Newestindonesia.co.id, Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran mengklaim sebanyak 52 kapal miliknya berhasil menerobos blokade laut yang diterapkan Amerika Serikat (AS) dalam kurun waktu 72 jam.
Laporan kantor berita Iran (30/4), Fars News Agency, menyebut kapal-kapal tersebut berhasil melintasi jalur pelayaran strategis meski AS memperketat pengawasan di kawasan Selat Hormuz.
Disebutkan bahwa armada yang berhasil melintas terdiri dari 31 kapal tanker minyak dan 21 kapal kargo. Data itu disebut berdasarkan pelacakan satelit selama tiga hari hingga Senin (27/4) pukul 22.00 waktu setempat.
Langkah Iran tersebut terjadi di tengah memanasnya konflik antara Teheran dengan Washington dan sekutunya. Situasi di Selat Hormuz menjadi perhatian dunia karena jalur tersebut merupakan salah satu rute distribusi energi paling vital di dunia.
Pemerintah Iran sebelumnya menegaskan bahwa tekanan dan blokade yang dilakukan AS tidak akan menghentikan aktivitas pelayaran maupun ekspor negaranya. Presiden Iran Masoud Pezeshkian bahkan menyebut blokade laut AS “pasti akan gagal”.
“Tidak hanya gagal meningkatkan keamanan regional, tetapi justru menjadi sumber ketegangan dan gangguan terhadap stabilitas yang langgeng di Teluk Persia,” kata Pezeshkian seperti dikutip media Iran.
Di sisi lain, Amerika Serikat tengah mengupayakan pembentukan koalisi internasional baru guna membuka kembali jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz. Pemerintahan Presiden Donald Trump disebut mengajak sejumlah negara untuk bergabung dalam operasi “Maritime Freedom Construct”.
Menurut laporan Wall Street Journal yang dikutip detikcom, koalisi itu akan difokuskan pada koordinasi diplomatik, berbagi informasi intelijen, dan pengamanan jalur maritim internasional.
Dalam dokumen diplomatik AS yang beredar, Washington menyerukan aksi kolektif guna memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
“Partisipasi Anda akan memperkuat kemampuan kolektif kita untuk memulihkan kebebasan navigasi dan melindungi ekonomi global,” demikian isi pesan diplomatik AS.
Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei menyebut masa depan kawasan Teluk akan “cerah tanpa AS”. Dalam pidatonya, ia juga menyinggung apa yang disebutnya sebagai “kekalahan memalukan” Amerika Serikat dalam konflik kawasan.
“Hari ini, dua bulan setelah pengerahan militer dan agresi terbesar oleh para pengganggu dunia di kawasan ini, dan kekalahan memalukan Amerika Serikat dalam rencananya, babak baru sedang berlangsung untuk Teluk Persia dan Selat Hormuz,” kata Khamenei.
Ketegangan di Selat Hormuz terus menjadi perhatian global karena sekitar seperlima pasokan minyak dunia sebelumnya melintasi jalur tersebut. Gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan itu memicu lonjakan harga energi dan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp


