Lebanon Laporkan 4.304 Korban Jiwa, Israel Bersikeras Bertahan Di Wilayah Selatan

kepulan-asap-menjulang-dari-wilayah-nabatieh-lebanon-bagian-selatan-yang-digempur-israel-pada-sabtu-206-saat-gencatan-senjata--1781953246809_169

Kepulan asap menjulang dari wilayah Nabatieh, Lebanon bagian selatan, yang digempur Israel pada Sabtu (20/6) saat gencatan senjata berlangsung. (AFP/ABBAS FAKIH)

Harga Emas Hari Ini
Advertisement

Newestindonesia.co.id, Korban tewas akibat eskalasi konflik di Lebanon terus melonjak tajam sejak Israel meluncurkan operasi militer besar-besaran pada 2 Maret 2026 lalu. Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh otoritas kesehatan setempat, jumlah korban jiwa kini telah menembus angka ribuan orang.

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan secara rinci bahwa total korban tewas hingga saat ini telah mencapai 4.304 orang. Selain korban meninggal dunia, dampak dari serangan udara dan darat yang masif ini juga memicu gelombang korban luka-luka yang jauh lebih besar, yakni menyentuh belasan ribu orang.

“Serangan Israel di Lebanon sejak 2 Maret telah menewaskan sedikitnya 4.304 orang dan melukai 12.203 orang,” demikian pernyataan resmi dari Kementerian Kesehatan Lebanon, sebagaimana dilansir dari Aljazeera.

Israel Enggan Angkat Kaki dari Lebanon Selatan

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa pasukan militernya (Tel Aviv) tidak memiliki rencana untuk menarik diri dari wilayah Lebanon selatan dalam waktu dekat. Otoritas Israel bersikeras akan tetap menempatkan pasukannya di wilayah tersebut hingga ancaman dari kelompok bersenjata Hizbullah benar-benar sirna.

Pernyataan bersayap ini disampaikan oleh Netanyahu setelah pihak Lebanon dan Israel sebenarnya baru saja menandatangani pakta kerangka kerja pekan lalu. Perjanjian yang dimediasi oleh Amerika Serikat tersebut awalnya dirancang untuk membuka jalan menuju perdamaian formal di antara kedua negara tetangga tersebut.

Dalam poin kesepakatan tersebut, penarikan mundur pasukan Israel dari wilayah pendudukan di Lebanon secara hukum bergantung pada keberhasilan pemerintah Beirut dalam melakukan pelucutan senjata Hizbullah. Proses ini rencananya dilakukan melalui pembentukan “zona percontohan” yang nantinya akan diambil alih sepenuhnya oleh kendali militer resmi Lebanon.

Namun, Netanyahu menegaskan posisi negaranya yang tidak akan berkompromi sebelum syarat keamanan tersebut terpenuhi secara total.

Baca juga:  Donald Trump Soroti Serangan Israel Di Lebanon, Sebut Banyak Korban Bukan Hizbullah

“Posisi kami jelas, kami tidak akan meninggalkan Lebanon selatan sampai ancaman tersebut hilang. Dan selama Hizbullah, yang bersenjata, masih ada di sini dan mengancam kami, kami akan tetap berada di sini,” tegas Netanyahu seperti dikutip dari AFP.

Lebih lanjut, pemimpin berhaluan kanan itu juga melayangkan peringatan keras serta mendesak pihak luar, khususnya Iran yang menjadi penyokong utama Hizbullah, untuk segera mengosongkan wilayah perbatasan Lebanon selatan demi stabilitas jangka panjang.

“Kami katakan kepada Iran dan Hizbullah: tinggalkan tempat ini, kalian tidak lagi memiliki tempat di sini. Ada dua negara berdaulat yang ingin hidup dalam damai,” punggah Netanyahu.

Situasi di perbatasan hingga kini dilaporkan masih terus memanas di tengah mandeknya realisasi zona percontohan dan tingginya angka korban sipil di tanah Lebanon.

(DAW)

Berita Hukum Dan Kriminal
Advertisement