Newestindonesia.co.id, Dunia saat ini sedang berada di ambang guncangan ekonomi yang sangat mirip dengan krisis energi tahun 1970-an. Penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi perang di Timur Tengah telah memicu disrupsi pasokan minyak mentah global yang tidak pernah terjadi sebelumnya, memaksa para analis memperingatkan datangnya era “Stagflasi” yang menyakitkan.
Menurut laporan terbaru CNN.com (24/3), harga minyak mentah Brent terus bertahan di level triple digit, yakni di atas US$100 per barel. Meski sempat mengalami sedikit koreksi ke angka US$108,5 pada penutupan pekan lalu, kekhawatiran akan pengetatan pasokan jangka panjang tetap menghantui pasar global.
Disrupsi Terbesar dalam Sejarah
International Energy Agency (IEA) menyebut situasi tahun 2026 sebagai “tantangan keamanan energi dan pangan terbesar dalam sejarah.” Sejak Selat Hormuz—jalur bagi 20% pasokan minyak dunia—terhenti operasionalnya pada awal Maret, pasar kehilangan jutaan barel produksi harian dari produsen utama seperti Arab Saudi, Kuwait, dan Uni Emirat Arab.
Data dari Rapidan Energy Group menunjukkan bahwa disrupsi kali ini dua kali lebih besar dibandingkan krisis Terusan Suez tahun 1956-1957. Kondisi ini diperparah dengan kerusakan infrastruktur energi di beberapa titik akibat serangan rudal, yang diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih.
Peringatan dari Analis dan Tokoh Global
Ketidakpastian ini memicu kekhawatiran bahwa inflasi tinggi akan dibarengi dengan pelambatan pertumbuhan ekonomi (stagflasi).
Analis dari Goldman Sachs memperingatkan dalam nota risetnya bahwa jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut melebihi dua bulan, harga Brent bisa melampaui rekor tertinggi sepanjang masa di angka US$147 per barel yang pernah tercipta pada 2008.
“Ketahanan dari beberapa guncangan pasokan besar sebelumnya menggarisbawahi risiko bahwa harga minyak mungkin tetap di atas US$100 untuk waktu yang lebih lama,” tulis analis Goldman Sachs.
Di sisi lain, sikap politik internasional menambah ketegangan. Donald Trump, dalam pernyataannya baru-baru ini, menunjukkan sikap acuh terhadap lonjakan harga bahan bakar di Amerika Serikat. “Jika (harga) naik, ya naik saja,” ujarnya, menekankan fokus pada operasi militer daripada stabilisasi harga domestik.
Dampak Bagi Indonesia
Di dalam negeri, pemerintah Indonesia mulai mengkaji penyesuaian APBN menyusul melonjaknya harga minyak dunia. Meskipun stok BBM subsidi saat ini diklaim masih aman, tekanan terhadap nilai tukar Rupiah dan biaya logistik mulai terasa.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melihat situasi ini sebagai alarm keras untuk mempercepat transisi energi. “Kenaikan harga minyak global ini harus menjadi momentum bagi kita untuk tidak lagi bergantung pada energi fosil dan segera beralih ke sumber energi baru terbarukan,” ujar perwakilan pemerintah dalam sebuah diskusi di Jakarta (10/3).
Hingga saat ini, pelaku pasar masih menantikan apakah langkah-langkah diplomasi atau pelepasan cadangan minyak darurat oleh negara-negara anggota IEA mampu meredam “mendidihnya” harga emas hitam ini di pasar internasional.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login