Analisis dari pasar menunjukkan bahwa dampak geopolitik mulai mencampuri keputusan investasi global. “Dalam dunia di mana kohesi geopolitik dalam aliansi Barat tidak lagi dianggap sesuatu yang pasti, kesediaan untuk terus menanam modal di aset-aset AS menjadi kurang otomatis,” kata Stephen Innes dari SPI Asset Management. “Ini bukan cerita likuidasi jangka pendek. Ini adalah cerita rebalancing yang lambat, dan itu lebih berdampak.”
Di Asia, pasar saham menunjukkan dinamika yang beragam setelah reaksi awal terhadap berita tarif tersebut. Hang Seng Hong Kong turun 1,1%, sementara indeks Shanghai Composite naik 0,3%. Nikkei 225 Jepang turun 0,7%, sedangkan Kospi Korea Selatan melonjak 1,3% didorong oleh lonjakan saham teknologi. Indeks Taiex Taiwan naik 0,7%, sementara Sensex India turun 0,6%.
Investasi safe-havens seperti emas dan perak menunjukkan reli. Harga emas kembali naik 1,6%, sementara harga perak melonjak 4,4%, mencerminkan permintaan investor untuk aset yang lebih aman di tengah ketidakpastian pasar. Kurs mata uang juga bergerak, dengan dolar AS menunjukkan penguatan terhadap yen Jepang dan pelemahan terhadap euro.
Sementara itu, pasar saham di AS yang ditutup karena libur masih menunjukkan tren mingguan di mana indeks utama seperti S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average mencatat rugi mingguan tipis setelah musim pendapatan kuartal yang baru saja berakhir, terutama dipengaruhi oleh diversifikasi sektor teknologi. Investor kini menantikan rentetan laporan pendapatan dari sejumlah perusahaan besar serta data inflasi terbaru dari PCE yang akan dirilis minggu ini.
(DAW)




You must be logged in to post a comment Login