Newestindonesia.co.id, Situasi di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, berubah mencekam setelah bentrokan antarsuku pecah dan menelan korban jiwa. Konflik yang dipicu persoalan denda adat itu kini telah menyebabkan 13 orang meninggal dunia dan ratusan warga terpaksa mengungsi demi menyelamatkan diri.
Perang suku tersebut melibatkan kelompok masyarakat dari Suku Pirime (Lanny) dan Suku Kurima (Woma). Bentrokan berlangsung sejak Kamis hingga Jumat dan meluas ke sejumlah titik di wilayah Jayawijaya.
Berdasarkan data terbaru dari kepolisian, korban meninggal dunia terus bertambah seiring proses evakuasi dan pendataan di lapangan.
Kasi Humas Polres Jayawijaya, Ipda Efendi Al Husaini, mengatakan bahwa pihaknya masih terus melakukan pemantauan terhadap situasi keamanan serta jumlah korban yang terdampak konflik tersebut.
“Berdasarkan data update terbaru korban perang suku yang meninggal dunia 13 orang,” ujar Efendi kepada detikcom.
Selain korban tewas, sebanyak 19 orang dilaporkan mengalami luka-luka. Dari jumlah tersebut, tiga orang mengalami luka berat dan masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wamena.
“Korban luka berat berjumlah tiga orang. Sementara luka ringan berjumlah 16 orang,” katanya.
Ratusan Warga Mengungsi
Tidak hanya menimbulkan korban jiwa, perang suku tersebut juga memicu gelombang pengungsian besar-besaran. Warga yang ketakutan memilih meninggalkan rumah mereka dan mencari perlindungan di lokasi yang dianggap aman, termasuk kantor kepolisian.
Data kepolisian menyebut total pengungsi mencapai 789 orang. Mereka terdiri dari pria, wanita, anak-anak, hingga lanjut usia.
“Untuk pengungsi total 789 orang dengan rincian 298 anak-anak, 122 lansia. Sementara jumlah berdasarkan jenis kelamin 315 pria dan 476 wanita,” ungkap Efendi.
Sebelumnya, jumlah pengungsi sempat tercatat sebanyak 472 orang. Namun angka tersebut terus meningkat seiring meluasnya bentrokan di beberapa wilayah Jayawijaya.
Warga yang mengungsi mengaku takut kembali ke rumah karena situasi masih belum sepenuhnya kondusif. Aparat keamanan pun terus berjaga untuk mengantisipasi bentrokan susulan.
Dipicu Persoalan Denda Adat
Kapolda Papua, Irjen Patrige R Renwarin, menjelaskan bahwa konflik tersebut berawal dari persoalan lama terkait pembayaran denda adat akibat kecelakaan lalu lintas yang menewaskan seorang anggota DPRD Lanny Jaya pada tahun 2024.
Menurut Patrige, masalah lama yang belum terselesaikan itu kembali memanas setelah proses mediasi pembayaran denda adat mengalami kebuntuan.
“Konflik berawal dari pertikaian lama yang kembali memanas akibat persoalan denda adat pasca peristiwa kecelakaan lalu lintas yang menewaskan anggota DPR dari Lanny Jaya pada tahun 2024,” kata Patrige.
Dalam proses penyelesaian adat, kelompok masyarakat gabungan disebut telah membayar denda berupa uang Rp2 miliar dan 30 ekor babi kepada pihak keluarga korban. Namun, pembayaran tersebut dianggap tidak sesuai kesepakatan oleh salah satu pihak.
Akibat ketidakpuasan tersebut, situasi berubah menjadi aksi saling serang menggunakan senjata tajam tradisional dan panah.
“Denda yang dibayarkan oleh kelompok masyarakat gabungan tersebut tidak sesuai, sehingga menyebabkan ketidakpuasan, dan terjadilah aksi penyerangan,” ungkap pihak kepolisian.
Bentrokan Meluas dan Rumah Warga Dibakar
Konflik yang awalnya terjadi di Distrik Woma kemudian meluas ke sejumlah kawasan lain di Jayawijaya. Massa dari kedua kelompok terlibat bentrokan terbuka di beberapa titik.
Selain korban manusia, sejumlah rumah dan honai milik warga juga dilaporkan dibakar saat konflik berlangsung.
Pihak kepolisian menyebut proses pendataan kerusakan masih terus dilakukan karena kondisi keamanan di lapangan belum sepenuhnya stabil.
“Terjadi juga pembakaran beberapa rumah dan honai yang merupakan daerah pemukiman masyarakat setempat,” demikian keterangan kepolisian.
Video yang beredar di media sosial memperlihatkan suasana mencekam di Wamena. Sejumlah warga tampak berlarian menyelamatkan diri, sementara kelompok massa membawa senjata tradisional seperti busur panah dan parang.
Tragedi Tambahan di Jembatan Gantung
Di tengah konflik yang terjadi, tragedi lain juga menambah jumlah korban. Sebuah jembatan gantung di Kali UE dilaporkan roboh saat dilintasi massa.
Peristiwa itu menyebabkan sejumlah warga jatuh ke sungai dan hanyut terbawa arus.
“Tragedi bertambah setelah jembatan gantung di Kali UE roboh saat dilintasi massa, yang menyebabkan puluhan warga hanyut dan hilang,” kata Patrige.
Sebelumnya, Polres Jayawijaya juga melaporkan adanya korban jiwa akibat putusnya jembatan gantung Woume di Wamena. Proses pencarian terhadap korban sempat dilakukan oleh aparat gabungan.
Aparat Perketat Pengamanan
Pasca bentrokan, aparat kepolisian dan TNI diterjunkan untuk mengamankan sejumlah titik rawan konflik. Petugas juga berupaya melakukan pendekatan kepada tokoh masyarakat dan tokoh adat agar situasi tidak semakin meluas.
Kapolda Papua memastikan proses penegakan hukum tetap dilakukan, namun pendekatan budaya dan adat juga menjadi prioritas untuk meredam konflik berkepanjangan.
Hingga kini, aparat masih melakukan patroli serta penjagaan ketat di wilayah-wilayah yang dianggap rawan bentrokan susulan.
Pemerintah daerah juga mulai menyalurkan bantuan kepada warga yang mengungsi, terutama kebutuhan makanan, obat-obatan, dan perlindungan bagi anak-anak serta lansia.
Konflik antarsuku di Papua memang kerap dipicu persoalan adat yang tidak terselesaikan dengan baik. Karena itu, keterlibatan tokoh adat dan tokoh masyarakat dinilai menjadi kunci penting dalam proses perdamaian.
Masyarakat berharap situasi di Wamena segera kembali aman agar aktivitas warga dapat pulih dan para pengungsi bisa kembali ke rumah masing-masing tanpa rasa takut.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp


