Newestindonesia.co.id, Iran memutus koneksi internet dan jalur teleponnya, secara efektif memutus komunikasi warga negara berpenduduk 85 juta orang dengan dunia luar, seiring protes nasional yang semakin meluas akibat krisis ekonomi yang memburuk.
Dilansir melalui Associated Press (11/1), Langkah pemutusan layanan komunikasi itu dilakukan pada Kamis malam (8/1), mengikuti pola blackout yang sebelumnya juga dipakai oleh pemerintah di masa protes besar, seperti pada 2019 dan pasca kematian Mahsa Amini pada 2022.
Pemadaman ini bertujuan membatasi penyebaran gambar dan laporan langsung dari aksi protes, yang dipicu oleh semakin parahnya nilai tukar rial dan inflasi yang semakin membebani rakyat.
Upaya Mengatasi Isolasi: Starlink & Hambatan Teknologi
Beberapa warga mencoba menggunakan Starlink, layanan internet satelit dari luar negeri, untuk tetap terhubung ke dunia. Namun, pemerintah Iran dilaporkan mengganggu sinyal GPS yang diperlukan oleh perangkat Starlink, sehingga akses tetap sangat terbatas dan rawan risiko hukum bagi pengguna.
Starlink sendiri tidak diizinkan di Iran, dan penggunaannya berpotensi menyebabkan penangkapan atau ancaman hukuman berat bagi warga yang terhubung.
Kekerasan & Tanggapan Pemerintah
Protes yang kini memasuki minggu ketiga telah menyebar ke berbagai kota besar seperti Teheran, Mashhad dan Kerman, dengan laporan ratusan demonstran tewas dan ribuan ditangkap.
Rekaman video yang sempat tersebar sebelum akses diputus menunjukkan bentrokan antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan, termasuk aksi memblokir jalan dan membakar barang-barang di jalanan.
Pemerintah Iran telah memperketat sikapnya, dengan jaksa agung mengatakan bahwa peserta protes bisa dianggap sebagai “musuh Tuhan”, istilah yang dapat membawa hukuman mati berdasarkan hukum Iran.
Sementara itu, media negara menggambarkan ketertiban di banyak wilayah dan menyiarkan dukungan bagi pemerintah, meskipun banyak pusat protes justru dicatat tidak disiarkan secara luas.
Kondisi Internet & Dampaknya
Para ahli teknologi menggambarkan pemutusan internet kali ini sebagai lebih parah dan canggih dibanding pemutusan sebelumnya, dengan penurunan trafik internet hingga sekitar 90% dan bloking panggilan internasional serta layanan seluler.
Mekanisme blackout ini dijalankan secara selektif: sebagian layanan pemerintah dan propaganda tetap berfungsi, sementara akses publik sangat dibatasi.
Internet blackout juga menghambat akses terhadap informasi penting, termasuk transaksi digital, rumah sakit, bank, dan layanan darurat, yang memperparah tekanan pada kehidupan sehari-hari masyarakat Iran.
Suara dari Lapangan & Reaksi Internasional
Aktivis hak asasi manusia serta tokoh internasional mengecam tindakan keras pemerintah Tehran dan menyerukan penghormatan terhadap hak sipil demonstran. Tekanan global meningkat seiring laporan kekerasan yang terus berkembang.
Namun dengan pemutusan jaringan komunikasi, verifikasi independen terhadap kejadian di lapangan kian sulit, dan keluarga warga Iran di luar negeri terus mencari kepastian akan keselamatan orang-orang yang mereka cintai.
Kesimpulan:
Pemutusan layanan internet dan ponsel oleh Iran merupakan langkah drastis untuk membungkam protes publik yang berakar dari kesengsaraan ekonomi dan tuntutan perubahan politik. Pemberangusan ini menghambat aliran informasi, menimbulkan kekhawatiran atas potensi kekerasan yang lebih luas, serta menempatkan warga sipil dalam posisi yang sangat rawan terhadap ancaman hukum dan kekerasan.
Editor: DAW




You must be logged in to post a comment Login