Newestindonesia.co.id, Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyatakan akan meninjau kembali hubungan dengan aliansi militer NATO setelah konflik dengan Iran berakhir. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio di tengah meningkatnya ketegangan dengan sejumlah sekutu Eropa.
Rubio menegaskan bahwa evaluasi terhadap NATO menjadi langkah yang tidak terhindarkan, terutama setelah muncul hambatan dalam kerja sama militer selama konflik berlangsung.
“Saya pikir tidak diragukan lagi, sayangnya, setelah konflik ini berakhir, kita harus meninjau kembali hubungan itu. Kita harus meninjau kembali nilai NATO dalam aliansi itu untuk negara kita,” kata Rubio kepada pembawa acara Sean Hannity di Fox News, dilansir AFP, Rabu (1/4/2026).
Menurut Rubio, keputusan akhir mengenai arah hubungan AS dengan NATO tetap berada di tangan Presiden Donald Trump.
Kekecewaan AS terhadap Sekutu NATO
Pernyataan tersebut muncul setelah sejumlah negara anggota NATO di Eropa disebut membatasi dukungan terhadap operasi militer AS dalam perang melawan Iran.
Rubio mengungkapkan bahwa selama ini ia termasuk salah satu pendukung kuat NATO, terutama karena manfaat strategis yang dimiliki aliansi tersebut.
Ia menyebut dirinya pernah menjadi “salah satu pembela NATO terkuat” saat masih di Senat AS karena melihat “nilai yang besar” dalam aliansi itu.
Namun, kondisi di lapangan saat ini dinilai berbeda. Menurutnya, keberadaan pangkalan militer di Eropa yang sebelumnya menjadi keunggulan NATO kini justru tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh AS.
“Jika sekarang kita telah mencapai titik di mana aliansi NATO berarti kita tidak dapat menggunakan pangkalan-pangkalan itu, bahwa pada kenyataannya kita tidak lagi dapat menggunakan pangkalan-pangkalan itu untuk membela kepentingan Amerika, maka NATO adalah jalan satu arah,” tegas Rubio.
Penolakan Italia dan Spanyol Picu Ketegangan
Ketegangan semakin meningkat setelah beberapa negara Eropa mengambil sikap yang dinilai menghambat operasi militer AS.
Italia dilaporkan menolak izin pendaratan pesawat pengebom AS yang hendak menuju Timur Tengah, sementara Spanyol menutup wilayah udaranya bagi pesawat militer AS yang menjalankan misi terkait Iran.
Rubio menyoroti sikap tersebut sebagai bentuk ketidakseimbangan dalam aliansi.
“Ketika kita membutuhkan mereka untuk mengizinkan kita menggunakan pangkalan militer mereka, jawaban mereka adalah ‘Tidak?’ Lalu mengapa kita berada di NATO? Anda harus mengajukan pertanyaan itu,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak meminta sekutu NATO untuk ikut melakukan serangan udara, melainkan hanya memberikan dukungan logistik berupa akses fasilitas militer.
Bayang-bayang Sikap Trump terhadap NATO
Pernyataan Rubio juga sejalan dengan sikap Presiden Donald Trump yang sejak lama mengkritik NATO. Trump kerap menilai bahwa sekutu-sekutu AS tidak memberikan kontribusi yang seimbang dalam aliansi tersebut.
Dalam perkembangan sebelumnya, Trump bahkan memperingatkan bahwa masa depan NATO bisa “sangat buruk” jika negara-negara anggotanya tidak mendukung kepentingan strategis AS, termasuk dalam konflik di Timur Tengah.
Selain itu, Trump juga mengisyaratkan bahwa keterlibatan AS dalam perang Iran tidak akan berlangsung lama dan bisa berakhir dalam waktu dekat.
Perang Iran Jadi Titik Balik Hubungan Transatlantik
Konflik antara AS dan Iran kini tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan Timur Tengah, tetapi juga memicu dinamika baru dalam hubungan transatlantik antara Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.
Sikap sebagian negara NATO yang memilih membatasi dukungan militer menunjukkan adanya perbedaan kepentingan yang semakin terlihat jelas.
Evaluasi hubungan NATO oleh AS diperkirakan akan menjadi salah satu isu geopolitik penting setelah perang Iran berakhir, sekaligus berpotensi mengubah arah kerja sama keamanan global ke depan.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login