Newestindonesia.co.id, Pemerintah China menetapkan target pertumbuhan ekonomi tahun 2026 di kisaran 4,5 hingga 5 persen, menjadi target terendah dalam lebih dari tiga dekade terakhir. Langkah ini mencerminkan tantangan besar yang dihadapi ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut, mulai dari lemahnya permintaan domestik hingga tekanan geopolitik global.
Target tersebut diumumkan oleh Perdana Menteri China Li Qiang dalam laporan kerja pemerintah pada pembukaan sidang tahunan National People’s Congress (NPC) di Beijing.
Li Qiang mengatakan perekonomian China menghadapi situasi yang semakin kompleks baik dari dalam negeri maupun dari faktor eksternal.
“Dalam beberapa tahun terakhir jarang sekali kita menghadapi situasi global yang begitu rumit dan penuh tantangan,” kata Li Qiang dalam pidatonya dikutip melalui CNN.
Menurut pemerintah China, meskipun ekonomi masih menunjukkan ketahanan, berbagai tekanan struktural tetap membayangi, termasuk krisis sektor properti, konsumsi domestik yang lemah, dan persaingan geopolitik dengan negara lain.
Pertumbuhan Ekonomi Melambat
Dikutip melalui laporan Wall Street Journal, Target baru tersebut lebih rendah dibandingkan target sebelumnya yang berada di sekitar 5 persen pada periode 2023–2025. Jika tercapai, pertumbuhan ini akan menjadi yang paling lambat dalam lebih dari 30 tahun di luar periode pandemi Covid-19.
Para analis menilai langkah ini menunjukkan perubahan strategi Beijing dari mengejar pertumbuhan cepat menuju pertumbuhan berkualitas.
Ekonom Bank of America untuk wilayah Greater China, Helen Chiao, mengatakan target moderat tersebut mencerminkan pendekatan realistis pemerintah.
“Ini menunjukkan para pembuat kebijakan mulai mengakui bahwa lemahnya permintaan domestik akan sulit pulih dalam waktu singkat,” ujar Chiao.
Selama beberapa tahun terakhir, ekonomi China menghadapi sejumlah tekanan serius, antara lain:
- Krisis sektor properti yang berkepanjangan
- Deflasi dan persaingan harga di berbagai industri
- Penurunan investasi dan konsumsi domestik
- Ketegangan perdagangan internasional
Dampak Tarif dan Geopolitik
Faktor eksternal juga ikut memengaruhi perlambatan ekonomi China, termasuk dampak perang dagang dan kebijakan tarif dengan Amerika Serikat yang masih terasa hingga kini.
Meski demikian, China tetap mencatat surplus perdagangan besar pada 2025 dengan memperluas pasar ekspor ke negara lain.
Selain itu, pemerintah China juga tengah mempersiapkan strategi ekonomi jangka panjang melalui Rencana Lima Tahun (2026–2030) yang berfokus pada inovasi teknologi dan kemandirian industri.
Beijing juga menargetkan penciptaan lebih dari 12 juta lapangan kerja di perkotaan dengan tingkat pengangguran sekitar 5,5 persen.
Fokus Baru: Konsumsi dan Teknologi
Untuk mendorong pertumbuhan, pemerintah China menekankan penguatan pasar domestik dan konsumsi rumah tangga sebagai pilar utama ekonomi.
Selain itu, investasi besar diarahkan pada sektor teknologi strategis seperti kecerdasan buatan (AI), semikonduktor, dan kendaraan listrik guna memperkuat daya saing global negara tersebut.
Ekonom Capital Economics Julian Evans-Pritchard menilai langkah kebijakan China masih terbilang hati-hati.
“Meskipun pemerintah ingin menyeimbangkan ekonomi ke arah konsumsi, kebijakan konkret untuk mencapai tujuan tersebut masih terbatas,” ujarnya.
Sinyal Era Baru Ekonomi China
Selama beberapa dekade sejak reformasi ekonomi akhir 1970-an, China dikenal dengan pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat bahkan mencapai dua digit. Namun dalam beberapa tahun terakhir, laju tersebut mulai melambat seiring perubahan struktur ekonomi dan dinamika global.
Penurunan target pertumbuhan ini dianggap sebagai sinyal bahwa China sedang memasuki era baru pertumbuhan yang lebih lambat namun lebih berkelanjutan.
Para analis menilai fokus Beijing kini tidak lagi semata mengejar angka pertumbuhan tinggi, tetapi memastikan stabilitas ekonomi jangka panjang dan kemandirian teknologi.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login