Newestindonesia.co.id, Sebuah serangan drone bermuatan bahan peledak menghantam sebuah sekolah menengah dan pusat layanan kesehatan di Sudan selatan pada Rabu (11/3/2026). Sedikitnya 17 orang tewas, sebagian besar merupakan siswi sekolah, sementara 10 lainnya mengalami luka-luka, menurut pejabat rumah sakit dan kelompok medis setempat.
Serangan tersebut terjadi di desa Shukeiri, Provinsi White Nile, wilayah yang berada di tengah konflik berkepanjangan antara militer Sudan dan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF).
Direktur Rumah Sakit Douiem, Dr. Musa al-Majeri, mengatakan fasilitasnya menerima sejumlah korban dari serangan tersebut.
“Setidaknya 10 orang terluka akibat serangan itu,” kata al-Majeri kepada Associated Press. Ia menambahkan bahwa tiga siswi mengalami luka serius, dua di antaranya telah menjalani operasi di rumah sakit, sementara satu korban lainnya dipindahkan ke ibu kota Khartoum untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut, dikutip melalui Associated Press.
Serangan itu pertama kali dilaporkan oleh Sudan Doctors Network, kelompok pemantau perang yang terdiri dari tenaga medis. Kelompok tersebut menyebutkan bahwa korban tewas termasuk dua guru dan seorang tenaga kesehatan, serta menegaskan tidak ada kehadiran militer di desa tersebut saat serangan terjadi.
Kelompok medis dan pejabat rumah sakit menuding Rapid Support Forces (RSF) sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut. Namun hingga kini RSF belum memberikan tanggapan atas tuduhan tersebut.
Juru bicara Sudan Doctors Network, Dr. Razan Al-Mahdi, menyebut insiden itu sebagai bagian dari rangkaian serangan terhadap fasilitas sipil di wilayah White Nile.
“Kejahatan mengerikan ini merupakan kelanjutan dari pelanggaran yang dilakukan RSF di White Nile,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa dalam dua hari terakhir paramiliter tersebut juga menyerang asrama mahasiswa dan pembangkit listrik di wilayah yang sama.
Latar Belakang Perang Sudan
Serangan ini menjadi salah satu insiden terbaru dalam perang saudara Sudan yang telah berlangsung hampir tiga tahun. Konflik pecah pada April 2023, ketika perebutan kekuasaan antara militer Sudan dan kelompok paramiliter RSF berubah menjadi pertempuran terbuka di ibu kota Khartoum dan berbagai wilayah lainnya.
Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa, lebih dari 40.000 orang telah tewas sejak konflik dimulai, meskipun sejumlah organisasi kemanusiaan memperkirakan jumlah sebenarnya jauh lebih tinggi.
Pertempuran juga disertai berbagai dugaan kejahatan perang, termasuk pembunuhan massal dan kekerasan terhadap warga sipil, yang saat ini sedang diselidiki oleh Mahkamah Pidana Internasional (ICC).
Salah satu kekerasan terbaru dilaporkan terjadi di El-Fasher, Darfur, ketika serangan RSF dan sekutunya menewaskan ribuan orang dalam beberapa hari, dengan para ahli PBB menyebutnya memiliki “ciri-ciri genosida.”
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login