Newestindonesia.co.id, Gelombang pemadaman listrik darurat melanda sejumlah kota besar di Ukraina sekaligus menjalar ke tetangganya, Moldova, pada Sabtu (31/1) malam ketika negara itu berjuang menghadapi salah satu musim dingin paling brutal dalam beberapa tahun terakhir di tengah konflik yang terus berlangsung.
Pemadaman listrik besar-besaran melumpuhkan ibu kota Kyiv, serta daerah Zhytomyr dan Kharkiv di tengah dan timur laut Ukraina, sementara ibu kota Moldova, Chisinau, juga ikut terdampak. Akibatnya, pasokan air di Kyiv terhenti dan sistem kereta bawah tanah sempat ditangguhkan karena tegangan listrik yang terlalu rendah.
Penyebab & Dampak Langsung
Menurut pejabat Ukraina, pemadaman itu terjadi setelah gangguan teknis pada jalur transmisi listrik yang menghubungkan Ukraina dan Moldova, yang kemudian memicu sistem proteksi otomatis yang memutus jaringan secara massal.
Kondisi ini memperburuk kehidupan warga sipil Ukraina yang sudah terkepung oleh musim dingin ekstrem dan kekurangan listrik akibat rangkaian serangan terhadap infrastruktur energi mereka selama berbulan-bulan. Banyak warga kini hidup tanpa listrik, pemanas, dan air panas di tengah suhu yang turun drastis.
Strategi ‘Memanfaatkan Musim Dingin’ oleh Rusia
Sepanjang perang yang kini mendekati ulang tahunnya yang keempat, serangan berulang terhadap jaringan listrik Ukraina telah menjadi bagian penting dari strategi militer Rusia, yang menurut pejabat Kyiv bertujuan untuk memanfaatkan musim dingin sebagai alat tekanan terhadap warga sipil dan legitimasi pemerintah Ukraina.
Serangan semacam ini bukan kejadian baru; sejak awal invasi besar-besaran pada 2022, fasilitas energi di Ukraina terus menjadi target utama rudal dan drone Rusia, yang pernah menghancurkan sebagian besar kapasitas pembangkit listriknya menurut analis internasional energi.
Komitmen Ceasefire Sementara & Reaksi Pihak Terlibat
Merebaknya pemadaman terjadi setelah klaim sementara bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin setuju atas permintaan mantan Presiden AS Donald Trump untuk menghentikan serangan terhadap target energi di Kyiv selama periode dingin ekstrem. Langkah itu diperkenalkan sebagai upaya untuk menciptakan kondisi yang lebih kondusif bagi negosiasi perdamaian yang direncanakan.
Namun, pernyataan tersebut memicu skeptisisme dari pejabat Ukraina sendiri. Presiden Volodymyr Zelensky mengungkapkan keraguannya tentang komitmen Rusia terhadap gencatan senjata sesungguhnya, dengan mengatakan bahwa banyak bukti menunjukkan bahwa Moskow tidak benar-benar ingin mengakhiri perang.
Suara Warga: Kekhawatiran & Ketahanan
Di jalanan Kyiv, meskipun tanpa listrik dan air panas, banyak warga mencoba menjalani hidup normal.
Serhii Kupov, 57, mengatakan skeptis bahwa perdamaian dapat tercapai melalui perundingan. Ia menilai tuntutan Rusia terlalu tidak realistis. “Saya tidak percaya Rusia ingin mengakhiri perang,” ujarnya saat ditemui di tepi Sungai Dnipro yang beku.
Albina Sokur, 35, seorang ibu dari enam tahun asal Donetsk, menyuarakan harapannya meskipun tetap realistis bahwa konflik mungkin hanya “terbeku seperti sebelumnya.” Ia skeptis tentang kemungkinan besar kembali ke rumahnya suatu hari nanti.
Konsekuensi Kemanusiaan & Tantangan Mendatang
Para analis dan pejabat internasional telah memperingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina berisiko memicu krisis kemanusiaan yang lebih dalam, terutama selama puncak musim dingin ketika kebutuhan akan listrik dan pemanas menjadi sangat penting bagi kelangsungan hidup jutaan warga sipil.
Potensi kelanjutan blackout juga dapat memperparah gangguan layanan kesehatan, pasokan air, dan respon darurat, memperkuat kekhawatiran global tentang dampak perang terhadap kehidupan rakyat biasa.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti Sekarang



You must be logged in to post a comment Login