Tragis! Bidan Di Situbondo Dibunuh Suami, Jasad Ditemukan di Saluran Drainase
Foto: Chuk Shatu Widharsa/detikJatim)
Newestindonesia.co.id, Kasus kematian seorang bidan muda yang ditemukan tidak bernyawa di saluran drainase di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, akhirnya menemui titik terang. Setelah melakukan serangkaian penyelidikan, aparat kepolisian mengungkap bahwa korban ternyata menjadi korban pembunuhan yang diduga dilakukan oleh suaminya sendiri.
Peristiwa tragis tersebut sempat menggemparkan masyarakat Situbondo. Penemuan jasad korban di saluran drainase memunculkan berbagai spekulasi mengenai penyebab kematiannya. Namun hasil penyelidikan polisi mengarah pada dugaan kuat adanya tindak pidana pembunuhan yang dilakukan oleh orang terdekat korban.
Korban diketahui berprofesi sebagai bidan yang sehari-hari bertugas melayani masyarakat. Kepergiannya secara tragis mengejutkan keluarga, rekan kerja, hingga warga sekitar yang mengenalnya sebagai tenaga kesehatan yang aktif dan berdedikasi.
Polisi Ungkap Suami sebagai Pelaku
Berdasarkan hasil penyelidikan, polisi mengamankan suami korban yang diduga menjadi pelaku utama dalam kasus tersebut. Aparat kepolisian menyebut pelaku bahkan sempat menyerahkan diri kepada pihak berwajib setelah kejadian berlangsung.
Kapolres Situbondo menjelaskan bahwa setelah menerima pengakuan dari pelaku, petugas langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengumpulkan berbagai barang bukti guna mengungkap kronologi lengkap kasus tersebut.
“Terduga pelaku pembunuhan ini sudah diamankan di Polres Situbondo,” kata Kapolres Situbondo AKBP Andi Sinjaya dikutip melalui Antara Jatim.
Menurut polisi, penyidik masih mendalami motif yang melatarbelakangi aksi pembunuhan tersebut. Sejumlah saksi telah dimintai keterangan untuk memperjelas rangkaian peristiwa sebelum korban ditemukan meninggal dunia.
Korban Dikenal Sebagai Bidan yang Berdedikasi
Korban merupakan seorang bidan yang bertugas melayani masyarakat di wilayah Kecamatan Suboh, Situbondo. Selama ini korban dikenal aktif menjalankan tugasnya sebagai tenaga kesehatan di desa.
Pihak tempat korban bekerja mengaku sangat terkejut atas peristiwa tersebut. Rekan-rekan korban juga menyampaikan duka mendalam atas kehilangan tenaga kesehatan yang selama ini dikenal dekat dengan masyarakat.
Kepala Puskesmas Suboh, M. Maqfur, mengungkapkan bahwa korban sebelumnya pernah menyampaikan persoalan rumah tangga yang sedang dihadapinya.
“Seminggu lalu dia memang izin tidak ikut tim vaksin. Karena alasan akan mengurus persoalan dengan suaminya,” kata Maqfur.
Dugaan Motif Cemburu
Meski polisi masih mendalami motif secara resmi, pihak puskesmas menyebut korban sempat bercerita mengenai kondisi rumah tangganya kepada rekan kerja.
Menurut Maqfur, korban pernah mengungkapkan bahwa suaminya mengalami perubahan sikap setelah mengalami kecelakaan beberapa waktu sebelumnya. Kondisi tersebut diduga memicu rasa curiga dan kecemburuan berlebihan terhadap korban.
“Sekitar sebulan lalu pelaku kecelakaan dan mengalami gegar otak. Sejak saat itu, pelaku mengeluh sering sakit, termasuk perasaan kecurigaan berlebihan terhadap korban,” ujar Maqfur.
Informasi serupa juga pernah disampaikan oleh sejumlah pihak yang mengetahui kondisi rumah tangga korban. Dugaan sementara, pertengkaran yang terjadi antara korban dan pelaku menjadi pemicu terjadinya aksi kekerasan yang berujung hilangnya nyawa korban.
Polisi Masih Dalami Motif dan Kronologi
Hingga kini penyidik masih terus melakukan pemeriksaan intensif terhadap pelaku. Polisi juga menunggu hasil pemeriksaan forensik guna memastikan penyebab kematian korban serta memperkuat alat bukti dalam proses penyidikan.
Kapolres Situbondo menegaskan bahwa pihaknya akan mengusut tuntas kasus tersebut.
“Untuk motifnya sendiri kami masih terus mendalaminya, dan pelaku masih dilakukan pemeriksaan secara intensif oleh penyidik,” kata AKBP Andi Sinjaya.
Kasus ini kembali menjadi pengingat pentingnya penanganan konflik rumah tangga secara tepat guna mencegah terjadinya tindakan kekerasan yang dapat berujung pada hilangnya nyawa seseorang.
Sementara itu, masyarakat Situbondo berharap proses hukum berjalan transparan dan memberikan keadilan bagi korban serta keluarga yang ditinggalkan.
(DAW)