Draf Damai Iran-AS Terungkap, Selat Hormuz Dibuka Kembali Dan Perang Lebanon Berakhir

situasi-di-teheran-iran-saat-perang-melawan-as-israel-berkecamuk-1773658059773_169

Sebuah bendera Iran berukuran besar menghiasi sebuah bangunan saat warga Iran berjalan melewati bangunan-bangunan yang rusak akibat serangan militer sebelumnya di ibu kota Iran, Teheran, pada 15 Maret 2026. (AFP)

Newestindonesia.co.id, Iran membocorkan isi draf kesepakatan perdamaian dengan Amerika Serikat (AS) yang disebut-sebut menjadi langkah menuju berakhirnya konflik kedua negara. Dalam draf tersebut, Teheran mengusulkan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan pengelolaan tetap berada di tangan Iran serta penghentian konflik di Lebanon.

Laporan Reuters yang dikutip Detikcom, Sabtu (13/6/2026), menyebutkan bahwa memorandum kesepahaman antara Iran dan AS diperkirakan dapat ditandatangani dalam beberapa hari mendatang.

Kesepakatan itu mencakup pembukaan kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz serta pencabutan blokade angkatan laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Sebagai imbalannya, Iran akan mengizinkan lalu lintas komersial kembali melintas melalui kawasan tersebut.

Namun, Teheran menegaskan bahwa kendali atas lalu lintas kapal di Selat Hormuz tetap berada di bawah pengelolaan Iran.

Selain itu, draf kesepakatan juga memuat kerangka perundingan lebih lanjut terkait program nuklir Iran. Amerika Serikat mendorong penghapusan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi, sedangkan Iran menginginkan material tersebut tetap dipertahankan dalam bentuk yang telah diencerkan.

Meski proses diplomasi terus berlangsung, ketegangan di kawasan masih terjadi. Militer Amerika Serikat dilaporkan menembak jatuh sejumlah drone Iran di dekat Selat Hormuz, sementara ledakan juga terdengar di wilayah Iran.

Konflik Lebanon Masuk dalam Draf Perdamaian

Salah satu poin penting dalam draf tersebut adalah upaya mengakhiri perang di Lebanon. Iran mengaitkan kesepakatan dengan penghentian konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah.

Meski demikian, Israel tidak terlibat dalam proses negosiasi tersebut dan menentang beberapa bagian dari isi perjanjian, terutama yang berkaitan dengan Lebanon.

Pihak Hizbullah juga menegaskan bahwa penarikan pasukan Israel dari wilayah yang diduduki menjadi syarat utama untuk mewujudkan perdamaian yang berkelanjutan.

Baca juga:  Pemerintah Peru Perketat Pengamanan Untuk Di KBRI Lima Pasca Penembakan Zetro Leonardo Purba

Sementara itu, Israel menolak melakukan penarikan militer dan menegaskan akan tetap melanjutkan operasi terhadap kelompok-kelompok yang dianggap mendapat dukungan Iran.

Harga Minyak Turun

Munculnya kabar mengenai potensi kesepakatan damai antara Washington dan Teheran langsung berdampak pada pasar energi global.

Harga minyak dunia tercatat turun lebih dari 3 persen seiring meningkatnya harapan bahwa jalur perdagangan energi melalui Selat Hormuz dapat kembali normal.

Kesepakatan tersebut juga dinilai dapat memberikan ruang bagi perekonomian Amerika Serikat yang sebelumnya terbebani oleh ketegangan geopolitik dan kenaikan harga energi.

Meski demikian, sejumlah kalangan Partai Republik di Amerika Serikat dikabarkan masih mengkhawatirkan isi perjanjian tersebut karena dianggap terlalu memberikan kelonggaran kepada Iran.

Di sisi lain, proses menuju perdamaian masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk perbedaan pandangan mengenai program nuklir Iran dan persoalan keamanan regional yang melibatkan Israel serta Lebanon.

(DAW)