Dampak 100 Hari Perang Iran, Inflasi AS Naik Dan Dompet Warga Makin Tertekan
Perang bersama Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terhadap Iran telah menyebabkan harga energi dan produk lainnya melonjak [File: Jonathan Ernst/Reuters]
Newestindonesia.co.id, Tepat 100 hari sejak pecahnya perang Iran yang mengguncang pasar energi dunia, warga Amerika Serikat kini menghadapi dampak ekonomi yang semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari harga bahan bakar yang lebih mahal, biaya perjalanan yang meningkat, hingga lonjakan harga sejumlah kebutuhan pokok, konflik yang berlangsung di Timur Tengah telah menjadi salah satu faktor utama yang menekan kondisi ekonomi rumah tangga AS.
Gangguan terhadap pasokan energi global akibat konflik tersebut, terutama karena terganggunya lalu lintas minyak melalui Selat Hormuz, telah mendorong harga minyak mentah dunia naik signifikan dibandingkan sebelum perang dimulai. Meskipun pasar energi berhasil menghindari skenario terburuk yang sempat dikhawatirkan banyak analis, harga energi tetap berada pada level yang cukup tinggi untuk membebani konsumen.
Harga Energi Menjadi Pemicu Utama
Sejak konflik pecah, harga minyak global mengalami lonjakan tajam. Para analis mencatat bahwa harga minyak naik sekitar 30 dolar AS per barel dibandingkan periode sebelum perang. Kenaikan tersebut kemudian merembet ke berbagai sektor ekonomi, terutama transportasi dan logistik.
Kondisi ini terjadi karena Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, mengalami gangguan berkepanjangan. Penutupan dan pembatasan aktivitas pelayaran di kawasan tersebut mengurangi pasokan energi global dan memicu kekhawatiran pasar.
Meski berbagai negara produsen minyak dan lembaga internasional berupaya menstabilkan pasokan melalui pelepasan cadangan strategis serta peningkatan produksi di wilayah lain, harga energi belum kembali ke tingkat sebelum perang.
Rumah Tangga Amerika Menanggung Beban Tambahan
Menurut analisis Moody’s Analytics, perang Iran telah menimbulkan biaya tambahan yang besar bagi masyarakat Amerika. Ekonom Moody’s, Mark Zandi, memperkirakan konflik tersebut telah membebani rumah tangga AS hingga sekitar 100 miliar dolar AS dalam tiga bulan terakhir atau rata-rata sekitar 750 dolar AS per rumah tangga.
Dalam keterangannya, Zandi menjelaskan bahwa kenaikan harga bensin, solar, dan bahan bakar pesawat menjadi penyumbang terbesar terhadap peningkatan biaya hidup masyarakat.
“Rumah tangga berpendapatan menengah dan rendah merasakan dampak paling berat,” kata Mark Zandi, sebagaimana dikutip dalam laporan Moody’s Analytics, dikutip melalui laporan Business Insider, Senin (8/6/2026).
Ia juga memperingatkan bahwa kemampuan masyarakat untuk menabung semakin menurun karena sebagian besar pendapatan harus dialokasikan untuk kebutuhan pokok yang harganya terus meningkat.
Inflasi Kembali Menjadi Ancaman
Selain memukul pengeluaran rumah tangga, perang Iran juga kembali memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi di Amerika Serikat.
Sejumlah ekonom memperkirakan indeks harga konsumen AS pada Mei 2026 menunjukkan kenaikan tahunan sekitar 4,3 persen, level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terakhir. Faktor energi disebut sebagai salah satu penyebab utama meningkatnya tekanan inflasi tersebut.
Namun, beberapa ekonom menilai perlambatan permintaan konsumen masih mampu menahan efek domino yang lebih luas terhadap perekonomian. Meski demikian, tingginya harga energi tetap menjadi tantangan bagi bank sentral AS dalam menjaga stabilitas harga.
Harga Pangan Ikut Merangkak Naik
Dampak perang tidak hanya terasa di pompa bensin. Kenaikan biaya distribusi dan energi juga mendorong harga bahan pangan naik.
Sebuah survei yang dilakukan Financial Times bersama Focaldata menunjukkan bahwa mayoritas pemilih Amerika kini semakin khawatir terhadap kenaikan harga kebutuhan sehari-hari. Harga bahan makanan tercatat meningkat 2,9 persen secara tahunan, sementara harga buah dan sayuran naik lebih dari 6 persen.
Sebanyak 68 persen responden dalam survei tersebut menyatakan tidak puas terhadap penanganan inflasi dan biaya hidup yang terus meningkat.
Industri Penerbangan dan Pariwisata Tertekan
Harga bahan bakar pesawat yang lebih mahal juga menyebabkan biaya perjalanan meningkat.
Maskapai penerbangan menghadapi tekanan biaya operasional yang lebih tinggi akibat lonjakan harga energi. Sejumlah rute mengalami penyesuaian tarif, sementara sebagian maskapai mengurangi kapasitas penerbangan untuk mengendalikan pengeluaran.
Kondisi ini berdampak langsung kepada masyarakat yang harus membayar lebih mahal untuk perjalanan domestik maupun internasional.
Pasar Energi Masih Dibayangi Ketidakpastian
Meski sejumlah langkah stabilisasi telah dilakukan, para analis menilai pasar energi global masih menghadapi ketidakpastian besar.
JPMorgan memperkirakan harga energi dapat kembali meningkat apabila gangguan di Selat Hormuz berlangsung lebih lama. Sebaliknya, jika jalur pelayaran utama tersebut kembali beroperasi normal, tekanan harga diperkirakan mulai mereda.
Saat ini pasar masih berusaha menyeimbangkan antara pasokan yang ketat, cadangan energi yang mulai menipis, dan pemulihan permintaan global yang belum sepenuhnya stabil.
Tekanan Politik bagi Pemerintahan Trump
Meningkatnya biaya hidup juga mulai berdampak pada dinamika politik dalam negeri Amerika Serikat.
Survei terbaru menunjukkan tingkat ketidakpuasan publik terhadap penanganan inflasi dan harga kebutuhan pokok mengalami peningkatan signifikan. Banyak pemilih menilai kenaikan harga yang terjadi selama konflik Iran telah memperburuk kondisi ekonomi rumah tangga mereka.
Dengan pemilihan sela yang semakin dekat, isu inflasi diperkirakan akan menjadi salah satu tema utama dalam perdebatan politik nasional.
Prospek ke Depan
Memasuki hari ke-100 perang Iran, para ekonom menilai arah perkembangan konflik akan sangat menentukan kondisi ekonomi global dalam beberapa bulan mendatang.
Jika ketegangan mereda dan jalur perdagangan energi kembali normal, tekanan harga berpotensi berkurang secara bertahap. Namun apabila konflik terus berlanjut atau bahkan meluas, masyarakat Amerika kemungkinan masih harus menghadapi harga energi, pangan, dan biaya transportasi yang tinggi untuk waktu yang lebih lama.
Bagi jutaan keluarga di Amerika Serikat, perang yang berlangsung ribuan kilometer jauhnya kini bukan lagi sekadar berita internasional. Konflik tersebut telah terasa langsung di dompet mereka melalui tagihan bahan bakar yang lebih mahal, harga belanja yang meningkat, dan biaya hidup yang terus menekan anggaran rumah tangga.
(DAW)