Newestindonesia.co.id, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa pasukan militer AS telah melakukan “serangan berskala besar” terhadap Venezuela dan berhasil menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, bersama istrinya, Cilia Flores, kemudian diterbangkan keluar dari negara itu pada Sabtu (3/1) dini hari waktu setempat.
Trump menyampaikan pernyataannya melalui unggahan di platform media sosialnya, Truth Social, mengatakan bahwa operasi itu “dilaksanakan bersama dengan penegak hukum AS” dan bahwa detail lebih lanjut akan diungkapkan pada konferensi pers di Mar-a-Lago.
Serangan Militer dan Penangkapan
Menurut laporan media AS, peristiwa tersebut diawali dengan serangkaian ledakan dan serangan udara di Caracas, ibu kota Venezuela, pada Sabtu pagi, diikuti operasi darat cepat oleh unit militer elite AS yaitu Delta Force, yang juga dikenal karena operasi internasional sebelumnya.
Trump menegaskan bahwa operasi itu berhasil “menangkap pemimpin Venezuela dan menerbangkannya keluar dari negaranya.”
Konteks dan Tuduhan AS terhadap Maduro
Langkah ini merupakan puncak dari ketegangan antara AS dan Venezuela yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir, termasuk:
- Tuduhan AS bahwa Maduro menjalankan negara narkoba internasional dan Tuduhan “narco-terrorisme” yang sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu.
- Peningkatan tekanan AS lewat penempatan militer di wilayah Karibia, serangan terhadap kapal yang dituduh terlibat perdagangan narkotika, hingga sanksi ekonomi yang intens.
Pejabat AS menyatakan bahwa setelah penangkapan, Maduro akan dihadirkan di pengadilan federal di AS atas tuduhan pidana, meskipun rincian lengkap tentang tempat dan jenis tuduhan belum diumumkan secara resmi.
Reaksi Pemerintah Venezuela
Pemerintah Venezuela menolak klaim AS. Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez, dalam siaran televisi menyatakan bahwa lokasi dan kondisi Maduro dan istrinya belum jelas, dan menuntut “bukti kehidupan” sebagai tanggapan atas klaim penangkapan tersebut.
Sementara itu, Presiden Maduro sebelumnya sudah menyatakan keadaan darurat nasional setelah serangan udara terhadap wilayah Venezuela dan menyebut tindakan AS sebagai “agresi luar negeri.”
Pendukung Maduro juga turun ke jalan, menggelar aksi di luar Istana Miraflores sebagai bentuk protes terhadap operasi militer AS.
Reaksi Internasional
Klaim penangkapan Maduro telah memicu kecaman dari sejumlah negara dan organisasi internasional:
- Brasil menyebut tindakan tersebut “garis yang tidak dapat diterima.”
- Meksiko memperingatkan bahwa operasi ini mengancam stabilitas regional.
- China dan Kuba mengecam serangan itu sebagai pelanggaran kedaulatan.
- Uni Eropa menekankan pentingnya menghormati Piagam PBB meskipun menyatakan keabsahan demokrasi di Venezuela diragukan.
Dampak dan Ketidakpastian Kebijakan Global
Operasi militer AS di Venezuela menandai eskalasi terbesar campur tangan AS di Amerika Latin sejak invasi Panama pada 1989 dan menimbulkan pertanyaan serius mengenai norma hukum internasional serta batas otoritas eksekutif dalam penggunaan kekuatan.
Pakar hubungan internasional memperkirakan dampaknya mencakup:
- Ketegangan baru di Dewan Keamanan PBB, dengan beberapa negara menuntut diskusi mendesak.
- Fluktuasi di pasar minyak global karena kekacauan politik di negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia.
- Risiko konflik berkepanjangan jika pihak oposisi dan loyalis Maduro tidak mencapai solusi politik cepat.
Peristiwa yang kini tengah berkembang ini — berupa serangan militer AS di Venezuela dan penangkapan Presiden Nicolás Maduro — merupakan perubahan dramatis dalam geopolitik hemisfer barat. Tindakan ini dipenuhi kontroversi, dengan klaim yang belum sepenuhnya diverifikasi oleh pihak ketiga dan resistensi keras dari pemerintah Caracas serta reaksi global yang luas.
Editor: DAW



