Newestindonesia.co.id, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kembali menjadi sorotan publik setelah mencopot Luky Alfirman dari jabatannya sebagai Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan. Nama Luky mencuat setelah polemik lolosnya anggaran pengadaan motor listrik untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pencopotan tersebut diduga berkaitan dengan lolosnya anggaran pengadaan puluhan ribu unit motor listrik milik Badan Gizi Nasional (BGN), meskipun sebelumnya disebut telah ditolak oleh Menteri Keuangan.
Saat dikonfirmasi mengenai alasan pencopotan Luky Alfirman, Purbaya memberikan jawaban singkat yang memicu spekulasi publik.
“Mungkin (karena hal itu). Anda tebak sendiri,” kata Purbaya, Senin (11/5/2026) dikutip melalui Suara.com.
Sebelumnya, Purbaya juga mengakui adanya “kebobolan” dalam sistem perangkat lunak Direktorat Jenderal Anggaran (DJA) yang membuat anggaran pengadaan motor listrik untuk program MBG tetap lolos meski sempat ditolak.
Menurut Purbaya, sistem software DJA memiliki celah yang memungkinkan pengadaan tersebut tetap berjalan. Pemerintah kini mengklaim telah memperbaiki sistem dan memperketat pengawasan belanja kementerian dan lembaga.
“Itu software dari Ditjen Anggaran, itu sedang diperbaiki sehingga enggak kebobolan kayak kemarin tuh,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita edisi Maret 2026.
Kasus ini berkaitan dengan pengadaan 21.801 unit motor listrik yang dirancang untuk mendukung operasional program Makan Bergizi Gratis. Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana sebelumnya menjelaskan bahwa kendaraan tersebut akan digunakan untuk menunjang mobilitas Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Luky Alfirman sendiri merupakan pejabat senior di lingkungan Kementerian Keuangan dengan rekam jejak panjang. Ia diketahui telah mengabdi hampir 30 tahun di kementerian tersebut sebelum akhirnya dicopot dari posisi strategisnya.
Selain menjabat sebagai Dirjen Anggaran, Luky dikenal sebagai birokrat yang memiliki pengalaman di bidang fiskal dan pengelolaan keuangan negara. Berdasarkan data LHKPN, total kekayaan Luky Alfirman dilaporkan mencapai sekitar Rp52 miliar.
Menariknya, di tengah polemik pengadaan motor listrik, laporan lain menyebut koleksi kendaraan pribadi Luky justru didominasi mobil bermesin bensin konvensional dan tidak memiliki kendaraan listrik di garasinya.
Kasus ini menjadi perhatian karena menyangkut pengawasan anggaran negara dan penggunaan teknologi dalam sistem pengelolaan keuangan pemerintah. Kementerian Keuangan memastikan evaluasi dan penguatan sistem akan terus dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp


