Newestindonesia.co.id, Sekretaris Negara AS Marco Rubio membela tindakan pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap Venezuela di depan Komite Hubungan Luar Negeri Senat, menegaskan bahwa kebijakan terbaru meningkatkan keamanan Amerika dan memajukan tujuan diplomatik, meski menuai kritik tajam dari kubu Demokrat.
Dalam kesaksian yang berlangsung Rabu (28 Januari 2026), Rubio mengklaim bahwa Amerika Serikat “lebih baik hari ini di Venezuela daripada empat minggu lalu” setelah operasi militer yang menggulingkan Presiden Nicolás Maduro.
“Kami tentu lebih baik hari ini di Venezuela dibandingkan dengan empat minggu lalu,” ujar Rubio kepada para senator seperti dikutip melalui Associated Press.
Rubio juga meredam kekhawatiran soal kemungkinan intervensi militer lanjutan, meskipun ia tidak sepenuhnya menutup pintu itu. Dalam keterangannya, dia menyatakan bahwa administrasi tidak membahas rencana agresi baru, namun opsi militer tetap menjadi bagian dari “alat” kebijakan AS jika situasi mengharuskan.
Sebelumnya, laporan lain menyebut Rubio akan memperingatkan bahwa Washington siap mengambil tindakan lebih keras jika kepemimpinan sementara Venezuela menyimpang dari tujuan AS.
Upaya Diplomasi & Keuangan — Bukan Penempatan Pasukan
Rubio menegaskan bahwa AS bukan sedang berperang dengan Venezuela dan bahwa tidak ada pasukan AS yang ditempatkan secara resmi di negara itu.
“Ini bukan perang; kami tidak berada di tanah Venezuela,” tegas Rubio kepada anggota komite.
Ia menambahkan bahwa Venezuela kemungkinan akan segera diizinkan menjual minyak yang kini dikenai sanksi AS. Pendapatan dari penjualan tersebut akan ditempatkan di rekening yang dikendalikan oleh Departemen Keuangan AS dan hanya digunakan setelah otorisasi anggaran bulanan disetujui oleh Washington — sebuah langkah yang menurutnya akan membantu layanan dasar seperti keamanan dan kesehatan.
Kritik dari Partai Demokrat
Anggota Demokrat di Senat mempertanyakan nilai strategis dari operasi yang memuncak dengan penangkapan Maduro. Mereka menyuarakan kekhawatiran bahwa meskipun pemimpin itu sudah digulingkan, kekuasaan sehari-hari dan stabilitas politik di Venezuela tetap tidak pasti.
Salah seorang senator Demokrat menyatakan bahwa meski biaya besar telah dikeluarkan oleh operasi militer dan blokade, struktur kekuasaan lama Venezuela masih banyak bertahan.
Normalisasi Hubungan & Reaksi Internasional
Menanggapi operasi AS, pemerintah sementara Venezuela di bawah Delcy Rodríguez menunjukkan keterbukaan untuk menjalin hubungan yang lebih “respektif” dengan Washington, meskipun sikapnya telah berubah sejak awal.
Washington juga telah memulai langkah awal untuk membuka kembali kedutaan besarnya di Caracas, sebuah sinyal kemungkinan normalisasi hubungan diplomatik setelah bertahun-tahun hubungan tegang.
Namun, reaksi global beragam. Para pejabat PBB, negara sahabat, dan pakar hukum internasional mempertanyakan legalitas operasi AS yang mereka nilai melanggar kedaulatan nasional Venezuela.
Operasi militer AS yang dilakukan pada awal Januari 2026 berhasil menangkap Maduro yang kini menghadapi dakwaan narkotika dan terorisme di pengadilan federal AS di New York.
Langkah ini menjadi salah satu momen paling tegas Amerika mencoba menggulingkan rezim asing sejak Perang Irak. Dampaknya masih terasa di Caracas, di mana banyak warga menunjukkan trauma dan kehancuran fisik setelah serangan.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti Sekarang



You must be logged in to post a comment Login