Israel-Lebanon Kembali Memanas, 2 Orang Tewas Dalam Insiden Penembakan Di Nabatieh
Kepulan asap menjulang dari wilayah Nabatieh, Lebanon bagian selatan, yang digempur Israel pada Sabtu (20/6) saat gencatan senjata berlangsung. (AFP/ABBAS FAKIH)
Newestindonesia.co.id, Ketegangan di perbatasan Israel dan Lebanon kembali meningkat setelah dua warga Lebanon dilaporkan tewas akibat tembakan militer Israel di wilayah selatan negara itu. Insiden tersebut terjadi di tengah gencatan senjata yang masih berlangsung antara Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran.
Menurut laporan Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA), dua pria tewas ketika tentara Israel melepaskan tembakan saat keduanya berada di dekat sebuah ekskavator yang digunakan untuk membuka blokade jalan di wilayah Nabatieh al-Fawqa. Informasi tersebut kemudian dikonfirmasi oleh Kementerian Kesehatan Lebanon.
Peristiwa ini menjadi insiden mematikan pertama dalam beberapa hari terakhir sejak gencatan senjata rapuh antara Israel dan Hizbullah kembali diberlakukan. Sebelumnya, kedua pihak telah beberapa kali saling menuduh melakukan pelanggaran kesepakatan penghentian permusuhan.
Presiden Lebanon Tolak Pendudukan Israel
Insiden tersebut terjadi bertepatan dengan dimulainya putaran kelima pembicaraan Israel-Lebanon di Washington. Pada saat yang sama, Presiden Lebanon, Joseph Aoun, kembali menegaskan penolakannya terhadap keberadaan pasukan Israel di wilayah Lebanon selatan.
Aoun juga menolak campur tangan asing dalam urusan dalam negeri Lebanon, yang oleh sejumlah pengamat dipandang sebagai sindiran terhadap Iran yang selama ini menjadi pendukung utama Hizbullah.
Sebelumnya, mediator dari Pakistan dan Qatar mengungkapkan bahwa Teheran dan Washington telah menyepakati pembentukan “sel de-konflik” yang bertujuan meredam eskalasi ketegangan di Lebanon. Kesepakatan tersebut muncul setelah pembicaraan yang berlangsung di Swiss terkait upaya mengakhiri konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Hizbullah Kecam Serangan Israel
Menanggapi insiden tersebut, Hizbullah mengecam tindakan militer Israel dan menyebutnya sebagai pelanggaran gencatan senjata yang terang-terangan.
Kelompok itu menilai penembakan terhadap warga sipil merupakan bentuk “serangan pengkhianatan” yang berpotensi mengancam stabilitas kawasan serta menggagalkan berbagai upaya diplomasi yang sedang berlangsung.
Ketegangan antara kedua pihak memang belum sepenuhnya mereda meski sejumlah kesepakatan penghentian konflik telah diumumkan dalam beberapa bulan terakhir. Pada pekan lalu, serangan udara Israel di Lebanon selatan juga dilaporkan menewaskan sedikitnya lima orang saat gencatan senjata masih berlaku.
Versi Militer Israel
Di sisi lain, militer Israel memberikan versi berbeda terkait insiden tersebut. Dalam pernyataannya, pasukan Israel mengaku awalnya melepaskan tembakan peringatan kepada empat anggota Hizbullah yang diduga berada di atas buldoser dan sepeda motor.
Militer Israel menyatakan bahwa tembakan tambahan kemudian dilakukan setelah mereka menilai terdapat ancaman terhadap pasukan yang berada di lokasi.
“Pasukan melepaskan tembakan tambahan untuk menghilangkan ancaman,” demikian pernyataan militer Israel.
Dalam keterangan terpisah, Israel juga mengklaim telah mengidentifikasi sebuah sel bersenjata yang beroperasi di dekat pasukannya di zona keamanan yang dibentuk sekitar 10 kilometer di dalam wilayah Lebanon. Menurut militer Israel, serangan dilakukan untuk mencegah ancaman terhadap personel mereka.
Drone Israel Dilaporkan Serang Kendaraan
Selain insiden penembakan di Nabatieh al-Fawqa, media pemerintah Lebanon juga melaporkan adanya serangan drone Israel yang menargetkan sebuah kendaraan di kawasan pinggiran Baraasheet.
Hingga laporan tersebut diterbitkan, belum ada informasi resmi mengenai korban jiwa dalam serangan drone tersebut.
Gencatan Senjata Masih Rapuh
Meski berbagai upaya diplomatik terus dilakukan, kondisi keamanan di perbatasan Israel-Lebanon masih jauh dari stabil. Sejak gencatan senjata diumumkan, kedua pihak berkali-kali saling menuduh melakukan pelanggaran.
Israel berulang kali menegaskan akan menyerang jika mendeteksi ancaman dari Hizbullah, sementara Lebanon dan Hizbullah menilai operasi militer Israel di wilayah selatan negara itu sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan yang telah disepakati bersama.
Dengan dimulainya putaran baru pembicaraan di Washington, komunitas internasional berharap ketegangan yang kembali meningkat ini tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
(DAW)