Newestindonesia.co.id, Eropa kini menghadapi tantangan luar biasa: mempertahankan kedaulatan Ukraina dari agresi Rusia sekaligus menjaga kedaulatan Denmark atas Greenland dari tekanan politik dan ekonomi Amerika Serikat di era pemerintahan Donald Trump.
Selama empat tahun terakhir, para pemimpin Eropa bekerja keras mempertahankan kedaulatan Ukraina dari serangan Rusia melalui pernyataan tegas, panggilan darurat, dan pertemuan krisis.
Namun, pekan lalu gambaran itu berubah drastis: kini Eropa melakukan hal serupa untuk mempertahankan wilayah sekutu – Greenland – dari ancaman yang datang bukan dari Moskow, tetapi dari Washington.
Tarif dan Tekanan Washington: Luhnya Solidaritas Transatlantik
Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, menegaskan komitmen Eropa terhadap kedaulatan Denmark dan Greenland:
“Bersama kita tegak dalam komitmen untuk menjaga kedaulatan Greenland dan Kerajaan Denmark… kami akan menghadapi tantangan ini dengan keteguhan dan tekad,” seperti dikutip melalui EuroNews (21/1).
Ancaman Trump untuk memberlakukan tarif 10% terhadap delapan negara Eropa – termasuk Denmark, Prancis, Jerman dan Inggris – diyakini sebagai upaya untuk memaksa negosiasi jual-beli Greenland. Ini merupakan preseden yang belum pernah ada, yang menguji prinsip dasar pertahanan kolektif di Eropa.
Macron — Hubungan Ukraina & Greenland: Dua Front Keamanan
Presiden Prancis Emmanuel Macron secara jelas menghubungkan kedua isu:
“Tidak ada intimidasi atau ancaman yang akan memengaruhi kami — baik di Ukraina, maupun di Greenland, maupun di tempat lain di dunia…”
Komentar Macron mencerminkan kekhawatiran bahwa kredibilitas dan kepercayaan dalam aliansi transatlantik dapat runtuh jika Amerika Serikat tidak dianggap sebagai sekutu yang dapat diandalkan dalam isu kedaulatan negara lain.
Respon Lain dan Kekhawatiran NATO
Bukan hanya Paris yang bereaksi keras. Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, memperingatkan bahwa upaya Amerika Serikat untuk mengambil kontrol Greenland bisa menjadi “kematian bagi NATO” dan memberikan kemenangan besar bagi Presiden Rusia Vladimir Putin.
Dampak terhadap Keamanan Eropa dan Alat Balasan
Situasi ini memunculkan pertanyaan: dapatkah Eropa terus menyelaraskan strategi keamanannya – mulai dari pertahanan Ukraina sampai pemeliharaan kedaulatan negara anggota NATO – ketika sekutu utamanya di luar Atlantik sendiri mempertanyakan prinsip-prinsip itu?
Eropa, di bawah tekanan baru ini, dipaksa mempertimbangkan jalan yang sebelumnya dipandang mustahil: mempertahankan nilai-nilai dasarnya sambil menghadapi retorika dan kebijakan yang merusak kepercayaan.
(DAW)




You must be logged in to post a comment Login