Newestindonesia.co.id, Menjelang putaran kedua perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan syarat tegas yang menurutnya harus dimasukkan dalam setiap kesepakatan yang dicapai kedua negara. Netanyahu menuntut pemindahan seluruh pasokan uranium yang telah diperkaya dari wilayah Iran sebagai bagian dari kesepakatan yang sah dan efektif.
Dalam pidato di Yerusalem pada Minggu (15/2), Netanyahu menyampaikan tiga poin utama yang ia nilai krusial untuk setiap kesepakatan antara Washington dan Teheran. Pernyataan itu disampaikan saat Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi tengah menuju Jenewa, Swiss, untuk menghadiri putaran terbaru perundingan nuklir.
“Yang pertama adalah bahwa semua material yang diperkaya harus dibawa keluar dari Iran,” kata Netanyahu. “Yang kedua adalah bahwa tidak boleh ada kemampuan pengayaan … bongkar peralatan dan infrastruktur yang memungkinkan Anda melakukan pengayaan sejak awal,” ujarnya, seperti dikutip dari AFP dan Al Arabiya.
Selain itu, Netanyahu juga menyoroti masalah program rudal balistik Iran sebagai bagian dari tuntutan dalam perundingan nuklir ini, yang menurutnya tidak boleh diabaikan.
Ketidakpastian atas stok uranium Iran
Pernyataan Netanyahu itu muncul di tengah kekhawatiran global tentang stok uranium yang diperkaya Iran hingga level 60 persen, yang disebut lebih dari 400 kilogram berdasarkan data terakhir yang diawasi sebelum serangan udara Israel dan AS terhadap fasilitas nuklir Teheran Juni lalu.
Selain itu, ia menekankan pentingnya inspeksi berkelanjutan dan efektif terhadap program nuklir Iran, bukan hanya pemeriksaan awal.
“Harus ada inspeksi nyata, inspeksi substantif untuk semua hal di atas,” katanya.
Latar belakang putaran perundingan
Putaran perundingan nuklir kali ini dijadwalkan digelar di Jenewa pada Selasa (17/2). Perundingan tersebut merupakan upaya lanjutan untuk meredakan ketegangan yang meningkat tajam antara Washington dan Teheran dalam beberapa bulan terakhir, terutama setelah perundingan sebelumnya terhenti akibat konflik bersenjata antara Israel dan Iran pada Juni 2025 serta eskalasi ketegangan regional.
Latar belakang perundingan yang kompleks juga dipengaruhi oleh keputusan AS untuk meningkatkan tekanan militer, termasuk pengerahan kelompok kapal induk di kawasan Timur Tengah. Hal ini muncul sebagai bagian dari strategi diplomasi dan pencegahan yang menyertai pembicaraan diplomatik.
Dukungan AS dan tekanan regional
Menurut laporan media, Presiden Donald Trump pernah mengatakan kepada Netanyahu bahwa Washington siap mendukung serangan Israel terhadap program rudal balistik Iran jika perundingan nuklir antara AS dan Teheran gagal mencapai kesepakatan.
Tuntutan Netanyahu mencerminkan keraguan Tel Aviv terhadap kemungkinan kesepakatan yang hanya membatasi pengayaan uranium tanpa membongkar infrastruktur yang memungkinkannya. Pernyataan ini sekaligus menunjukkan persyaratan yang jauh lebih luas dibandingkan syarat-syarat yang pernah diajukan dalam perjanjian nuklir sebelumnya.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login