1.000 Hari Agresi Gaza: 21 Ribu Anak Tewas, Label ‘Rezim Pembunuh Bayi’ Israel Menguat
Rezim Israel tercatat sudah membunuh 21 ribu anak-anak Jalur Gaza selama 1.000 hari agresi militer. (REUTERS/Mahmoud Issa)
Newestindonesia.co.id, Memasuki hari ke-1.000 agresi militer yang dilancarkan oleh rezim Israel di Jalur Gaza, Palestina, korban jiwa dari kelompok paling rentan terus berjatuhan. Laporan terbaru yang dirilis oleh organisasi kemanusiaan internasional perlindungan anak, Save the Children, mengonfirmasi bahwa sedikitnya 21.000 anak-anak telah dipastikan tewas akibat serangan tanpa henti tersebut.
Angka tragis ini memicu gelombang kemarahan global yang semakin masif. Sejumlah warga dunia, termasuk di Amerika Serikat (AS)—yang secara historis merupakan sekutu dekat Israel—kini secara terang-terangan menjuluki Israel sebagai rezim pembunuh bayi akibat kekejian militer mereka di tanah Palestina.
Dunia Dinilai Gagal Melindungi Anak-Anak Gaza
Menandai momentum kelam 1.000 hari konflik, Save the Children mengungkapkan kenyataan pahit bahwa anak-anak di Gaza terus bermimpi tentang kedamaian, meskipun mereka telah kehilangan rumah, fasilitas sekolah, dan rasa aman yang mendasar. Kondisi psikologis dan fisik anak-anak di wilayah kantong tersebut berada di titik nadir.
Direktur Regional Save the Children untuk Timur Tengah, Afrika Utara, dan Eropa Timur, Ahmad Ahendawi, menyampaikan kritik tajam terhadap komunitas internasional yang dinilai pasif dalam menghentikan tragedi kemanusiaan ini.
“Setiap hari selama 1.000 hari terakhir, dunia telah mengecewakan satu juta anak di Gaza karena tidak campur tangan untuk menghentikan pembunuhan dan penganiayaan terhadap anak-anak,” ujar Ahmad Ahendawi, seperti dikutip dari Middle East Monitor.
Lembaga perlindungan anak tersebut membeberkan bahwa angka 21.000 anak yang tewas adalah jumlah yang sudah berhasil dipastikan dan diverifikasi. Kendati demikian, jumlah korban sebenarnya di lapangan kemungkinan besar jauh lebih tinggi. Hal ini dikarenakan masih banyak jenazah korban yang tertimbun di bawah reruntuhan bangunan akibat bom udara Israel yang belum bisa dievakuasi.
Lebih lanjut, dampak perang ini telah merenggut hak hidup dan masa depan generasi muda Gaza secara struktural. Berdasarkan data Save the Children, lebih dari 800.000 anak—atau setara dengan sekitar 80 persen dari total populasi anak-anak di Gaza—kini berstatus sebagai pengungsi yang hidup terlunta-lunta. Selain kehilangan tempat tinggal, sebanyak 625.000 anak usia sekolah di Gaza dipastikan telah kehilangan hak mengenyam pendidikan formal selama tiga tahun berturut-turut.
Di tengah kepahitan hidup yang mendalam, anak-anak Gaza yang menuturkan langsung kisah mereka kepada pihak Save the Children menggambarkan bahwa keseharian mereka diselimuti oleh ketakutan yang terus-menerus. Meski begitu, di bawah bayang-bayang trauma perang, mereka mengaku tetap berusaha memelihara harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Menguatnya Label ‘Pembunuh Bayi’ dan Tekanan di Amerika Serikat
Kekejaman yang terus berlangsung dalam agresi militer ini berdampak signifikan pada persepsi sosial global terhadap warga negara Israel. Label buruk terhadap Israel sebagai “rezim pembunuh para bayi” kian menguat dan mengakar di berbagai belahan dunia.
Fenomena penolakan ini bahkan mulai merembet ke Amerika Serikat, wilayah yang juga dihuni oleh banyak warga keturunan Israel. Akibat tindakan genosida yang dilakukan Zionis di Gaza, sejumlah pelancong atau warga Israel mulai mendapatkan penolakan dan dimusuhi oleh warga AS setempat.
Salah satu insiden nyata yang terekam kamera dan viral di media sosial terjadi di Oceanpoint Ranch di Cambria, California. Dua orang turis asal Israel mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari seorang karyawan hotel setempat yang melontarkan kecaman keras secara langsung. Keributan tersebut diduga terjadi pada bulan Mei lalu dan telah dikonfirmasi kebenarannya oleh juru bicara pihak hotel kepada media The New York Post.
Dalam rekaman video yang beredar, perselisihan verbal dipicu oleh kekecewaan pegawai hotel terhadap tindakan militer Israel di Gaza.
“Yang saya katakan hanyalah Palestina merdeka,” ujar karyawan hotel tersebut di awal video, merujuk pada bagian rekaman yang tidak memperlihatkan interaksi awal secara penuh antara dirinya dan tamu hotel.
Mendengar pernyataan itu, turis wanita asal Israel merespons dengan nada protes dan meminta karyawan tersebut bersikap profesional. Ia menyatakan bahwa karyawan tersebut harus “benar-benar objektif” terhadap tamu hotel dan menambahkan bahwa sang pegawai “seharusnya malu pada dirinya sendiri.”
Situasi semakin memanas ketika karyawan hotel tersebut menolak mundur dan justru melontarkan serangkaian pertanyaan retoris yang menyudutkan terkait identitas zionisme dan militeristik para turis.
“Apakah Anda seorang Zionis?” cecar karyawan hotel tersebut sembari menambahkan pertanyaan, “Apakah Anda seorang pembunuh bayi?” serta “Apakah Anda pernah bertugas di IDF (pasukan pertahanan Israel)?”
Insiden ini merefleksikan bagaimana konflik horizontal dan sentimen anti-Zionis kian meluas di tingkat akar rumput global sebagai respons langsung atas tewasnya puluhan ribu anak-anak di Gaza selama seribu hari terakhir.
(DAW)
