Serangan Paling Masif Moskow Targetkan Ibu Kota Ukraina, Korban Tewas Meningkat Menjadi 27 Orang

ukraine-crisisattack-kyiv-1781599962064_169

Foto: Zelenskiy saat mengecek dampak serangan Rusia di Kyiv pada 16 Juni (via REUTERS/Ukrainian Presidential Press Ser)

Harga Emas Hari Ini
Advertisement

Newestindonesia.co.id, Korban tewas akibat serangan rudal dan drone yang diluncurkan Rusia ke wilayah Ukraina dilaporkan bertambah menjadi 27 orang. Pihak Ukraina memastikan tidak akan tinggal diam dan bersumpah akan membalas serangan udara masif yang menghancurkan sejumlah gedung apartemen tersebut.

Berdasarkan laporan dari AFP yang dikutip Jumat (3/7), rentetan ledakan hebat mulai bergema sejak Rabu malam dan berlangsung terus-menerus hingga Kamis dini hari. Rudal dan pesawat tanpa awak (drone) milik militer Rusia menghujani daerah pemukiman padat penduduk di pusat kota Kyiv.

Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, menggambarkan situasi mencekam tersebut sebagai serangan paling agresif yang pernah dihadapi ibu kota dalam beberapa waktu terakhir.

“Serangan paling besar musuh terhadap ibu kota,” ungkap Vitali Klitschko melalui media sosialnya.

Peningkatan jumlah korban ini dikonfirmasi langsung oleh Kepala Administrasi Militer Kota Kyiv, Tymur Tkachenko. Ia memperbarui data korban yang sebelumnya tercatat 13 orang, kini melonjak drastis seiring proses evakuasi yang terus berjalan di reruntuhan bangunan.

“27 orang tewas dan 91 terluka,” kata Tymur Tkachenko dalam pernyataan resminya.

Sebelumnya pada Kamis, Klitschko sempat melaporkan bahwa setidaknya 13 kematian telah tercatat dengan 86 orang lainnya mengalami luka-luka akibat hantaman tersebut. Namun, angka tersebut terus bertambah seiring pemeriksaan di lokasi kejadian.

Merespons agresi mematikan ini, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menegaskan bahwa pasukannya tidak akan tinggal diam. Saat meninjau langsung blok apartemen warga yang sebagian besar telah hancur dan puing-puingnya berserakan, Zelensky menjanjikan tindakan balasan yang setimpal.

Ukraina “pasti” akan membalas serangan semalam, tegas Zelensky saat memeriksa dampak kerusakan.

Di panggung diplomasi internasional, serangan ini memicu reaksi keras. Diplomat tertinggi Uni Eropa langsung mengusulkan paket sanksi baru yang lebih ketat terhadap Moskow. Di saat yang sama, Presiden Zelensky terus mendesak Amerika Serikat agar memberikan lisensi kepada Ukraina guna memproduksi sistem rudal pertahanan udara Patriot secara mandiri demi melindungi wilayah udaranya.

Baca juga:  Menteri Keuangan Israel Kecam Netanyahu Soal Bantuan Masuk Ke Jalur Gaza

Kecaman juga datang dari dunia internasional. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, mengutuk keras tindakan militer Rusia dan kembali menyerukan penghentian kekerasan atau gencatan senjata.

Melalui juru bicaranya, Stephane Dujarric, PBB menekankan bahwa penargetan terhadap warga sipil adalah tindakan yang ilegal di mata hukum dunia.

“Serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil di mana pun terjadi merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum humaniter internasional dan harus segera dihentikan,” tegas Stephane Dujarric.

Kendati menuai gelombang kecaman global, pihak Kremlin tampaknya tidak bergeming. Rusia bersumpah untuk terus meningkatkan “tekanan” yang lebih kuat terhadap Kyiv dan tetap mempertahankan retorika militer mereka tanpa kompromi.

Serangan rudal balistik dan drone yang menghancurkan apartemen ini terjadi hanya beberapa jam setelah Zelensky memperingatkan bahwa Moskow memang tengah mempersiapkan “serangan besar-besaran”. Selama invasi yang telah berlangsung lebih dari empat tahun, Rusia secara rutin meluncurkan proyektil ke kota-kota Ukraina, menjadikannya sebagai konflik paling mematikan di benua Eropa sejak Perang Dunia II.

(DAW)

Berita Hukum Dan Kriminal
Advertisement