Menimipas Dan Ketua Komisi IV DPR Titiek Soeharto Tinjau Program Ketahanan Pangan Di Nusakambangan

ketua-komisi-iv-dpr-ri-siti-hediati-soeharto-atau-titiek-soeharto-didampingi-menteri-imipas-agus-andrianto-mengunjungi-pulau-p-1781926547931_169

Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto atau Titiek Soeharto didampingi Menteri Imipas Agus Andrianto mengunjungi Pulau 'Penjara' Nusakambangan, Cilacap. (Audrey S/detikcom)

Harga Emas Hari Ini
Advertisement

Newestindonesia.co.id, Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto atau Titiek Soeharto melakukan kunjungan kerja ke Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Sabtu (20/6/2026). Dalam kunjungan tersebut, Titiek didampingi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) Agus Andrianto.

Rombongan bertolak dari Dermaga Wijayapura, Cilacap, menggunakan Kapal Pengayoman milik Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan pada pukul 09.16 WIB dan tiba di Dermaga Sodong, Nusakambangan, pukul 09.29 WIB.

Turut mendampingi dalam kunjungan tersebut Direktur Jenderal Pemasyarakatan Mashudi dan Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko.

Meninjau Transformasi Nusakambangan

Kunjungan kerja tersebut dilakukan untuk melihat perkembangan transformasi Nusakambangan yang kini diarahkan menjadi “pulau kemandirian”.

Dilansir melalui detikNews, Pulau yang selama ini identik dengan lembaga pemasyarakatan berkeamanan tinggi itu kini dikembangkan menjadi pusat pembinaan warga binaan melalui berbagai program keterampilan, ketahanan pangan, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Program tersebut merupakan gagasan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto setelah dirinya dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto.

Saat masa transisi Ditjen Pemasyarakatan dari Kementerian Hukum dan HAM menuju Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus menerima laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengenai banyaknya aset berupa lahan tidur atau idle.

Karena itu, pihaknya berupaya menghidupkan kembali lahan-lahan tersebut dengan membangun balai latihan kerja (BLK) bagi warga binaan.

Tujuannya agar para narapidana memiliki bekal keterampilan setelah bebas dan tidak kembali melakukan tindak kejahatan.

Workshop Batako FABA Jadi Lokasi Pertama yang Dikunjungi

Setibanya di Nusakambangan, Titiek Soeharto bersama rombongan terlebih dahulu mengunjungi workshop produksi batako berbahan fly ash bottom ash (FABA), yaitu residu pembakaran batu bara.

Workshop tersebut merupakan salah satu sarana pembinaan narapidana yang dikelola melalui kerja sama Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan dengan PT PLN (Persero).

Baca juga:  Stok Pangan Cukup, Istana Sebut Pemerintah Masih Sanggup Atasi Bencana Banjir Sumatera

Selain memiliki nilai ekonomi, pemanfaatan FABA juga dinilai ramah lingkungan.

Dalam kesempatan itu, Titiek juga meninjau rumah dinas pegawai Lapas Nusakambangan yang dibangun menggunakan batako FABA.

Saat mengecek fasilitas rumah tipe 36 tersebut, Titiek sempat mempertanyakan keberadaan dapur.

“Dapurnya mana?” tanya Titiek kepada pegawai Nusakambangan.

Setelah mendapatkan penjelasan bahwa dapur berada di bagian belakang dengan konsep terbuka, Titiek memberikan masukan.

“Dapurnya mana? Harus ada dapurnya. Mbok ya sekalian dipayungin sithik (sedikit) dapur di luar. Kalau dapur di luar, sekalian payungin sedikit,” ujar Titiek.

Meninjau Peternakan Ayam dan Program Ketahanan Pangan

Rangkaian kunjungan berlanjut ke kawasan peternakan ayam di Lapas Terbuka Nusakambangan.

Di lokasi tersebut, Titiek tampak antusias memanen telur ayam secara langsung.

“Menyenangkan panen telur di Nusakambangan,” ungkap Titiek.

Ia juga sempat menanyakan jenis telur yang dihasilkan.

“Ini yang omega ya?” tanya Titiek kepada salah satu pegawai lapas.

Setelah melihat perkembangan peternakan, Titiek menyampaikan apresiasi kepada Menteri Agus Andrianto.

“Selamat ya Pak Menteri,” ucapnya.

Takjub dengan Kebun Anggur Hasil Budidaya Warga Binaan

Selain sektor peternakan, Titiek juga mengunjungi Balai Latihan Kerja Hortikultura yang menjadi pusat budidaya tanaman di Nusakambangan.

Salah satu yang menarik perhatian adalah greenhouse anggur.

Saat mencicipi buah anggur hasil perawatan warga binaan, Titiek memberikan pujian.

“Oh, ini yang kecil-kecil ya? Enak ini, manis. Ini jenis apa?” kata Titiek.

Setelah mendapat penjelasan bahwa anggur tersebut merupakan varietas Jupiter, Titiek berbincang langsung dengan warga binaan mengenai proses budidayanya.

“Ini hasil yang nanem juga warga binaan pemasyarakatan. Mas, diurusi berapa bulan ini? Eh, berapa tahun sampai bisa begini?” tanya Titiek.

Baca juga:  KPK Dalami Aliran Dana Ke Stafsus Manaker, Diduga Dana Berasal Dari Pengurusan Izin TKA

“Satu tahun setengah,” jawab salah satu warga binaan.

“Satu tahun setengah sudah bisa panen?” tanya Titiek lagi.

“Sudah empat kali (panen),” jawab warga binaan tersebut.

Titiek pun mengaku kagum dengan hasil budidaya tersebut.

“Oh luar biasa. Jajal sik. Ini manis, wangi ya. Koyok permen tenane. Jadi Nusakambangan bukan sesuatu yang seram, tapi jangan sampai masuk ke Nusakambangan,” ungkap dia sambil berseloroh.

Dorong Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

Dalam kunjungannya, Titiek juga mendatangi Balai Latihan Kerja Tempat Pembuangan Akhir (BLK TPA).

Ia menanyakan hasil dari proses pemilahan sampah yang dilakukan para warga binaan.

“Sampah ini kan dipilah-pilah. Produknya jadinya apa nanti?” tanya Titiek kepada mitra pengelola.

Setelah mendapat penjelasan bahwa hasil pengolahan sampah dapat dimanfaatkan menjadi pupuk dan sampah plastik dijual kembali, Titiek berharap pengelolaan limbah bisa lebih berkembang.

“Mungkin ke depan bisa cari mesin yang misahin plastik, jadi plastiknya diolah jadi apa,” tutur Titiek.

Ia juga berharap budaya memilah sampah dapat diterapkan sejak di dalam lembaga pemasyarakatan.

Nusakambangan Berubah Wajah

Transformasi Nusakambangan yang digagas Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan menunjukkan perubahan besar pada pulau yang selama ini dikenal sebagai “pulau penjara”.

Melalui program pembinaan berbasis ketahanan pangan, hortikultura, peternakan, pengolahan limbah, hingga pengembangan UMKM, Nusakambangan kini diarahkan menjadi pusat pemberdayaan warga binaan agar memiliki keterampilan dan kemandirian setelah kembali ke tengah masyarakat.

(DAW)

Berita Hukum Dan Kriminal
Advertisement