Newestindonesia.co.id, Oknum anggota TNI aktif di Baubau, Sulawesi Tenggara, berinisial Pratu LYS dilaporkan telah desersi atau meninggalkan tugas selama sekitar lima pekan setelah kasus dugaan pemaksaan aborsi terhadap pacarnya mencuat ke publik. Kasus ini kini menjadi sorotan tajam lantaran keterlibatan personel militer aktif dalam dugaan kekerasan terhadap perempuan.
Korban, HN (25), mengungkapkan bahwa dirinya dipaksa melakukan aborsi oleh Pratu LYS.
“Saya dipaksa aborsi, awalnya dia sudah sedia tanggung jawab,” ujar HN kepada wartawan, Rabu (14/1/2026) seperti dikutip melalui detikSulsel.
Menurut keterangan korban, konflik itu bermula ketika Pratu LYS mendatangi kontrakannya di Baubau pada Agustus 2025 dan memaksa terjadi hubungan badan meski korban menolak.
“Dia paksa-paksa hubungan badan, akhirnya terjadi,” tambah HN.
Setelah beberapa waktu, HN merasa ada perubahan pada tubuhnya. Hasil tes mandiri menunjukkan bahwa ia hamil. Pratu LYS sempat berjanji akan menikahi korban, namun ketika proses administrasi pernikahan tengah berjalan, ia justru memaksa korban menggugurkan kandungan.
“Dia paksa saya sampai dua kali menggugurkan kandungan, tapi saya tolak, dan dia kabur sampai sekarang,” kata HN lagi.
Berdasarkan hasil USG pada November 2025, kondisi janin menunjukkan kelainan, sehingga HN kemudian dirujuk ke rumah sakit untuk tindakan medis pengangkatan. Ia kemudian melaporkan kejadian ini ke Kodim 1413 Buton dengan harapan pelaku mendapat sanksi tegas.
Namun hingga kini, proses hukum belum menunjukkan perkembangan signifikan karena pelaku telah kabur dan tidak berada di tempat tugasnya, atau dinyatakan desersi selama kurang lebih lima pekan.
Pihak satuan, melalui Dandim 1413 Buton Letkol Inf Arif Ariyanto, membenarkan bahwa Pratu LYS adalah anggota di bawah komandannya.
“Benar, dia anggota saya. Saya sudah dapat informasi tapi sampai saat ini sudah desersi dan meninggalkan tugas. Sudah desersi sekitar 5 minggu,” jelas Arif saat dikonfirmasi. Ia juga menyatakan bahwa pencarian terhadap oknum tersebut masih berlangsung.
Kejadian ini memicu kekhawatiran publik tentang perlindungan perempuan dari tindakan kekerasan yang diduga dilakukan oleh oknum aparat.
Kasus ini juga menjadi sorotan mengenai kesiapan dan respons institusi militer dalam menangani dugaan pelanggaran serius yang melibatkan anggotanya sendiri, terutama terkait persoalan kekerasan seksual dan pemaksaan terhadap perempuan.
Editor: DAW




You must be logged in to post a comment Login