Newestindonesia.co.id, Upaya yang diprakarsai oleh Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik hampir empat tahun antara Rusia dan Ukraina kini semakin intensif. Sejak akhir 2025, utusan dari Washington melakukan serangkaian pertemuan diplomatik di banyak ibu kota dunia untuk mendorong penerimaan terhadap rencana perdamaian baru.
Rencana perdamaian yang dirancang memiliki 28 poin dan telah menjadi fokus utama dalam negosiasi. Namun, beberapa pihak mengkritik bahwa rancangan tersebut dinilai cenderung menguntungkan Rusia, terutama pada isu wilayah yang disengketakan.
Dilansir melalui Associated Press (24/1), Pertemuan-pertemuan yang diadakan termasuk di Jenewa, Abu Dhabi, Paris, Berlin, dan Moskow, mempertemukan pejabat tinggi dari AS, Ukraina, dan Rusia dalam upaya mencapai kesepakatan.
Pembicaraan Trilateral di Abu Dhabi
Dalam langkah diplomatik yang belum pernah terjadi sebelumnya, Amerika Serikat, Ukraina, dan Rusia menggelar pembicaraan trilateral di Abu Dhabi pada Januari 2026. Pertemuan ini melibatkan tokoh-tokoh kunci dari ketiga negara yang bertujuan membahas parameter-parameter penting untuk perdamaian.
Seorang pejabat keamanan Ukraina, Rustem Umerov, menggambarkan diskusi tersebut sebagai upaya mendasar untuk menetapkan kerangka negosiasi damai. Fokus utama adalah bagaimana membentuk mekanisme kontrol dan zona penyangga di wilayah yang diperebutkan, terutama di provinsi Donetsk di timur Ukraina.
Namun, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memperingatkan bahwa kesimpulan akhir belum bisa ditarik. “Saat ini terlalu dini untuk menyimpulkan apapun,” kata Zelenskyy, sambil menekankan bahwa Rusia juga harus menunjukkan niat yang tulus untuk mengakhiri perang.
Tantangan Teritorial dan Keamanan
Isu teritorial tetap menjadi penghambat utama dalam percakapan perdamaian. Rusia terus menuntut kontrol penuh atas sekitar 20% wilayah Donetsk yang masih diperebutkan, sementara Ukraina menolak pengakuan permanen atas wilayah itu dan malah mengusulkan zona demiliterisasi dengan peran ekonomi tertentu.
Selain itu, meskipun terjadi negosiasi intensif, serangan militer masih berlangsung di lapangan. Serangan udara besar-besaran oleh Rusia terhadap kota-kota besar Ukraina, seperti Kyiv dan Kharkiv, dilakukan bersamaan dengan dialog damai, yang menimbulkan kritik keras dari pejabat Ukraina bahwa Rusia mencoba menggagalkan proses diplomasi.
Posisi Para Pemimpin dan Negosiator
Hingga saat ini, tidak ada terobosan berarti yang berhasil mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat tahun tersebut. Zelenskyy menegaskan bahwa perundingan tersebut penting, namun menyatakan bahwa hasil akhir diplomasi masih jauh dari jangkauan karena adanya perbedaan tajam antara syarat yang diajukan masing-masing pihak.
Sementara itu, peran Amerika Serikat sebagai mediator tetap menjadi pusat diplomasi internasional, mencoba menyeimbangkan tuntutan Moskow dan kebutuhan Kyiv akan jaminan keamanan dan kedaulatan.
Upaya perdamaian yang dipimpin AS telah membawa para pemimpin Rusia dan Ukraina ke meja negosiasi dalam berbagai forum internasional. Meski mendapat momentum diplomatik dan semakin banyak pertemuan tingkat tinggi, isu teritorial seperti status Donbas dan kontrol wilayah tetap menjadi titik berat yang belum terselesaikan. Di sisi lain, konflik bersenjata terus berlangsung, mengingatkan bahwa jalur menuju perdamaian yang stabil masih panjang dan kompleks.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login