Newestindonesia.co.id, Ratusan murid, guru, dan wali murid di Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung dilaporkan mengalami dugaan keracunan makanan massal usai mengonsumsi menu dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Rabu (11/2/2026).
Peristiwa itu terungkap setelah banyak peserta didik melaporkan gejala diare, mual, muntah hingga demam beberapa jam pascamenyantap makanan tersebut. Puluhan korban bahkan harus mendapatkan perawatan medis di beberapa rumah sakit di Bandar Lampung.
Pengalaman Orang Tua Korban
Seorang wali murid yang enggan disebutkan namanya dan hanya berinisial NS menceritakan kepada Liputan6.com bahwa anaknya mulai mengalami gangguan kesehatan sejak Rabu malam.
“Anak saya bawa pulang karena tidak dimakan di sekolah. Menunya nasi, telur ceplok disiram saus, ada anggur dan sayur. Sore mulai mulas, jam 9 malam sudah diare. Subuhnya bolak-balik BAB dan mual,” ujar NS, Senin (16/2) dikutip melalui Liputan6.
NS mengaku sempat mencoba melakukan pengobatan mandiri di rumah. Namun karena kondisi anak terus memburuk, mereka kemudian membawa anaknya ke RS Bhayangkara.
“Istrinya sempat mencoba berobat jalan sebelum akhirnya dirawat di rumah sakit selama tiga hari. Baru diperbolehkan pulang pada Senin siang,” tambahnya.
Menurut NS, dugaan keracunan baru diketahui setelah pihak sekolah melakukan pendataan terhadap siswa dan guru yang memiliki gejala serupa, dan beberapa tetangganya juga mengalami hal yang sama.
Imbauan Tak Ungkap di Media Sosial
Selain gejala kesehatan, NS juga mengungkap adanya permintaan dari pihak tertentu kepada sejumlah orang tua korban agar tidak menceritakan kejadian tersebut di media sosial.
“Ada yang disuruh buat surat perjanjian, tidak boleh ngomong-ngomong atau buat video,” ungkap NS.
NS berharap adanya posko bantuan dan tanggung jawab dari pihak penyedia makanan, terutama bagi korban yang kurang mampu mendapatkan penanganan medis.
Temuan Dinas Kesehatan
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Muhtadi Arsyad Tumenggung, membenarkan adanya laporan dugaan keracunan massal di tiga sekolah yang tersebar di wilayah Kecamatan Kemiling.
Menurut data dari Puskesmas Kemiling, di SDN 4 Sumberejo, tercatat 77 siswa, sembilan guru, dan satu orang tua guru mengalami keluhan diare. Sementara itu, di SD Al Munawaroh, 64 siswa, 11 guru, dan penjaga sekolah turut terdampak. Total di kedua sekolah itu mencapai 163 orang.
Di SMPN 14 Bandar Lampung, sebanyak 43 orang melaporkan keluhan serupa. Dari jumlah tersebut, 37 orang menjalani rawat jalan dan enam lainnya dirawat inap di sejumlah rumah sakit seperti RS Bintang Amin, RS Bumi Waras, dan RS Graha Husada.
Muhtadi menjelaskan bahwa gejala paling cepat muncul pada Rabu sore dan umumnya diawali dengan demam dan sakit perut, kemudian berlanjut menjadi muntah dan diare.
“Ada juga yang awalnya mata bengkak dan gatal, lalu disusul demam,” ujarnya.
Penyelidikan dan Pengawasan
Hasil verifikasi sementara dari Dinas Kesehatan menunjukkan bahwa ketiga sekolah tersebut menerima pasokan makanan dari satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Kemiling yang memasok menu MBG.
Namun, SPPG yang memasok makanan itu belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) karena masih belum memenuhi sejumlah standar teknis yang diwajibkan.
Muhtadi menjelaskan bahwa pihaknya sedang menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel air dan sisa makanan untuk memastikan sumber permasalahan tersebut. Dalam waktu dekat, investigasi menyeluruh terhadap alur produksi makanan di SPPG terkait juga akan dilakukan.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login