Newestindonesia.co.id – Jatim, Sebuah acara Sahur On The Road (SOTR) di Desa Jatibanjar, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Jawa Timur menjadi sorotan publik dan viral di media sosial setelah menampilkan sound “horeg” dan tarian yang dinilai tak pantas di bulan Ramadan. Gelaran pawai ini diposting oleh sejumlah akun TikTok dan memicu kecaman warganet yang menilai pertunjukan tersebut kurang sesuai dengan suasana sahur dan bulan puasa.
Dalam video yang viral, terlihat ribuan orang berpawai menggunakan sepeda motor mengikuti deretan sound horeg. Iringan musik keras ini berlangsung sejak dini hari hingga pagi hari, melintasi jalan kampung dan area persawahan dalam kondisi gelap hingga mulai terang.
Salah satu hal yang paling mendapat sorotan adalah keberadaan seorang penari yang berpakaian pres bodi dan melakukan tarian di depan unit sound sambil sesekali menerima saweran dari penonton. Banyak warganet mempertanyakan kesesuaian aksi tersebut, terutama karena berlangsung di bulan Ramadan.
Seorang netizen menuliskan komentar pedas di media sosial:
“Kok podo komen denser denser emang iku denser ??? Poso mbok seng santun,” ujar akun @Ajisakajo.
Komentar lain menyatakan:
“Ohh piye ii sahur on the road kok onk dancere ii,” tutur akun @iqbal.98.
Pernyataan Sekretaris Desa
Hengki, Sekretaris Desa Jatibanjar, membenarkan bahwa kegiatan tersebut memang berlangsung di wilayah desanya namun menegaskan bukan diselenggarakan oleh Pemerintah Desa Jatibanjar. Ia juga mengkritik keberadaan pertunjukan yang dianggap tidak pantas tersebut:
“(Jogetan seksi) semestinya tidak pantas ada seperti itu, bulan puasa ada seperti itu segala, tidak pantas,” katanya kepada detikJatim, Selasa (24/2/2026).
Klarifikasi Pemilik Sound
Pemilik salah satu unit sound yang hadir, Aprelia dari Aprelia Production, mengatakan bahwa lebih dari 10 unit sound horeg ikut meramaikan kegiatan itu. Ia menyebut bahwa sound-sound tersebut tidak disewa oleh pihak manapun, melainkan merupakan komunitas sound yang biasa melakukan pawai sahur. Menurutnya:
“Itu tidak ada yang menyewa, dari pihak (pemilik) sound-sound Jombang kan sering sahur on the road. Keliling-keliling saja, lalu kumpulnya di situ,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa rombongan sound miliknya memulai pawai dari Desa Kepuhrejo, Kecamatan Kudu, Jombang, dan tiba di Jatibanjar sekira pukul 04.00 WIB, saat lokasi sudah dipenuhi penonton.
Polisi Angkat Bicara
Kapolsek Ploso, Kompol Achmad Chairuddin, menegaskan bahwa kegiatan pawai tersebut tidak memiliki izin dari pihak kepolisian maupun pemerintah desa setempat. Ia pun menolak gelaran serupa berlangsung ulang:
“Tanpa izin, kami juga tidak mengizinkan. Termasuk kadesnya (Jatibanjar) juga tidak tahu, tahunya dari warganya,” tegasnya.
Kompol Chairuddin juga menyampaikan rencana penanganan agar pawai serupa tidak kembali terjadi selama Ramadan. Ia mengatakan bahwa kepolisian akan melakukan patroli gabungan bersama pemerintah desa dan meminta warga untuk tidak memakai sound keras ketika berkumpul selepas sahur:
“Ke depan Minggu pagi kami antisipasi patroli gabungan dengan Polsek Kabuh dan melibatkan pemerintah desa. Kami imbau masyarakat kalau jalan-jalan pagi setelah sahur tidak usah pakai sound,” ujarnya.
Chairuddin turut mengungkapkan kekesalannya terhadap tampilnya seorang yang diduga waria sebagai penari, menilai hal tersebut tidak etis muncul dalam suasana puasa:
“Informasinya itu spontan, itu diduga waria, tapi tidak etis puasa-puasa seperti itu,” katanya.
Meluasnya unggahan video membuat sejumlah netizen mengkritik keras acara tersebut. Warganet menilai pawai dengan konsep hiburan keras seperti ini kurang menghormati nilai-nilai Ramadan. Banyak komentar yang mengajak agar kegiatan keagamaan atau kebersamaan di bulan puasa dilakukan lebih santun dan penuh kekhusyukan.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login