Newestindonesia.co.id, Dalam eskalasi terbaru konflik Rusia–Ukraina yang memasuki hampir empat tahun, militer Rusia dilaporkan melancarkan serangan udara besar-besaran dengan menggunakan 111 drone dan satu rudal balistik ke wilayah Ukraina pada Kamis dini hari waktu setempat. Serangan ini terjadi meskipun Presiden AS Donald Trump mengklaim Presiden Rusia Vladimir Putin telah menyetujui jeda serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina untuk sementara waktu.
Serangan Drone dan Rudal Balistik
Menurut laporan militer Ukraina, dalam serangan tersebut Rusia meluncurkan 111 unit drone tempur dan satu rudal balistik ke berbagai wilayah di Ukraina. Meski jumlah besar ini menunjukkan intensitas agresi yang tinggi, belum ada konfirmasi resmi mengenai jumlah target yang berhasil ditembus atau kerusakan infrastruktur akibat serangan.
Laporan militer Ukraina menyatakan bahwa sebagian besar drone dan rudal berhasil dihadang oleh sistem pertahanan udara mereka, namun beberapa wilayah tetap terkena dampak serangan. Detail penyebaran serangan di lapangan belum dipublikasikan secara rinci oleh Kiev.
Reaksi Ukraina
Dalam pernyataannya kepada media, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menanggapi klaim jeda serangan yang disampaikan oleh Trump dengan hati-hati. Zelenskyy menegaskan bahwa sejauh ini belum ada perjanjian resmi yang disepakati antara Kiev dan Moskow terkait gencatan serangan energi ataupun militer.
Lebih lanjut, Zelenskyy mengatakan:
“Tidak ada gencatan senjata. Tidak ada kesepakatan resmi mengenai gencatan senjata — seperti yang biasanya dicapai dalam negosiasi. Tidak ada dialog langsung dan tidak ada kesepakatan langsung antara kami dengan Rusia mengenai hal ini.”
Presiden Ukraina menambahkan bahwa Kiev siap untuk menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia, termasuk kilang minyak, asalkan Moskow menghentikan serangan mereka terhadap jaringan listrik dan fasilitas energi Ukraina.
Zelenskyy menekankan:
“Jika Rusia tidak menyerang kami, kita … akan mengambil langkah yang sesuai.”
Konteks Diplomasi dan Perundingan
Serangan ini terjadi di tengah upaya diplomasi internasional yang bernuansa meningkat, termasuk pembicaraan trilateral antara Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Diskusi ini mencoba mencari solusi sementara seputar serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina di tengah cuaca musim dingin ekstrem. Namun menurut Zelenskyy, proses ini masih jauh dari mencapai kesepakatan damai yang komprehensif.
Salah satu hambatan utama adalah permintaan Rusia agar Ukraina menyerahkan wilayah Donbas yang masih dikuasainya, sebuah tuntutan yang ditegaskan Kiev tidak akan diterima.
Dinamika Perang yang Terus Meningkat
Selain serangan drone ini, laporan independen dari berbagai media internasional menyebutkan bahwa Rusia masih aktif menargetkan infrastruktur energi Ukraina di berbagai daerah, termasuk jaringan listrik dan fasilitas penting lainnya, di tengah musim dingin yang parah. Serangan seperti ini dipandang sebagai upaya tekanan geografis dan psikologis terhadap warga sipil Ukraina yang menghadapi suhu ekstrem.
Beberapa laporan juga mencatat bahwa serangan semacam ini dari militer Rusia terjadi meskipun klaim politik yang menyebut adanya jeda serangan untuk kebutuhan diplomasi atau pertimbangan kemanusiaan.
Dampak bagi Warga Ukraina
Dilansir melalui The Guardian, Meski perincian resmi tentang korban jiwa dari gelombang serangan drone ini belum diumumkan, catatan dari serangan sebelumnya menunjukkan bahwa serangan semacam ini seringkali berdampak pada kerusakan fasilitas publik, pemadaman listrik, risiko keselamatan warga sipil, serta gangguan sistem penyedia layanan dasar seperti pemanas dan air bersih selama musim dingin.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti Sekarang



You must be logged in to post a comment Login