Newestindonesia.co.id, Perubahan iklim yang semakin cepat di kawasan Arktik kini mulai mengubah kehidupan para nelayan di Greenland. Hilangnya es laut, cuaca yang tak menentu, hingga pergeseran habitat ikan membuat aktivitas melaut menjadi semakin sulit diprediksi.
Bagi nelayan seperti Helgi Áargil, kondisi laut yang dahulu dapat diperkirakan kini berubah drastis. Ia sering menghabiskan hingga lima hari di atas perahunya di fjord Greenland bersama anjingnya, Molly.
Namun belakangan ini, setiap perjalanan melaut menjadi perjudian.
“Tahun lalu perahu saya terjebak dalam bongkahan es dari gletser. Tahun ini justru sangat basah,” katanya. “Kadang bisa membawa pulang sekitar 100.000 kroner Denmark, tapi kadang tidak mendapatkan apa-apa.”
Arktik Memanas Lebih Cepat
Para ilmuwan menyebut wilayah Arktik sebagai salah satu kawasan yang paling cepat memanas di dunia akibat emisi bahan bakar fosil seperti minyak, gas, dan batu bara. Perubahan ini berdampak besar pada ekosistem laut dan industri perikanan yang menjadi tulang punggung ekonomi Greenland.
Sektor perikanan bahkan menyumbang hingga 95 persen dari total ekspor Greenland, dengan pasar utama termasuk China, Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara Eropa.
Karena itu, perubahan kecil pada kondisi laut dapat memengaruhi ekonomi seluruh wilayah.
Hilangnya Es Laut
Perubahan paling terasa adalah menyusutnya es laut yang selama puluhan tahun menjadi tempat para nelayan tradisional mencari ikan.
Karl Sandgreen, kepala Icefjord Center di Ilulissat, menjelaskan bahwa dahulu es laut di kawasan itu bisa mencapai ketebalan hingga 1,5 meter.
“Ayah saya dulu memancing dari es laut setebal hampir lima kaki,” katanya. Namun es tersebut mulai menghilang sejak sekitar tahun 1997.
Akibatnya, banyak nelayan yang sebelumnya memancing dengan mengebor lubang di es kini harus beralih menggunakan perahu. Perubahan ini memungkinkan mereka menjangkau area yang lebih luas, tetapi juga membawa biaya tambahan serta polusi yang justru mempercepat pemanasan.
Risiko Penangkapan Berlebihan
Bergesernya metode penangkapan ikan juga memicu kekhawatiran baru.
Toke Binzer, CEO perusahaan perikanan besar Greenland, Royal Greenland, mengatakan masa depan tanpa es laut dapat mendorong lebih banyak nelayan tradisional beralih ke penangkapan komersial.
Menurutnya, ketidakpastian kondisi laut kini menjadi masalah besar.
“Terkadang esnya terlalu banyak untuk berlayar, tetapi terlalu sedikit untuk memancing di atasnya,” ujarnya.
Para ahli juga memperingatkan bahwa peningkatan penggunaan kapal dapat meningkatkan risiko overfishing atau penangkapan ikan berlebihan.
Boris Worm, pakar keanekaragaman hayati laut dari Dalhousie University di Kanada, mengatakan tanda-tanda itu sudah terlihat.
“Ikan halibut yang tertangkap di dekat pantai semakin kecil,” katanya, yang merupakan indikasi klasik penangkapan berlebihan.
Ikan Semakin Sulit Ditemukan
Selain perubahan metode penangkapan, nelayan juga menghadapi masalah lain: ikan mulai bergerak ke perairan yang lebih dalam dan lebih dingin.
Áargil mengatakan suhu laut yang semakin hangat membuat ikan sulit ditemukan.
“Terlalu hangat. Saya tidak tahu ke mana ikan itu pergi, tapi jumlahnya tidak banyak,” katanya sambil memandang perbukitan di sekitar fjord.
Beberapa ilmuwan memperkirakan pemanasan juga dapat meningkatkan nutrisi di laut akibat hujan dan pencairan es, yang bisa meningkatkan plankton sebagai makanan ikan. Namun perilaku ikan diperkirakan akan semakin tidak dapat diprediksi.
Ekonomi Bergantung pada Laut
Di Greenland, kehidupan masyarakat sangat terkait dengan laut. Pelabuhan tempat para nelayan menjual hasil tangkapan menjadi pusat aktivitas hampir di setiap kota atau desa.
Ken Jakobsen, manajer pabrik Royal Greenland di Nuuk, mengatakan kemampuan untuk melaut merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat Greenland.
“Bagi banyak orang Greenland, sangat penting bisa pergi berlayar. Perikanan adalah yang paling penting,” ujarnya.
Di ibu kota Nuuk saja, lebih dari 1.000 perahu nelayan beroperasi setiap musim panas, di wilayah dengan total populasi sekitar 50.000 orang.
Masa Depan yang Tidak Pasti
Sementara sektor pariwisata mulai berkembang, kontribusinya terhadap ekonomi Greenland masih jauh lebih kecil dibandingkan industri perikanan.
Itulah sebabnya perubahan iklim tidak hanya menjadi isu lingkungan, tetapi juga ancaman terhadap stabilitas sosial dan ekonomi masyarakat lokal.
Bagi para nelayan seperti Áargil, masa depan kini terasa semakin tidak pasti.
Laut yang dulu menjadi sumber kehidupan kini berubah menjadi wilayah yang sulit dipahami.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login