Newestindonesia.co.id – Jakarta, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Pol. Suyudi Ario Seto, menegaskan bahwa upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba merupakan aksi strategis penting dalam mengimplementasikan visi Presiden RI yang terkandung dalam Asta Cita.
Pernyataan itu disampaikan saat menjadi narasumber dalam Career Day Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (MGBK) DKI Jakarta ke-10 di Balai Samudera, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Selasa (13/1/2026).
“Mens sana in corpore sano (dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat),” ujar Suyudi membuka paparannya, yang menurutnya merupakan fondasi utama bagi generasi muda meraih masa depan gemilang.
Strategi Pencegahan Narkoba dan Fakta Prevalensi di Indonesia
Komjen Suyudi mengungkapkan data survei BNN–BPS–BRIN tahun 2025 terhadap lebih dari 65.000 responden di 34 provinsi menunjukkan angka prevalensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia mencapai 2,11% atau sekitar 4,1 juta jiwa dari populasi usia produktif.
Selain itu, angka ‘pernah pakai’ mencapai 2,77% atau setara 5,43 juta jiwa, menunjukkan tingginya tingkat coba-coba penggunaan narkoba di masyarakat.
Menurut survei tersebut, mayoritas pengguna berada pada rentang usia produktif:
- Usia 25–49 tahun: 60,77%
- Usia 15–24 tahun: 22,27%
- Usia 50–64 tahun: 16,96%
Usia rata-rata pertama kali mengonsumsi narkoba juga mencatat angka yang memprihatinkan, yakni 18 tahun di wilayah perkotaan dan 22 tahun di perdesaan.
Bahaya Peredaran dan Strategi Sindikat Narkoba
Suyudi juga memaparkan karakteristik penyebaran narkoba di masyarakat. Dia menegaskan bahwa sumber mutlak perolehan narkoba berasal dari teman dengan persentase 81,92% di perkotaan dan 70,75% di perdesaan. Lokasi pertama kali penggunaan biasanya di rumah, kos, apartemen, kontrakan, atau asrama
Selain itu, strategi sindikat narkoba menurutnya melibatkan pemberian narkoba gratis pada tahap awal (sekitar 70,86%) untuk menjebak korban sampai ketergantungan, kemudian memaksa mereka untuk membeli atau terjerat dalam kegiatan kriminal seperti mencuri, menggadaikan barang, atau menjadi kurir bagi jaringan narkoba.
Tantangan Era Digital dan Ancaman Baru
Komjen Suyudi juga menyebutkan tantangan baru di era digital, di mana generasi muda makin rentan karena transaksi narkoba mudah dilakukan secara online. Ia juga menyoroti New Psychoactive Substances (NPS) yang semakin dikemas dengan bentuk kekinian sehingga menarik minat pengguna baru.
“Hasil uji laboratorium BNN terhadap 341 sampel cairan vape menemukan sejumlah kandungan berbahaya termasuk etomidate dan synthetic cannabinoid,” jelasnya, menegaskan bahwa jenis narkoba modern terus berkembang dengan berbagai modus baru.
Inisiatif BNN: Ananda Bersinar dan Kolaborasi Pendidikan
Untuk menanggulangi persoalan tersebut, BNN telah meluncurkan program Ananda Bersinar (Aksi Nasional Anti Narkotika Dimulai dari Anak) yang menempatkan keluarga sebagai benteng utama pencegahan narkoba sejak dini.
Program ini diperluas melalui kolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui integrasi kurikulum anti-narkotika dalam kegiatan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH), serta pembentukan Satgas Sekolah Bersinar yang memberdayakan guru sebagai pusat deteksi dini dan pencegahan di lingkungan sekolah.
Editor: DAW




You must be logged in to post a comment Login