Tarif Transjabodetabek Mau Naik, Penumpang Langsung Mengeluh: Pengeluaran Bisa Membengkak
Transjabodetabek. Foto: Dok. Damri
Newestindonesia.co.id, Wacana kenaikan tarif layanan Transjabodetabek yang tengah dipersiapkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mendapat respons beragam dari masyarakat. Sejumlah pengguna mengaku keberatan apabila tarif transportasi tersebut dinaikkan karena dikhawatirkan akan semakin membebani biaya hidup sehari-hari.
Salah seorang warga, Annisa, mengatakan kenaikan tarif sebenarnya dapat dimaklumi selama masih berada pada batas yang terjangkau bagi masyarakat.
“Kenaikan boleh aja yang penting masih terjangkau ya. Misalnya naik dari, karena sekarang BBM juga naik, otomatis semua naik,” ujar Annisa dikutip dari detikNews.
Menurutnya, tarif sebesar Rp5.000 masih tergolong wajar dan dapat diterima oleh masyarakat pengguna transportasi umum. Namun, ia mengakui bahwa perubahan tarif tetap akan berdampak pada pengeluaran pribadinya.
“Kalau Rp5.000 masih wajar,” katanya.
Kekhawatiran serupa sebelumnya juga disampaikan sejumlah pengguna Transjabodetabek lainnya. Mereka berharap pemerintah tidak terburu-buru menaikkan tarif karena layanan tersebut selama ini menjadi moda transportasi yang paling terjangkau bagi masyarakat yang beraktivitas di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Pengguna asal Bogor, Anggi (33), mengaku berharap tarif Transjabodetabek tetap dipertahankan seperti saat ini.
“Kalau bisa sih enggak naik ya. Soalnya transportasi paling murah,” kata Anggi saat ditemui di Terminal Blok M, Jakarta.
Ia menilai keberadaan transportasi publik yang menghubungkan Jakarta dengan Bogor, Bekasi, dan Tangerang sangat membantu mobilitas masyarakat. Karena itu, kenaikan tarif dikhawatirkan akan menambah biaya transportasi harian.
“Yang dikhawatirkan ya jadi nambah uang transportasi saja sih,” ujarnya.
Sementara itu, pengguna lainnya, Heri Sumarsono, berharap tarif tetap dipertahankan demi meringankan masyarakat yang setiap hari mengandalkan layanan tersebut untuk bekerja.
“Walaupun saya lansia, saya enggak setuju kalau tarif naik. Kasihan yang usianya di bawah 50 tahun karena mereka masih bayar biasa,” kata Heri.
Menurutnya, tarif angkutan umum seharusnya tetap dibuat terjangkau karena menjadi kebutuhan penting masyarakat.
“Saya harap tetap flat, kasihan yang lain,” ucapnya.
Di sisi lain, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan bahwa tarif Transjabodetabek memang akan mengalami penyesuaian. Namun, besaran tarif baru masih dalam tahap pembahasan dan akan diputuskan dalam waktu dekat.
“Yang pertama mengenai tarif, dalam waktu dekat seperti yang saya sampaikan ketika secara resmi mencanangkan Blok M ke Soekarno-Hatta. Dan waktu itu saya juga menyampaikan enggak mungkin Blok M-Soekarno-Hatta itu Rp 3.500 karena naik DAMRI, naik yang lain itu sudah rata-rata di atas Rp 100 ribu,” kata Pramono di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (8/6).
“Maka, dengan demikian, akan ada penyesuaian, angkanya akan segera diputuskan dalam waktu dekat ini,” lanjutnya.
Pramono belum mengungkapkan secara rinci berapa tarif baru yang akan diberlakukan. Saat ditanya mengenai isu tarif Transjabodetabek yang disebut-sebut dapat mencapai Rp10.000 per perjalanan, ia hanya memberikan jawaban singkat.
“Nanti saya putuskan,” ujarnya.
Pemprov DKI Jakarta sendiri berencana melakukan penyesuaian tarif menyusul pengoperasian sejumlah rute baru Transjabodetabek yang menghubungkan Jakarta dengan wilayah penyangga, termasuk rute Blok M-Bandara Soekarno-Hatta. Pemerintah menilai tarif Rp3.500 yang berlaku saat ini dinilai tidak lagi sesuai untuk rute dengan jarak tempuh yang lebih panjang. Namun demikian, pemerintah memastikan bahwa aspek keterjangkauan masyarakat tetap menjadi pertimbangan utama dalam menentukan tarif baru.
(DAW)