Newestindonesia.co.id, Iran dilaporkan mengizinkan kapal tanker minyak Malaysia untuk melintasi Selat Hormuz di tengah ketegangan konflik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah.
Kebijakan ini menjadi bagian dari pelonggaran terbatas yang dilakukan Teheran terhadap lalu lintas kapal di jalur strategis tersebut, yang sebelumnya sempat terdampak konflik militer antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyatakan bahwa kapal-kapal negaranya kini telah mendapatkan izin melintas setelah dilakukan komunikasi dengan sejumlah pemimpin kawasan, termasuk Iran.
“Kami kini dalam proses membebaskan kapal tanker Malaysia dan para pekerjanya agar dapat melanjutkan perjalanan pulang,” ujar Anwar dalam pernyataan yang disiarkan televisi, dikutip melalui Reuters.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah Iran atas keputusan tersebut.
“Kami berterima kasih kepada Presiden Iran karena mengizinkan kapal Malaysia melintas,” lanjutnya.
Syarat: Bukan Kapal “Musuh”
Sebelumnya, Iran menegaskan bahwa hanya kapal dari negara yang tidak dianggap sebagai “musuh” yang diizinkan melintasi Selat Hormuz.
Misi diplomatik Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan kapal-kapal tersebut harus tidak terlibat atau mendukung tindakan agresi terhadap Teheran.
“Kapal non-musuh dapat memperoleh perlintasan aman melalui Selat Hormuz dengan koordinasi otoritas Iran,” demikian pernyataan resmi Iran.
Selain itu, kapal juga wajib mematuhi aturan keselamatan dan keamanan yang ditetapkan oleh otoritas setempat.
Dampak Konflik Masih Terasa
Meski ada pelonggaran, situasi di Selat Hormuz masih belum sepenuhnya stabil. Kawasan ini menjadi titik krusial perdagangan energi dunia, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak global melintas setiap harinya sebelum konflik pecah.
Gangguan di jalur ini berdampak langsung pada distribusi minyak dan gas global, termasuk terhadap negara-negara yang bergantung pada impor energi dari Timur Tengah.
Anwar Ibrahim mengakui bahwa Malaysia tetap terdampak situasi tersebut.
“Kami terpaksa mengelola situasi karena dampak blokade Selat Hormuz, perang, dan terganggunya pasokan minyak dan gas,” ujarnya.
Ketegangan Belum Usai
Konflik di kawasan Timur Tengah meningkat sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026. Iran kemudian melancarkan serangan balasan ke berbagai target di kawasan, termasuk pangkalan militer dan infrastruktur energi.
Dalam kondisi tersebut, Iran sempat membatasi bahkan menghentikan lalu lintas kapal di Selat Hormuz, sebelum akhirnya membuka akses secara selektif.
Kebijakan ini dinilai sebagai langkah strategis Iran untuk tetap menjaga tekanan geopolitik sekaligus menghindari gangguan total terhadap perdagangan energi global.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login