Piala Dunia 2026: Tunisia Depak Pelatih Sabri Lamouchi Usai Tumbang 1-5 Dari Swedia

gettyimages-2279644252-612x612

Foto oleh Joris Verwijst/Soccrates/Getty Images

Newestindonesia.co.id, Federasi Sepak Bola Tunisia (FTF) mengambil langkah drastis di tengah bergulirnya turnamen akbar Piala Dunia 2026. FTF dilaporkan resmi memecat sang pelatih kepala, Sabri Lamouchi. Keputusan krusial ini diambil menyusul hasil minor yang dipetik Tunisia pada laga pembuka Grup F, di mana mereka dipaksa menyerah dengan skor mencolok 1-5 oleh Swedia.

Laga perdana yang berlangsung di Stadion Banco Bilbao Vizcaya Argentaria (BBVA), Monterrey, Meksiko tersebut menjadi puncak dari akumulasi tekanan yang dihadapi oleh sang juru taktik asal Prancis.

Kabar pemberhentian Lamouchi dikonfirmasi melalui pernyataan resmi dari otoritas sepak bola tertinggi di Tunisia tersebut. FTF kini tengah bergerak cepat untuk mengisi kekosongan di kursi kepelatihan demi menyelamatkan sisa laga di fase grup.

“Kesepakatan resmi telah tercapai untuk memberhentikan pelatih Sabri Lamouchi. Saat ini sedang dilakukan proses penunjukan Mondher Kebaier sebagai pelatih tim nasional untuk sementara,” demikian pernyataan resmi FTF yang dikutip dari laporan The Guardian, Selasa (16/6/2026).

Tekanan Sejak Laga Uji Coba

Pemecatan ini sekaligus mengakhiri masa bakti Sabri Lamouchi yang terhitung sangat singkat. Pelatih berusia 54 tahun tersebut sejatinya baru ditunjuk untuk menukari skuad berjuluk El Aigles de Carthage pada Januari 2026 lalu.

Berdasarkan laporan yang sama, posisi Lamouchi memang sudah tidak aman sebelum Piala Dunia 2026 dimulai. Mantan pelatih Pantai Gading itu telah berada di bawah tekanan hebat setelah Tunisia menelan kekalahan telak 0-5 dari Belgia dalam laga uji coba Pra-Piala Dunia yang digelar di Brussels. Hasil buruk kontra Swedia di Monterrey akhirnya menjadi titik nadir yang membuat FTF kehilangan kesabaran.

Bagi Lamouchi pribadi, pemecatan ini menambah catatan kelamnya di panggung tertinggi sepak bola dunia. Sebelumnya, ia pernah menukangi tim nasional Pantai Gading pada Piala Dunia 2014 di Brasil, namun gagal membawa timnya melangkah keluar dari fase grup.

Baca juga:  Nottingham Forest Tumbang 1-2 Dari Fenerbahçe Di Liga Europa, Gol Telat Jadi Penentu

Misi Bangkit Menghadapi Jepang dan Belanda

Kekalahan telak dari Swedia jelas memperumit posisi Tunisia di papan klasemen Grup F. Kendati demikian, pergantian nakhoda di tengah turnamen ini diharapkan mampu memberikan dampak instan berupa kebangkitan mental bagi para pemain. Tunisia dituntut segera berbenah karena jadwal padat telah menanti mereka.

Pada pertandingan kedua, Tunisia dijadwalkan menantang kekuatan Asia, Jepang, pada Minggu (21/6). Laga krusial tersebut akan kembali digelar di stadion yang sama di Guadalupe, tempat di mana mereka dihantam oleh Swedia. Setelah menghadapi Jepang, Tunisia akan memainkan laga pamungkas fase grup melawan tim kuat Eropa, Belanda, yang akan berlangsung di Kansas City.

Melalui perombakan kilat dan penunjukan Mondher Kebaier sebagai karteker, Federasi Sepak Bola Tunisia berharap energi baru dapat tercipta di dalam tim, sekaligus menjaga peluang El Aigles de Carthage untuk menembus babak gugur Piala Dunia 2026.

(DAW)