Newestindonesia.co.id, Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon kembali menegaskan komitmen pemerintah untuk mendorong revitalisasi Museum Situs Pasir Angin di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, agar semakin relevan dan menarik bagi publik, terutama generasi muda.
Pernyataan ini disampaikan saat kunjungan kerja meninjau langsung museum dan situs bersejarah ini pada Sabtu (17/1/2026).
“Ini merupakan satu situs bersejarah yang ke depan kita harapkan dapat kita revitalisasi dan kita lengkapi data-data temuannya, sehingga situs ini bisa semakin menarik bagi generasi muda untuk datang dan belajar tentang sejarah yang ada di Pasir Angin,” ujar Fadli Zon di Jakarta, dikutip Minggu 18 Januari 2026.
Kunjungan tersebut bertujuan untuk melihat secara langsung kekayaan tinggalan budaya serta potensi pengembangan kawasan ini menjadi ruang pembelajaran sejarah yang lebih terbuka dan kontekstual bagi masyarakat.
Potensi Sejarah yang Tersimpan di Pasir Angin
Fadli menjelaskan bahwa Situs Pasir Angin menyimpan lapisan kebudayaan yang sangat penting, mulai dari era Neolitik, era klasik, hingga masa kolonial. Beragam artefak yang ditemukan di situs ini, mulai dari arca hingga benda-benda lain, telah dilengkapi dengan keterangan yang informatif.
“Di situs ini kita bisa melihat berbagai lapis kebudayaan… banyak temuan yang bisa kita lihat di sini, mulai dari arca hingga artefak lain yang sudah dilengkapi dengan keterangan,” kata Fadli.
Dia juga menegaskan bahwa situs ini tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari lanskap sejarah yang luas, yang tak terpisahkan dari wilayah sungai Cianten dan Cisadane—yang dahulu menjadi pusat kehidupan, peradaban, dan perdagangan.
Salah satu artefak penting yang ditemukan di kawasan ini adalah topeng emas, yang kini tersimpan di fasilitas Balai Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Cibinong. Menurut Fadli, temuan tersebut memberi wawasan berharga tentang kehidupan masyarakat di masa lalu.
Selain itu, dalam kunjungan tersebut Fadli juga meninjau Tugu Jepang, yang menandai lokasi pertempuran antara pasukan Sekutu dan Jepang pada abad ke-20, menunjukkan bahwa kawasan Pasir Angin memiliki nilai sejarah hingga era modern.
Sejarah Penelitian dan Perkembangan Museum
Museum Situs Pasir Angin sendiri telah menjadi objek penelitian sejak awal 1970-an. Tim arkeologi dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (kini Puslit Arkenas) di bawah pimpinan arkeolog R.P. Soejono melakukan ekskavasi intensif dari tahun 1970 hingga 1975. Dari penelitian tersebut ditemukan berbagai artefak dari batu, besi, perunggu, tanah liat, obsidian, kaca, hingga gerabah.
Setahun setelah rangkaian penelitian, pada 1976 didirikan bangunan di sekitar area penggalian yang awalnya berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda temuan. Seiring waktu, lokasi tersebut berkembang menjadi museum yang dapat dikunjungi masyarakat luas sebagai sarana edukasi dan pelestarian sejarah.
Editor: DAW




You must be logged in to post a comment Login