Newestindonesia.co.id, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Biddokkes Polda Sulawesi Selatan telah menerima dua jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Kedua jenazah kini berada di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Makassar untuk proses identifikasi lebih lanjut.
Jenazah pertama yang diterima adalah seorang pria, korban yang pertama kali ditemukan tim SAR di jurang dengan kedalaman sekitar 200 meter dari puncak Gunung Bulusaraung. Korban ini ditemukan pada Minggu (18/1) lalu dan baru tiba di Lanud Hasanuddin Maros pada Rabu (21/1) pagi sebelum dibawa ke RS Bhayangkara Makassar menggunakan ambulans milik RSAU dr Dody Sardjoto.
Sementara itu, jenazah kedua yang diterima tim DVI merupakan pramugari, yang dievakuasi dari lokasi dengan medan berat dan tiba di RS Bhayangkara pada Selasa (20/1) malam sekitar pukul 22.28 WITA. Proses serah terima jenazah tersebut juga disaksikan oleh sejumlah keluarga korban yang hadir di lokasi.
Setibanya di rumah sakit, kedua jenazah langsung diserahkan ke tim DVI untuk post mortem dan proses identifikasi. Penanganan dilakukan sesuai standar internasional DVI, yang memadukan data antemortem dan postmortem untuk memastikan identitas dengan tepat.
Proses Identifikasi dan Tantangan Medis
Karo Dokpol Pusdokkes Polri, Brigjen Pol dr. Nyoman Eddy, menegaskan bahwa proses identifikasi korban akan mengutamakan ketepatan alih-alih kecepatan. Seluruh data keluarga korban (data antemortem) telah dikumpulkan dan sedang dicocokkan dengan temuan di jenazah.
“Kami tidak boleh salah dalam mengembalikan jenazah kepada keluarganya… ketepatan adalah yang utama,” ujar Nyoman dalam konferensi pers di Biddokes Polda Sulsel, Selasa malam.
Pusdokkes Polri juga telah menurunkan tim khusus yang terdiri dari dokter forensik, radiologi dan staf medis lain untuk mendukung proses pemeriksaan. Prosedur identifikasi korban dilakukan secara sistematis dan ketat sesuai standar DVI internasional.
Evakuasi Korban dan Upaya SAR
Proses evakuasi kedua jenazah memakan waktu karena medan ekstrem di kawasan hutan pegunungan Bulusaraung. Untuk korban pertama, tim SAR gabungan menggunakan heli Basarnas setelah awalnya evakuasi dilakukan dari dasar jurang ke punggungan Lampeso.
“Alhamdulillah, cuaca hari ini mendukung untuk dilakukan evakuasi, maka dari itu Dolphin dari Basarnas (Heli) HR-3601 berangkat ke Lampeso…” kata Kasi Operasi Basarnas Makassar Andi Sultan kepada wartawan.
Masih Ada Korban Lain yang Dicari
Pesawat ATR 42-500 itu hilang kontak pada 17 Januari 2026 saat melaksanakan rute dari Yogyakarta menuju Makassar membawa 10 orang — tiga penumpang dan tujuh kru. Hingga saat ini tim SAR masih mencari delapan korban lain yang belum ditemukan.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login