Analisis: Mengapa Banyak Pengendara Semakin Ngebut Di Jalan Pascapandemi 2020?

0
Pengendara ngebut dijalan Newest Indonesia foto. Foto: Newest Indonesia

Pengendara ngebut dijalan Newest Indonesia foto. Foto: Newest Indonesia

Harga Emas Hari Ini
Advertisement

Newestindonesia.co.id, Sejak aktivitas masyarakat kembali normal setelah pandemi COVID-19 melanda dunia pada 2020, satu fenomena yang paling sering dikeluhkan pengguna jalan adalah meningkatnya perilaku pengendara yang melaju dengan kecepatan tinggi atau ngebut, baik di jalan perkotaan maupun antarkota.

Fenomena ini tidak hanya dirasakan oleh pengendara motor, tetapi juga pengemudi mobil, transportasi umum, hingga pejalan kaki. Jalan yang dulunya padat kini sering berubah menjadi lintasan cepat, bahkan di jam-jam sibuk.

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi?

1. Efek Psikologis Pascapandemi: Ingin “Mengejar Waktu”

Pandemi membatasi mobilitas masyarakat selama hampir dua tahun. Pembatasan sosial, work from home, hingga larangan mudik membuat aktivitas serba tertahan.

Ketika pembatasan dicabut, muncul dorongan psikologis untuk kembali bergerak cepat. Banyak orang merasa harus “mengejar ketertinggalan” — baik dalam pekerjaan, bisnis, maupun aktivitas harian. Dorongan ini tanpa disadari terbawa hingga ke perilaku berkendara.

Akibatnya, kecepatan menjadi simbol efisiensi, meskipun mengorbankan keselamatan.

2. Adaptasi Jalan Sepi yang Terbawa Hingga Sekarang

Selama masa pandemi, jalanan relatif lengang. Banyak pengendara terbiasa melaju cepat tanpa hambatan. Kebiasaan ini tertanam dan terbawa hingga kondisi lalu lintas kembali normal.

Masalahnya, situasi jalan tidak lagi sama. Volume kendaraan meningkat, tetapi refleks dan kebiasaan pengendara masih berada di “mode pandemi”, yakni ngebut karena merasa jalan akan selalu kosong.

Ketidaksinkronan ini menjadi salah satu pemicu meningkatnya risiko kecelakaan.

3. Tekanan Ekonomi dan Waktu Kerja yang Meningkat

Pascapandemi, banyak sektor menerapkan target kerja yang lebih ketat. Jam kerja lebih panjang, sistem kerja lebih fleksibel namun menuntut kecepatan, dan tekanan ekonomi membuat orang enggan terlambat.

Dalam kondisi seperti ini, kendaraan sering dianggap alat untuk menghemat waktu, bukan lagi sarana yang perlu kehati-hatian.

Baca juga:  Tak Perlu Bentak Anak, Cara Lembut Ini Justru Lebih Ampuh Bikin Patuh

Ngebut menjadi pilihan instan, meski berisiko tinggi.

Baca di halaman selanjutnya >>>

Berita Hukum Dan Kriminal
Advertisement

Tinggalkan Balasan