Kurs Rupiah Menghijau Ke Rp17.944 Per Dolar AS, Ini Faktor Pendorong Dan Proyeksinya
Foto: iStock/EKIN KIZILKAYA
Newestindonesia.co.id, Nilai tukar rupiah berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (10/6/2026). Penguatan ini terjadi setelah Bank Indonesia (BI) mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga acuan guna menjaga stabilitas mata uang nasional yang sebelumnya sempat tertekan hingga mendekati level terlemah sepanjang sejarah.
Berdasarkan data Bloomberg yang dikutip via Kontan, rupiah ditutup pada level Rp17.944 per dolar AS, menguat dibandingkan posisi penutupan sebelumnya. Penguatan tersebut menjadi sinyal positif setelah dalam beberapa pekan terakhir rupiah menghadapi tekanan berat akibat ketidakpastian global, penguatan dolar AS, dan meningkatnya tensi geopolitik internasional.
Meski demikian, para analis menilai penguatan rupiah masih dibayangi sejumlah risiko eksternal yang berpotensi kembali menekan pergerakan mata uang Garuda dalam jangka pendek. Faktor utama yang menjadi perhatian pasar saat ini adalah arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah, serta arus modal asing ke pasar negara berkembang.
Ditopang Langkah Bank Indonesia
Penguatan rupiah terjadi setelah Bank Indonesia secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen dalam rapat di luar jadwal reguler. Langkah tersebut ditempuh sebagai upaya memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah yang sebelumnya sempat menyentuh level di atas Rp18.000 per dolar AS.
Bank Indonesia menilai langkah tersebut diperlukan karena pelemahan rupiah berlangsung lebih dalam dibandingkan perkiraan sebelumnya. Selain menaikkan suku bunga, otoritas moneter juga mengeluarkan berbagai insentif guna menarik kembali aliran modal asing ke pasar keuangan domestik.
Kebijakan tersebut mendapat respons positif dari pasar. Investor menilai kenaikan suku bunga dapat meningkatkan daya tarik aset keuangan Indonesia sekaligus membantu meredam tekanan terhadap rupiah dalam jangka pendek.
Sentimen Global Masih Mendominasi
Meskipun rupiah berhasil menguat, pelaku pasar tetap mewaspadai berbagai sentimen eksternal yang berpotensi memengaruhi pergerakan kurs.
Dolar AS masih memperoleh dukungan dari tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) serta ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve. Selain itu, konflik geopolitik yang berlangsung di Timur Tengah turut memicu ketidakpastian dan meningkatkan permintaan terhadap aset-aset safe haven seperti dolar AS.
Dalam kondisi tersebut, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, cenderung mengalami volatilitas yang lebih tinggi karena investor global lebih berhati-hati dalam menempatkan dana mereka.
Selain faktor eksternal, pasar juga terus mencermati perkembangan ekonomi domestik, termasuk kebijakan fiskal pemerintah, kondisi anggaran negara, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.
Proyeksi Rupiah Kamis
Untuk perdagangan Kamis (11/6/2026), analis memperkirakan rupiah masih memiliki peluang melanjutkan penguatan secara terbatas apabila sentimen global tidak mengalami perubahan signifikan.
Sejumlah pelaku pasar memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS. Kisaran tersebut menunjukkan bahwa meskipun tekanan terhadap rupiah mulai mereda, volatilitas pasar masih relatif tinggi sehingga pergerakan kurs berpotensi fluktuatif.
Investor juga akan mencermati sejumlah data ekonomi global yang dirilis dalam waktu dekat. Data inflasi Amerika Serikat, perkembangan pasar tenaga kerja, serta sinyal kebijakan dari Federal Reserve diperkirakan menjadi faktor utama yang memengaruhi arah dolar AS dan mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Cadangan Devisa Jadi Penopang
Di sisi lain, Bank Indonesia menegaskan bahwa cadangan devisa Indonesia masih berada pada level yang memadai untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Otoritas moneter juga terus melakukan intervensi di pasar valas baik melalui pasar spot maupun instrumen lainnya guna memastikan volatilitas rupiah tetap terkendali.
Gubernur Bank Indonesia juga menyampaikan bahwa langkah stabilisasi nilai tukar akan terus dilakukan seiring upaya menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran yang telah ditetapkan pemerintah.
Peluang dan Tantangan ke Depan
Penguatan rupiah ke level Rp17.944 per dolar AS memberikan optimisme bagi pasar keuangan domestik. Namun, berbagai tantangan masih membayangi pergerakan mata uang nasional.
Di satu sisi, kebijakan moneter yang lebih ketat berpotensi menarik kembali minat investor asing. Namun di sisi lain, ketidakpastian global dan potensi perlambatan ekonomi dunia masih menjadi faktor yang dapat memicu arus keluar modal sewaktu-waktu.
Karena itu, pelaku pasar diperkirakan akan tetap mencermati perkembangan ekonomi global dan kebijakan Bank Indonesia dalam beberapa pekan mendatang untuk menentukan arah investasi mereka.
Dengan proyeksi pergerakan di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan Kamis, rupiah masih memiliki peluang mempertahankan penguatan selama sentimen pasar tetap kondusif dan dukungan kebijakan moneter terus berlanjut.
(DAW)