Newestindonesia.co.id, Pemerintah Rusia menyatakan keprihatinan serius atas pengerahan personel militer NATO ke Greenland, wilayah Arktik yang kini menjadi sorotan geopolitik global. Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan yang meningkat di kawasan lintang tinggi tersebut, setelah beberapa negara anggota NATO menempatkan pasukan untuk latihan dan misi bersama.
Kedutaan Besar Rusia di Belgia, yang juga menjadi lokasi markas besar NATO, mengatakan bahwa situasi di Greenland “menjadi keprihatinan serius bagi kami.” Pernyataan itu menuduh aliansi meningkatkan kehadiran militer “dengan dalih palsu tentang ancaman yang semakin besar dari Moskow dan Beijing.”
Pernyataan keras Moskow ini muncul setelah beberapa negara NATO, termasuk Prancis, Swedia, Jerman, dan Norwegia, mengumumkan pengiriman personel militer ke ibu kota Greenland, Nuuk, untuk misi pengintaian dan latihan militer.
Mute Egede, Wakil Perdana Menteri Greenland, mengatakan pejabat lokal telah dijadwalkan mulai menyambut personel militer NATO sejak Kamis (15/1). Ia menjelaskan bahwa kehadiran pasukan akan semakin intensif dengan “lebih banyak penerbangan dan kapal militer” dalam beberapa hari mendatang, dengan tujuan utama pelatihan.
Langkah ini terjadi setelah pertemuan antara pejabat AS, Denmark, dan Greenland di Gedung Putih gagal menyelesaikan perbedaan pendapat mendasar terkait masa depan Greenland. Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya berulang kali menyatakan keinginannya untuk mengambil alih pulau itu dengan dalih keamanan strategis, meskipun pejabat Denmark menolak keras ide tersebut dan menyatakan tidak perlu adanya perubahan status.
Rasmus Sinding Søndergaard, pakar hubungan internasional, mengatakan bahwa meningkatnya aktivitas militer di Arktik mencerminkan persaingan kekuatan besar yang semakin tajam di kawasan tersebut. Arktik dinilai memiliki nilai strategis tinggi, terutama karena sumber daya mineral yang melimpah dan jalur pelayaran baru yang terbuka akibat perubahan iklim.
Rusia telah mengecam apa yang disebutnya sebagai “militarisasi yang tidak perlu” di wilayah yang secara tradisional bukan menjadi pusat konflik bersenjata. Pemerintah Moskow menyerukan agar wilayah Arktik tetap menjadi ‘zona perdamaian, dialog, dan kerja sama’, bukan arena persaingan militer.
Sementara itu, NATO dan sekutu Eropa mengatakan kehadiran militer yang meningkat di Greenland bertujuan untuk menjamin stabilitas dan keamanan kawasan, bukan untuk mengintimidasi Rusia atau negara lain. Mereka menegaskan bahwa latihan tersebut termasuk dalam agenda kerja sama pertahanan kolektif yang telah disepakati sebelumnya.
Perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa ketegangan di Arktik bisa menjadi salah satu fokus geopolitik utama sepanjang 2026, dengan berbagai kekuatan dunia memetakan strategi masing-masing di wilayah yang semakin strategis.
Sumber: Berbagai Sumber, Editor: DAW




You must be logged in to post a comment Login