Kronologi Lengkap Evakuasi Dramatis Bocah Terjebak Di Lubang Pengecoran Tebet Hingga Meninggal Dunia
Foto: dok. Istimewa
Newestindonesia.co.id, Duka mendalam menyelimuti warga Tebet, Jakarta Selatan. Seorang bocah laki-laki berinisial I yang baru berusia 4 tahun dilaporkan meninggal dunia setelah terperosok dan terjebak selama berjam-jam di dalam lubang proyek pengecoran sedalam 3,7 meter. Meski berhasil dievakuasi dalam kondisi hidup, nyawa korban tidak tertolong saat dilarikan ke rumah sakit.
Peristiwa tragis ini terjadi di kawasan Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan, pada Sabtu (27/6/2026) menjelang tengah malam. Pihak berwenang mengonfirmasi bahwa area tersebut merupakan lokasi proyek pembangunan taman milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.
Kronologi Kejadian: Korban Masuk Area Pembatas Seng
Berdasarkan data yang dihimpun, insiden bermula saat korban sedang bermain bersama rekannya di sekitar lokasi kejadian. Tanpa diduga, korban berlari masuk ke dalam area pengerjaan proyek yang dibatasi oleh pagar seng.
“Awal kejadian korban main dan tanpa disadari masuk ke bawah pembatas seng dan berlari di area pengerjaan taman. Ketika sedang berlari, korban terperosok ke dalam lubang,” bunyi keterangan tertulis dari Command Center Pemadam Kebakaran (Damkar), Minggu (28/6/2026).
Mengetahui sang anak masuk ke dalam lubang sempit tersebut, pihak keluarga langsung bergegas mencari bantuan. Laporan resmi diterima petugas pemadam kebakaran pada pukul 00.02 WIB dini hari, dan tim evakuasi tiba di lokasi beberapa menit setelahnya.
“Kemudian keluarga korban langsung melaporkan ke Damkar Matraman, informasi tersebut langsung disampaikan ke SCC 41 dan langsung ditindaklanjuti,” jelas pihak Command Center Damkar.
Proses Evakuasi 4 Jam dan Kendala di Lapangan
Proses penyelamatan berjalan sangat dramatis dan memakan waktu hampir empat jam. Sempitnya diameter lubang serta ramainya warga yang berkerumun menjadi kendala utama bagi tim di lapangan. Berdasarkan data kepolisian, lubang tersebut memiliki kedalaman sekitar 3,7 meter dengan diameter yang sangat sempit, yakni hanya 30×30 sentimeter.
Kapolsek Tebet AKP Ischak menjelaskan bahwa pihaknya bersama tim gabungan sempat mencoba melakukan metode evakuasi manual namun menemui jalan buntu.
“Korban terperosok ke dalam lubang proyek dengan kedalaman kurang lebih 3,5 sampai dengan 4 meter dan diameter lubang kurang lebih 30×30 cm,” kata AKP Ischak saat dihubungi, Senin (29/6/2026) dikutip melalui detikNews.
“Upaya evakuasi manual dengan memasukkan personel bertubuh kecil ke dalam lubang untuk menarik korban. Upaya kurang berhasil karena lubang sempit, korban mengalami trauma, dan tidak ada relawan yang bisa masuk ke lubang tersebut,” lanjut Ischak mengungkap kesulitan timnya.
Melihat situasi yang semakin kritis, petugas akhirnya memutuskan berkoordinasi dengan Puskesmas Tebet dan mengerahkan alat berat guna menggali tanah di samping lubang utama.
“Dilakukan pinjam pakai 2 unit ekskavator terdekat TKP. Sebelum penggalian, dilakukan konsolidasi untuk membuat jalur aman di samping lubang guna menghindari longsor. Polsek Tebet juga melakukan pengamanan TKP dengan pemasangan police line agar masyarakat tidak menghambat proses,” urai Ischak.
Ia juga menyayangkan banyaknya warga sekitar yang berkumpul di lokasi karena justru memperlambat ruang gerak petugas. “Ramainya warga yang menonton sehingga sempat menghambat proses evakuasi,” imbuhnya.
Meninggal Dunia dalam Perjalanan ke Rumah Sakit
Setelah berjibaku melawan waktu, petugas akhirnya berhasil mengangkat tubuh bocah I pada pukul 03.40 WIB. Korban langsung dilarikan menuju Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat.
Kepala Sektor Tebet Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Sudin Gulkarmat) Jakarta Selatan, Kusnanto, menegaskan bahwa korban sebenarnya masih bernyawa saat berhasil dikeluarkan dari dalam tanah.
“Anggota saya yang melakukan evakuasi dan juga disaksikan oleh warga setempat, masih dalam kondisi hidup. Jadi tidak tertolongnya dalam perjalanan ke rumah sakit,” tegas Kusnanto.
Respons Pemprov DKI dan Pernyataan Gubernur Pramono Anung
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memberikan konfirmasi resmi mengenai status proyek galian tersebut. Pramono mengakui bahwa lokasi jatuhnya korban merupakan bagian dari proyek penataan kota yang diinisiasi oleh Pemprov DKI melalui skema Corporate Social Responsibility (CSR).
“Memang itu adalah proyeknya yang diinisiasi oleh Pemerintah DKI Jakarta untuk pertamanan,” kata Pramono saat ditemui di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, Senin (29/6/2026).
Pramono memaparkan, malam itu korban sebenarnya sedang menemani sang ibu yang bekerja mencari nafkah di sekitar lokasi.
“Kebetulan anak ini ikut menemani ibunya jualan teh di Manggarai. Jamnya itu sudah hampir jam 12 malam, jam 11.50-anlah begitu,” papar Pramono.
Ia menambahkan bahwa area lubang tersebut sebenarnya berada di ruang tertutup yang dipersiapkan untuk fondasi infrastruktur taman. “Anak ini kemudian main ke ruang yang sebenarnya tertutup dan di ruang tertutup itu ada lubang, lubang untuk pengecoran di tempat itu,” tuturnya.
Atas musibah ini, Pramono menyampaikan rasa duka yang mendalam dari seluruh jajaran Pemprov DKI. Ia menegaskan seluruh biaya dan akomodasi keluarga korban telah dicover sepenuhnya, serta memberikan lampu hijau apabila pihak keluarga ingin membawa masalah ini ke ranah hukum.
“Pemprov DKI Jakarta merasa berduka dan kehilangan. Saya pada waktu malam itu juga sudah memerintahkan untuk memberikan support sepenuhnya kepada keluarga, termasuk macam-macamnya, sudah ditanggung sepenuhnya oleh Pemerintah DKI Jakarta,” kata Pramono.
“Kalau kemudian keluarga melakukan penuntutan, kami persilakan karena memang kejadian itu betul-betul di luar dugaan,” jelasnya secara terbuka.
Guna memastikan keluarga mendapatkan penanganan psikologis dan bantuan yang layak, Pramono telah menginstruksikan aparatur wilayah untuk mengawal kasus ini hingga tuntas. “Saya sudah memerintahkan kepada camat, lurah, dan sebagainya untuk ikut sampai dengan penguburan,” pungkasnya.
(DAW)
