Eksploitasi Anak Di Pelalawan: Pasutri Paksa Anak-Cucu Mengemis, Target Rp 500 Ribu Sehari

Young asian woman depression and anxiety on the bed at night

Foto: iStock/pocketlight (Ilustrasi)

Newestindonesia.co.id, Praktik eksploitasi anak bermodus mengemis dan menjadi ‘manusia silver’ dibongkar aparat kepolisian di Kabupaten Pelalawan, Riau. Sepasang suami istri (pasutri) berinisial MM (46) dan SM (32) ditangkap setelah kedapatan memaksa anak dan cucu mereka mengemis di jalanan dengan target setoran ratusan ribu rupiah per hari.

Tragisnya, para korban yang masih di bawah umur kerap mendapatkan ancaman hingga kekerasan fisik apabila uang hasil mengemis tidak mencapai target yang telah ditentukan oleh pelaku.

Kasus ini mulai terkuak setelah aparat kepolisian menerima laporan dari masyarakat terkait adanya keributan antar-anak di depan sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Pangkalan Kerinci pada Jumat (12/6/2026) malam. Merespons laporan tersebut, Kapolsek Pangkalan Kerinci AKP Shilton bersama tim langsung bergerak menuju lokasi kejadian.

Di lokasi, polisi mendapati tiga orang anak yang tengah bersitegang. Mereka adalah dua bocah laki-laki berinisial MH (11) dan RA (9), serta seorang bocah perempuan berinisial PW (9). Berdasarkan hasil pemeriksaan, MH dan RA merupakan anak kandung dari pasutri MM dan SM, sedangkan PW diakui sebagai cucu mereka.

Kapolsek Pangkalan Kerinci, AKP Shilton, mengungkapkan bahwa keributan tersebut dipicu oleh ketakutan salah satu korban yang enggan diajak pulang lantaran uang hasil mengemisnya belum memenuhi target.

“Korban ini yang PW ditarik-tarik oleh RA untuk ikut pulang, PW ini nggak mau pulang karena takut. Katanya kalau pulang nanti dipukuli karena setorannya kurang,” ujar AKP Shilton dalam keterangannya, Sabtu (13/6/2026).

Dari hasil interogasi awal, terungkap fakta mencengangkan mengenai besaran target setoran yang dibebankan kepada bocah-bocah tersebut. Pasutri MM dan SM mewajibkan anak-anak mereka membawa pulang uang setengah juta rupiah setiap harinya.

Baca juga:  Banjir OKU Sumsel: 450 KK Terdampak, Air Sempat Capai Satu Meter

“Jadi anak-anak ini disuruh nyetor sehari Rp 500 ribu, kalau nggak mencapai target mereka dipukuli,” lanjut Shilton.

Pihak kepolisian bergerak cepat dengan langsung mengamankan pasutri MM dan SM di kediaman mereka. Hingga saat ini, kedua pelaku masih menjalani pemeriksaan intensif di Mapolsek Pangkalan Kerinci guna mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Selain mendalami motif eksploitasi ekonomi dan tindakan kekerasan fisik, penyidik juga tengah menelusuri status hukum dan asal-usul salah satu korban anak perempuan tersebut.

“Kami masih mendalami anak PW ini, karena tidak ada di dalam Kartu Keluarga (KK). Mereka mengakunya korban ini cucunya, tapi sedang kami dalami,” jelas Shilton menutup keterangannya.

(DAW)