BTN Percepat Pemrosesan Kredit Lewat Loan Factory, Waktu Tunggu Nasabah Menyusut Drastis

BTN Loan Factory.jpg

Arsip foto - Sejumlah pegawai PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) memasuki gedung BTN Loan Factory di Kompleks Kantor BTN Cabang Bekasi, Jawa Barat, Senin (13/4/2026). ANTARA/Uyu Septiyati Liman.

Newestindonesia.co.id, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) terus memperkuat transformasi bisnis untuk meningkatkan kualitas pertumbuhan kredit dan pengelolaan risiko. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah melalui optimalisasi operasional BTN Loan Factory yang berhasil memangkas waktu pemrosesan kredit secara signifikan.

Direktur Risk Management BTN Setiyo Wibowo mengatakan, implementasi BTN Loan Factory mampu mempercepat proses kredit yang sebelumnya membutuhkan waktu sekitar 10 hingga 14 hari menjadi hanya sekitar 4 hingga 7 hari.

Selain mempercepat proses persetujuan kredit, transformasi tersebut juga berdampak pada peningkatan efisiensi operasional. Tingkat straight-through processing atau pemrosesan langsung kini mencapai hampir 70 persen, sementara tingkat rework atau pemrosesan ulang berhasil ditekan hingga di bawah 15 persen.

“Kami terus memperkuat proses bisnis dari hulu hingga hilir agar pertumbuhan kredit yang dicapai menjadi lebih sehat, aman, dan berkelanjutan,” ujar Setiyo Wibowo dalam keterangan resmi yang dikutip dari Antara, Senin (8/6/2026).

Menurut Setiyo, peningkatan kinerja tersebut merupakan hasil dari transformasi menyeluruh yang dilakukan perusahaan, baik pada proses akuisisi kredit baru maupun pengelolaan portofolio kredit yang telah berjalan.

Sebagai bagian dari penguatan manajemen risiko, BTN juga menerapkan pendekatan cluster collection. Model ini merupakan sistem penanganan kredit yang didasarkan pada segmentasi risiko, karakteristik debitur, serta perilaku pembayaran nasabah.

Melalui pendekatan tersebut, proses monitoring kredit, restrukturisasi, penagihan, hingga pemulihan kredit dapat dilakukan secara lebih terarah dan efektif. Strategi ini dinilai mampu meningkatkan kualitas pengelolaan pembiayaan sekaligus mempercepat penanganan potensi kredit bermasalah.

Setiyo menjelaskan bahwa penguatan pengelolaan kredit merupakan bentuk komitmen perseroan dalam menjaga fungsi intermediasi perbankan agar tetap berjalan secara sehat dan berkelanjutan.

Sebagai bank yang memiliki mandat utama dalam memperluas pembiayaan perumahan nasional, BTN terus berupaya mendukung akses masyarakat terhadap Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Upaya tersebut dilakukan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta penerapan manajemen risiko yang semakin kuat.

Baca juga:  Purbaya Ungkap Harga Pertalite Sebenarnya, Sebelum Subsidi Rp11.700 Per Liter

BTN juga menargetkan perbaikan kualitas aset melalui penurunan rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL). Perseroan menargetkan rasio NPL dapat terus membaik dan dijaga di bawah level 2,5 persen hingga akhir tahun 2026.

Target tersebut akan dicapai melalui sejumlah strategi, antara lain penguatan kualitas kredit baru, optimalisasi sistem peringatan dini atau early warning system, serta pengembangan strategi penagihan dan penyelesaian kredit yang semakin berbasis risiko.

Setiyo optimistis transformasi proses kredit melalui Loan Factory akan semakin memperkuat ketahanan bisnis BTN di tengah dinamika ekonomi yang terus berkembang. Langkah tersebut juga diyakini mampu memperkokoh posisi BTN sebagai pemimpin pasar pembiayaan perumahan nasional.

Ia menegaskan bahwa perusahaan akan terus memperkuat aspek tata kelola, disiplin risiko, serta pemantauan portofolio kredit guna menjaga kualitas aset perseroan.

“Kami akan terus memperkuat disiplin risiko, tata kelola, dan pemantauan portofolio agar kualitas kredit tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi yang berkembang,” imbuhnya.

Dengan berbagai transformasi yang dijalankan, BTN berharap mampu menciptakan pertumbuhan kredit yang lebih sehat, kokoh, dan berkelanjutan sekaligus memperluas akses pembiayaan perumahan bagi masyarakat Indonesia.

(DAW)