Alibaba Larang Karyawan Gunakan Claude Milik Anthropic, Picu Isu ‘Spyware’ Dan Perang AI AS-China

gettyimages-2278704893-612x612

SHENZHEN, CHINA - 28 Mei: Logo Alibaba ditampilkan di sebuah gedung di samping kamera pengawasan di Shenzhen Alibaba Center pada 28 Mei 2026 di Shenzhen, Provinsi Guangdong, China. Alibaba Group adalah salah satu perusahaan teknologi terbesar di China, dengan bisnis yang mencakup e-commerce, komputasi awan, logistik, pembayaran digital, dan kecerdasan buatan. (Foto oleh Cheng Xin/Getty Images)

Harga Emas Hari Ini
Advertisement

Newestindonesia.co.id, Hubungan antara raksasa teknologi asal China, Alibaba Group Holding, dengan startup kecerdasan buatan (AI) terkemuka asal Amerika Serikat, Anthropic, berada di titik nadir. Mulai 10 Juli 2026, Alibaba secara resmi mengeluarkan perintah internal yang melarang keras seluruh karyawannya menggunakan asisten pemrograman berbasis AI, Claude Code, serta seluruh lini model AI Claude lainnya.

Keputusan drastis ini diambil setelah muncul temuan dari komunitas pengembang (developer) global yang mengungkap adanya kode pelacak rahasia di dalam sistem Claude Code. Kode tersebut diduga berfungsi mirip dengan spyware (perangkat pengintai) yang menargetkan pengguna di wilayah China.

Berdasarkan memo internal Alibaba yang bocor ke media, manajemen perusahaan secara tegas memasukkan peranti lunak buatan Anthropic tersebut ke dalam kategori berisiko tinggi.

“Setelah melakukan evaluasi komprehensif, Claude Code kini telah dimasukkan ke dalam daftar perangkat lunak berisiko tinggi dengan kerentanan keamanan serius (back-door risks). Seluruh staf diwajibkan menghapus instalan produk Anthropic termasuk varian Sonnet, Opus, dan Fable paling lambat 10 Juli,” bunyi penggalan surat edaran internal Alibaba tersebut, dikutip melalui laporan South China Morning Post.

Sebagai gantinya, raksasa e-commerce yang berbasis di Hangzhou ini menginstruksikan para insinyur perangkat lunaknya untuk beralih menggunakan Qoder, platform asisten pemrograman internal yang dikembangkan secara mandiri oleh Alibaba.

Bermula dari Temuan Komunitas Reddit

Krisis kepercayaan ini memuncak setelah seorang peneliti keamanan siber dengan nama pengguna LegitMichel777 melakukan teknik reverse-engineering (bedah kode) terhadap pembaruan Claude Code versi 2.1.91 yang dirilis April lalu.

Hasil investigasi tersebut menunjukkan bahwa alat bantu pembuat kode tersebut secara diam-diam memindai pengaturan zona waktu komputer pengguna—secara khusus mendeteksi area Asia/Shanghai dan Asia/Urumqi. Sistem juga mencocokkan konfigurasi proksi (VPN) dengan daftar server tersembunyi milik laboratorium AI dan korporasi besar di China, termasuk jaringan internal Alibaba, Baidu, ByteDance, dan Moonshot AI.

Baca juga:  5 Jenis Hosting Terbaik Dan Cepat Untuk Membuat Website

Uniknya, sistem pelacakan ini menggunakan teknik steganografi untuk menyembunyikan sinyal pemindaian di dalam teks perintah (system prompt) yang dikirim kembali ke peladen (server) Anthropic di AS. Mekanisme ini mengubah format tanggal secara halus dan memodifikasi karakter tanda kutip (apostrophe) menjadi kode Unicode berbeda yang tidak kasatmata bagi pengguna manusia, tetapi terbaca secara instan oleh mesin pemantau Anthropic.

Dalih Eksperimen dan Tudingan ‘Distilasi AI’

Merespons gaduhnya komunitas teknologi, pihak Anthropic tidak membantah keberadaan sistem pelacak tersebut. Melalui platform X (dahulu Twitter), Thariq Shihipar, salah satu insinyur senior tim Claude Code, mengonfirmasi bahwa penanaman kode tersebut adalah bagian dari uji coba proteksi perusahaan.

“Ini adalah eksperimen yang kami luncurkan pada Maret lalu. Tujuannya adalah mencegah penyalahgunaan akun oleh pihak ketiga (unauthorized resellers) dan melindungi model kami dari praktik distilasi (adversarial distillation),” jelas Shihipar.

Isu distilasi—yaitu metode melatih model AI lokal menggunakan data jawaban dari AI kompetitor yang lebih canggih guna memangkas biaya riset jutaan dolar—memang menjadi polemik panas. Sebelum insiden boikot ini terjadi, Anthropic sempat mengirimkan surat protes kepada Komite Perbankan Senat AS dan Gedung Putih. Anthropic menuduh laboratorium AI milik Alibaba, Qwen, mengoperasikan 25.000 akun palsu demi mengeruk 28,8 juta interaksi data dari model Claude secara ilegal.

Langkah pemblokiran penuh oleh Alibaba menandai babak baru dalam fragmentasi industri teknologi global. Kebijakan ini sekaligus membalikkan strategi Alibaba awal tahun ini yang sempat mensubsidi dan membebaskan karyawannya memanfaatkan teknologi AI barat terbaik, termasuk GPT dari OpenAI dan Gemini dari Google, demi memacu produktivitas internal. Kini, dengan meningkatnya risiko kepatuhan hukum dan ketegangan geopolitik Washington-Beijing, batas keamanan siber korporasi menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar.

(DAW)

Baca juga:  Perang Israel-Iran, Apa Dampaknya Terhadap Indonesia?

Berita Hukum Dan Kriminal
Advertisement