Newestindonesia.co.id, Es gabus merupakan salah satu kuliner tradisional Indonesia yang memiliki sejarah panjang dan erat dengan kenangan masa kecil masyarakat. Jajanan sederhana berbahan dasar tepung hunkwe dan santan ini dahulu sangat populer di era 1990-an hingga awal 2000-an, terutama di lingkungan sekolah dasar dan perkampungan.
Nama “es gabus” berasal dari teksturnya yang lembut dan berpori, menyerupai gabus ketika digigit. Biasanya es gabus disajikan dalam potongan kecil berbentuk kotak atau balok, dengan warna merah muda, cokelat, atau hijau, serta disimpan dalam boks pendingin sederhana milik pedagang keliling.
Secara historis, es gabus berkembang sebagai jajanan rakyat karena bahan bakunya murah dan mudah didapat. Tepung hunkwe, gula, santan, dan pewarna makanan dimasak hingga mengental, lalu dibekukan. Kesederhanaan inilah yang membuat es gabus menjadi simbol kuliner kelas bawah yang merakyat dan bertahan lintas generasi.
Dalam beberapa tahun terakhir, es gabus kembali mencuri perhatian publik, terutama melalui media sosial. Banyak konten kreator membagikan nostalgia jajanan lawas, termasuk es gabus, yang kemudian memicu tren kuliner tempo dulu. Popularitasnya meningkat, tidak hanya di kalangan orang dewasa yang bernostalgia, tetapi juga generasi muda yang penasaran dengan jajanan klasik.
Pedagang Es Gabus Jadi Korban Kekerasan
Namun, viralnya es gabus kali ini tidak hanya disebabkan oleh faktor nostalgia. Publik juga menyoroti kisah pedagang es gabus yang menjadi korban dugaan kekerasan oleh oknum aparat. Peristiwa tersebut memicu simpati luas dari masyarakat dan mendorong diskusi tentang perlindungan terhadap pedagang kecil.
Kasus ini menempatkan es gabus sebagai simbol yang lebih besar dari sekadar jajanan tradisional. Ia menjadi representasi perjuangan ekonomi rakyat kecil yang menggantungkan hidup dari usaha informal.
Banyak warganet menyerukan dukungan kepada pedagang es gabus serta meminta penegakan hukum yang adil atas dugaan tindakan represif aparat.
Di tengah polemik tersebut, para pengamat budaya kuliner menilai bahwa es gabus mencerminkan ketahanan kuliner tradisional Indonesia. Meski kerap terpinggirkan oleh makanan modern dan minuman kekinian, es gabus tetap memiliki tempat di hati masyarakat.
Inovasi Dan Banyak Rasa
Beberapa pelaku usaha bahkan mulai melakukan inovasi, seperti menghadirkan es gabus dengan varian rasa cokelat premium, matcha, hingga kemasan modern tanpa menghilangkan cita rasa aslinya. Langkah ini dinilai mampu menjaga eksistensi es gabus di tengah persaingan industri kuliner.
Viralnya es gabus saat ini menjadi pengingat bahwa kuliner tradisional bukan hanya soal rasa, tetapi juga cerita, identitas, dan realitas sosial di baliknya. Di tengah sorotan publik terhadap kasus kekerasan oknum aparat, es gabus kembali hadir sebagai simbol keadilan sosial dan keberpihakan pada masyarakat kecil.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti Sekarang



You must be logged in to post a comment Login