuk menolak tawaran pengambilalihan sukarela (voluntary takeover offer) yang diajukan oleh perusahaan ritel raksasa asal Inggris, Frasers Group. Manajemen Hugo Boss menilai bahwa harga penawaran sebesar €38 atau sekitar Rp665.000 per lembar saham—dengan nilai total mencapai €2 miliar atau setara Rp35 triliun—tidak memadai dari segi finansial.

Dalam sebuah pernyataan resmi, dewan manajemen dan dewan pengawas Hugo Boss yang merilis sikap bulat mereka menyatakan bahwa tawaran tunai tersebut hanya memberikan premi sebesar 4,3% dari harga saham saat pertama kali diumumkan. Angka ini dinilai lebih mencerminkan batas harga minimum yang diwajibkan secara hukum bagi Frasers untuk menaikkan kepemilikannya, ketimbang mencerminkan nilai intrinsik atau potensi pertumbuhan riil perusahaan.

CEO Hugo Boss, Daniel Grieder, menegaskan posisi kuat perusahaan dalam menghadapi manuver akuisisi ini.

“Hugo Boss memiliki strategi yang terdefinisi dengan baik, profil keuangan yang kuat, serta jalur yang meyakinkan menuju penciptaan nilai jangka panjang yang unggul,” ujar Grieder dalam pernyataan resminya seperti dikutip melalui laporan Reuters, Kamis (9/7/2026).

“Kami fokus untuk memperkuat merek kami lebih jauh, meningkatkan profitabilitas secara struktural, dan mempercepat pembentukan arus kas (cash generation) dalam beberapa tahun ke depan. Dengan latar belakang ini, kami sangat yakin bahwa harga penawaran tersebut gagal menangkap nilai intrinsik dan potensi jangka panjang perusahaan,” tambah Grieder.

Langkah penolakan dari manajemen Hugo Boss ini juga diperkuat oleh analisis keuangan eksternal. Perusahaan mengungkapkan bahwa mereka telah berkonsultasi dan mendapatkan penilaian independen (fairness opinion) dari dua lembaga keuangan terkemuka dunia, yaitu Bank of America dan Goldman Sachs. Kedua bank investasi tersebut sama-sama menyimpulkan bahwa nilai penawaran dari Frasers tidak memadai.

Baca juga:  Selamat! Telkomsel Raih Dua Penghargaan Di Ajang Asian Technology Excellence Awards 2025

Analis dari lembaga keuangan Metzler yang berbasis di Frankfurt, Felix Jonathan Dennl, menilai bahwa langkah Frasers Group ini memang merupakan strategi taktis di pasar modal.

“Sifat dari penawaran ini sangat taktikal dan sudah ditakdirkan untuk menghadapi perlawanan sengit,” kata Dennl. Ia menambahkan bahwa manajemen Hugo Boss kini memegang mandat kuat untuk menolak karena didukung oleh rekomendasi dua institusi finansial independen tersebut.

Taktik Regulasi dan Tantangan Pasar

Frasers Group, raksasa ritel yang didirikan oleh miliarder Inggris Mike Ashley dan saat ini dipimpin oleh CEO Michael Murray, sebenarnya sudah menjadi pemegang saham terbesar di Hugo Boss dengan kepemilikan sekitar 26%. Manuver penawaran ini sengaja diluncurkan Frasers untuk mendongkrak kepemilikan saham mereka di atas angka 30%.

Berdasarkan regulasi pasar modal di Jerman, ambang batas 30% merupakan titik di mana sebuah perusahaan diwajibkan secara hukum untuk mengajukan penawaran akuisisi penuh (full takeover offer) kepada seluruh pemegang saham lainnya.

Hugo Boss juga mencatat bahwa proposal Frasers sama sekali tidak meramalkan adanya perubahan spesifik atau langkah-langkah operasional yang akan memengaruhi aktivitas bisnis Hugo Boss saat ini maupun tujuan komersial dan strategisnya.

Sikap penolakan ini muncul di tengah situasi pasar yang menantang bagi produsen pakaian jas pria dan pakaian kasual mewah tersebut. Hugo Boss baru-baru ini menderita penurunan penjualan dan laba akibat melemahnya permintaan konsumen pasca-pandemi di pasar utama seperti Inggris dan China, serta imbas dari lonjakan inflasi global. Perusahaan bahkan sempat meleset dari target awal Grieder untuk mengembalikan margin profitabilitas ke level pra-pandemi pada tahun 2025, setelah melaporkan penurunan penjualan sebesar 1% tahun lalu.

Sebagai respons atas tantangan tersebut, pada Desember lalu Hugo Boss memangkas perkiraan laba operasi tahun 2026 dan meluncurkan strategi baru hingga tahun 2028 yang dinamakan “Claim 5 Touchdown”. Rencana strategis ini berfokus pada peningkatan efisiensi toko, percepatan kategori produk dengan pertumbuhan cepat seperti sepatu dan aksesori, serta ekspansi yang lebih agresif di sektor pakaian wanita (womenswear).

Baca juga:  Kekayaan Elon Musk Naik Drastis Hingga Rp12.433 Triliun, Melebihi Pendiri Google

Melalui strategi mandiri ini, Hugo Boss membidik margin laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) sebesar 12% dalam jangka menengah hingga panjang, serta rata-rata arus kas bebas tahunan sebesar €300 juta (sekitar Rp5,25 triliun) hingga tahun 2028.

Di pasar saham Frankfurt, pergerakan saham Hugo Boss dilaporkan tidak banyak berubah dan diperdagangkan sedikit di bawah angka €38 menyusul pengumuman tersebut. Meskipun saham sempat melonjak singkat pada awal Juni saat Frasers pertama kali mengumumkan penawarannya, nilai saham Hugo Boss saat ini tercatat masih berada sekitar 50% di bawah level tertingginya pada Juli 2023.

(DAW)

Berita Hukum Dan Kriminal
Advertisement